1000 Tahun Manusia Dalam Kesesatan Dan Kegelapan

SHARE:

Ketersesatan yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah “kesalahan dalam memahami konsep petunjuk Allah (Dienullah) serta kesalahan dalam menjalani dan membangun kehidupan berdasarkan konsep tersebut, namun yang bersangkutan merasa telah memahami dan menjalaninya”.

1000-tahun-manusia-dalam-kesesatan-dan-kegelapan

Perlu dipahami terlebih dulu bahwa yang dimaksud ketersesatan yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah “kesalahan dalam memahami konsep petunjuk Allah (Dienullah) serta kesalahan dalam menjalani dan membangun kehidupan berdasarkan konsep tersebut, namun yang bersangkutan merasa telah memahami dan menjalaninya”.

Ibarat seseorang yang menempuh perjalan menuju suatu tempat yang belum dikenalnya, ia berbekal sebuah peta/panduan. Tapi ternyata ia tidak bisa atau salah memahami panduan tersebut atau salah menjalaninya. Maka ia tersesat, terjebak dalam kebingungan, dan baru sadar bahwa ia berada di tempat yang sangat jauh dari yang sebenarnya ia tuju.

Bagi mereka yang mengimani eksistensi Allah dan mengimani kehidupan akhirat, memahami Dienullah secara benar (haqiqi) dan yaqin (terbukti) serta menjalaninya dengan selurus-lurusnya adalah hal yang mutlak diperlukan tanpa ada tawar menawar. Hal ini karena setiap individu manusia, percaya atau tidak percaya, suka atau tidak suka, semua akan menjalani kehidupan akhirat dengan menanggung sendiri akibat dari kehidupan yang dijalaninya di dunia ini.

Banyak orang yang tidak peduli kepada pedoman atau petunjuk dari Allah karena lebih dulu merasa tidak mampu memahami. Maka mereka merasa cukup dengan mengikuti atau meniru orang lain saja yang dianggapnya sudah mengerti.

Mereka yang demikian itu mesti waspada, karena jika kelak di Hari Akhir mereka baru menyadari bahwa yang selama ini mereka ikuti itu ternyata salah (tersesat), tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki, mengulangi, menebus dan sebagainya. Sementara yang mereka ikuti pun tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya akan menuai penyesalan dan adzab selama-lamanya.

إِذۡ تَبَرَّأَ ٱلَّذِينَ ٱتُّبِعُواْ مِنَ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُواْ وَرَأَوُاْ ٱلۡعَذَابَ وَتَقَطَّعَتۡ بِهِمُ ٱلۡأَسۡبَابُ (١٦٦) وَقَالَ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُواْ لَوۡ أَنَّ لَنَا كَرَّةً۬ فَنَتَبَرَّأَ مِنۡہُمۡ كَمَا تَبَرَّءُواْ مِنَّا‌ۗ كَذَٲلِكَ يُرِيهِمُ ٱللَّهُ أَعۡمَـٰلَهُمۡ حَسَرَٲتٍ عَلَيۡہِمۡ‌ۖ وَمَا هُم بِخَـٰرِجِينَ مِنَ ٱلنَّارِ
  • Ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.
  • Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya Kami dapat kembali (ke dunia), pasti Kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami. "Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya berbuah penyesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka. (Al Baqoroh : 166-167)
Dalam hal ini Allah mengingatkan bahwa apabila orang yang diikuti itu pemahaman dan pengamalannya sama seperti kebanyakan orang, mereka pasti akan menyesatkan.

وَإِن تُطِعۡ أَڪۡثَرَ مَن فِى ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ‌ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنۡ هُمۡ إِلَّا يَخۡرُصُونَ

"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang yang ada di muka bumi ini, pasti mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah mengada-adakan kebohongan (kepalsuan)". (Al An’am : 116)

Kalamullah di atas itu begitu jelas, tegas, dan kebenarannya mutlak. Namun tetap saja banyak orang yang mengabaikan, bahkan melawannya. Respon mereka biasanya adalah “Ah, masa sih?! Nggak mungkin itu” atau yang lain semisalnya. Atau banyak juga yang berusaha mengelak dengan berbagai dalih lainnya.

Tentang yang demikian itu Allah mengingatkan pula:

وَٱتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَأَ ٱلَّذِىٓ ءَاتَيۡنَـٰهُ ءَايَـٰتِنَا فَٱنسَلَخَ مِنۡهَا فَأَتۡبَعَهُ ٱلشَّيۡطَـٰنُ فَكَانَ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ

Dan bacakanlah kepada mereka berita tentang orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami kemudian dia melepaskan diri (berkelit) dari pada ayat-ayat itu, lalu syetan menyeret dia menjadi pengikutnya, maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. (Al A’rof : 175)

Demikianlah diantara faktor yang sangat dominan yang menyebabkan ketersesatan manusia, yakni merasa cukup dengan mengikuti (tidak menyalahi) orang banyak.

Faktor lainnya yang lebih berat lagi adalah:

Pengamatan dan penalaran kebanyakan manusia (pikiran dan perasaannya) terbelenggu dan terkungkung seperti binatang ternak, BAHKAN LEBIH PARAH LAGI.

وَلَقَدۡ ذَرَأۡنَا لِجَهَنَّمَ ڪَثِيرً۬ا مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ‌ۖ لَهُمۡ قُلُوبٌ۬ لَّا يَفۡقَهُونَ بِہَا وَلَهُمۡ أَعۡيُنٌ۬ لَّا يُبۡصِرُونَ بِہَا وَلَهُمۡ ءَاذَانٌ۬ لَّا يَسۡمَعُونَ بِہَآ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ كَٱلۡأَنۡعَـٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡغَـٰفِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka) Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (petunjuk Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (bukti-bukti kebenaran), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (peringatan Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka Itulah orang-orang yang lalai. (Al A’rof : 179)

Lebih sesat dari binatang ternak?!

Binatang yang hidup di alam bebas sekalipun (bukan ternak yang dikurung), pergerakan mereka tidak pernah melanggar batas-batas yang Allah tetapkan, yaitu habitatnya masing-masing. Mereka tidak pernah mau keluar dari habitat yang Allah tetapkan bagi mereka, apalagi binatang ternak yang dikurung dalam kandang. Sedangkan manusia, paradigma dan kesepakatan yang dibuat segolongan dari mereka, benar-benar membelenggu dan mengungkung pikiran mereka selama berabad-abad. Mereka tidak mau mengembangkan pengamatan dan penalarannya pada medan dan objek yang Allah sediakan, karena telah dikungkung tembok paradigma yang ditetapkan para “ulama”. Sedangkan batas-batas bagi pengamatan dan penalaran mereka yang ditetapkan Allah (karena memang manusia itu penuh keterbatasan), mereka tentang dan mereka langgar habis-habisan.

أَوَلَمۡ يَرَ ٱلۡإِنسَـٰنُ أَنَّا خَلَقۡنَـٰهُ مِن نُّطۡفَةٍ۬ فَإِذَا هُوَ خَصِيمٌ۬ مُّبِينٌ۬

Dan Apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata! (Ya Sin : 77)

Allah telah menetapkan tiga dimensi pembatas bagi manusia dalam menulusuri kebenaran/petunjuk Allah.

1. Pembatas dimensi pertama: Membatasi Objek Kajian

Objek kajian untuk mendapatkan kebenaran hanya Ayat-ayat Allah saja.

Yang boleh dijadikan sumber kajian dalam mengakses petunjuk Allah (kebenaran) hanyalah Ayat-ayat Allah, yaitu bukti-bukti dan fakta-fakta dari eksistensi Allah.

Kebenaran itu dari Allah. Terbaca dari Mahakarya-Nya berupa alam semesta dengan segala isi dan fenomenanya, yang secara jelas dan terang menggambarkan kesucian, kemulian dan kebesaran Asma-Nya. Kemudian untuk mencegah manusia dari kekeliruan, kesalahan dan kelengahan dalam mengakses kebenaran (Al Haq) dari Karya-nyata-Nya itu, Allah menurunkan petunjuk berupa Kalam-Nya, yang kita mendapatinya sudah tertulis sebagai Al Kitab (Al Quran Kitabullah).

Sempurnalah sudah konsep kebenaran dari Allah. Tak seorangpun berhak mengubah menambah atau mengotak-atiknya dengan tangan jahilnya, dengan alasan apapun.

وَتَمَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدۡقً۬ا وَعَدۡلاً۬‌ۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَـٰتِهِۦ‌ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

Telah sempurnalah Kalimah Tuhanmu (Konsep/Ilmu/ kebenaran) sebagai (Konsep) yang benar dan adil. tidak ada yang (dapat/boleh) mengubah-ubah Kalimah-Nya itu, dan Dia lah yang Maha Mendengar lagi Maha mengetahui. (Al An’am : 115)

حمٓ (١) تَنزِيلُ ٱلۡكِتَـٰبِ مِنَ ٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَكِيمِ (٢) إِنَّ فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ لَأَيَـٰتٍ۬ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ (٣) وَفِى خَلۡقِكُمۡ وَمَا يَبُثُّ مِن دَآبَّةٍ ءَايَـٰتٌ۬ لِّقَوۡمٍ۬ يُوقِنُونَ (٤) وَٱخۡتِلَـٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّہَارِ وَمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن رِّزۡقٍ۬ فَأَحۡيَا بِهِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا وَتَصۡرِيفِ ٱلرِّيَـٰحِ ءَايَـٰتٌ۬ لِّقَوۡمٍ۬ يَعۡقِلُونَ (٥) تِلۡكَ ءَايَـٰتُ ٱللَّهِ نَتۡلُوهَا عَلَيۡكَ بِٱلۡحَقِّ‌ۖ فَبِأَىِّ حَدِيثِۭ بَعۡدَ ٱللَّهِ وَءَايَـٰتِهِۦ يُؤۡمِنُونَ

  • Haa Miim.
  • Kitab (ini) diturunkan dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
  • Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat ayat-ayat (bukti-bukti kebenaran) bagi orang-orang yang beriman.
  • Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat ayat-ayat (bukti-bukti kebenaran) untuk kaum yang yakin,
  • Dan pada pergantian malam dan siang dan karunia yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan itu bumi sesudah matinya; dan pada pengisaran angin terdapat ayat-ayat (bukti-bukti kebenaran) bagi kaum yang menggunakan akal.
  • Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan kebenaran; Maka dengan keterangan mana lagi mereka akan beriman sesudah (selain) Allah dan ayat-ayat-Nya. (Al Jatsiyah : 1-6)
Demikianlah pembatas pertama yang mutlak dari Allah, bahwa yang sah dijadikan sumber informasi kebenaran hanyalah Ayat-ayat Allah saja, yakni segala apa yang ada dan terjadi pada ruang dan waktu, itulah karya Allah, dan apa yang termaktub dalam Al Quran, itulah Kalamullah.

Untuk selanjutnya, apapun yang dinyatakan manusia atau diduga sebagai suatu kebenaran harus dapat dirujuk pada kedua situs milik Allah tadi. Jika tidak, maka itu hanyalah fiksi, kebohongan yang diada-adakan.

Namun apa yang dilakukan kebanyakan manusia? Mereka berpaling dari ayat-ayat Allah tadi, mereka lebih bangga dengan karya (konsep rekaan) manusia, sedangkan Kitabullah mereka campakkan kebelakang.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُواْ بَلۡ نَتَّبِعُ مَآ أَلۡفَيۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآ‌ۗ أَوَلَوۡ كَانَ ءَابَآؤُهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ شَيۡـًٔ۬ا وَلَا يَهۡتَدُونَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka berkata: "(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (kebiasaan) nenek moyang kami". (Apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak menggunakan akal sedikitpun, dan tidak mengikuti petunjuk ?". (Al Baqoroh : 170)

وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡہِمۡ ءَايَـٰتُنَا بَيِّنَـٰتٍ۬ مَّا كَانَ حُجَّتَہُمۡ إِلَّآ أَن قَالُواْ ٱئۡتُواْ بِـَٔابَآٮِٕنَآ إِن كُنتُمۡ صَـٰدِقِينَ

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, tidak ada bantahan mereka selain mengatakan: "Datangkanlah bapak-bapak kami jika kamu adalah orang-orang yang benar." (Al Jatsiyah : 25)

وَإِن كَانُواْ لَيَقُولُونَ (١٦٧) لَوۡ أَنَّ عِندَنَا ذِكۡرً۬ا مِّنَ ٱلۡأَوَّلِينَ (١٦٨) لَكُنَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ (١٦٩) فَكَفَرُواْ بِهِۦ‌ۖ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ

  • Dan mereka pasti akan berkata:
  • "Kalau saja pada kami ada suatu ajaran dari orang-orang dahulu,
  • Pastilah kami jadi hamba Allah yang dimurnikan (dari kebathilan)”.
  • Maka merekapun mengingkarinya (Al Quran); Maka kelak mereka akan mengetahui. (Ash Shoffat : 167-170)
Allah menetapkan batas dengan tegas bahwa hanya Ayat-ayat Allah saja yang boleh dibaca dan ditelaah untuk mengakses kebenaran. Namun dengan tegas pula kebanyakan manusia melanggarnya.

Mereka lebih bangga dan lebih ketergantungan kepada apa yang biasa diajarkan dan dilakukan oleh orang-orang dahulu, ketimbang tunduk kepada ayat-ayat Allah (fakta-fakta kebenaran) yang senantiasa hadir secara segar dan aktual terpampang nyata di hadapan mereka (baina ladaihim) sepanjang zaman.

2. Pembatas dimensi kedua: Membatasi medan pengamatan dan penalaran

JANGAN MERAMBAH WILAYAH GAIB

Hanya Allah saja satu-satunya yang mengetahui hal-hal yang gaib. Maka keterangan tentang apapun yang bersifat gaib, hanya sah sebagai kebenaran jika terbukti sebagai keterangan dari Allah. Jika Allah memandang perlu manusia mengetahuinya, Allah akan memberitakannya dalam Al Quran. Jika Allah tidak memberitakannya, berarti dalam pandangan Allah, manusia tidak perlu mengetahuinya, maka tidak perlu pula manusia mencari tahu.

Dengan demikian, hal-hal yang gaib adalah berada di luar batas pengamatan dan penalaran manusia.

وَعِندَهُ ۥ مَفَاتِحُ ٱلۡغَيۡبِ لَا يَعۡلَمُهَآ إِلَّا هُوَ‌ۚ

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri... ( Al An’am : 59 )

قُل لَّا يَعۡلَمُ مَن فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلۡغَيۡبَ إِلَّا ٱللَّهُ‌ۚ

Katakanlah: "tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah” (An Naml : 65)

Petunjuk Allah di atas begitu tegas dan jelas, tapi kemudian menjadi kabur dalam pandangan manusia karena mereka salah memahami apa yang dimaksud dengan “perkara yang gaib” itu. Mereka mengatakan bahwa perkara gaib itu adalah dunia metafisik, hal-hal yang berada di “alam sana” seperti alam kubur, alam akhirat, alam “arwah”, makhluk halus dan sebagainya.

Padahal di berbagai ayat Al Quran Allah menunjukkan bahwa hal yang gaib itu adalah: “segala sesuatu yang berada di luar jangkauan penginderaan manusia karena berada di tempat lain atau terjadi di lain waktu”.

Berikut ini beberapa keterangan dari Allah yang menjelaskan tentang hal itu.

وَتَفَقَّدَ ٱلطَّيۡرَ فَقَالَ مَا لِىَ لَآ أَرَى ٱلۡهُدۡهُدَ أَمۡ ڪَانَ مِنَ ٱلۡغَآٮِٕبِينَ

Dan dia (Nabi Sulaiman) memeriksa burung-burung lalu berkata: "Mengapa aku tidak melihat hud-hud, Apakah Dia termasuk yang gaib (tidak hadir) ?. (An Naml : 20)

Nabi Sulaiman menanyakan apakah Hud-hud gaib, karena dia tidak melihatnya hadir.

ذَٲلِكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡغَيۡبِ نُوحِيهِ إِلَيۡكَ‌ۚ وَمَا كُنتَ لَدَيۡهِمۡ إِذۡ يُلۡقُونَ أَقۡلَـٰمَهُمۡ أَيُّهُمۡ يَكۡفُلُ مَرۡيَمَ وَمَا ڪُنتَ لَدَيۡهِمۡ إِذۡ يَخۡتَصِمُونَ

Yang demikian itu (kisah tentang Maryam dan Nabi Zakariya) adalah sebagian dari berita-berita ghaib yang Kami wahyukan kepada kamu (Muhammad); dan kamu tidak hadir beserta mereka, ketika mereka menggunakan pena-pena mereka (untuk memutuskan) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa. (Ali Imron : 44)

Nabi Zakariya dan Maryam bukanlah “makhluk gaib” atau hidup di “alam gaib”. Tapi kisah dari kehidupan mereka diberitakan Allah kepada Nabi Muhammad sebagai berita tentang hal yang gaib, karena Rosulullah Muhammad tidak hadir (hidup) bersama merteka (terjadi di masa lampau).

تِلۡكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡغَيۡبِ نُوحِيہَآ إِلَيۡكَ‌ۖ مَا كُنتَ تَعۡلَمُهَآ أَنتَ وَلَا قَوۡمُكَ مِن قَبۡلِ هَـٰذَا‌ۖ فَٱصۡبِرۡ‌ۖ إِنَّ ٱلۡعَـٰقِبَةَ لِلۡمُتَّقِينَ

Itu (kisah Nabi Nuh) adalah di antara berita-berita penting tentang yang gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah; Sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (Hud : 49)

Kisah Nabi Nuh pun termasuk perkara gaib karena terjadi di masa lampau. Maka Rosulullah dan siapapun yang lainnya tidak akan pernah mengetahuinya sebelum Allah memberitahukannya dalam Al Quran ini.

سَيَقُولُونَ ثَلَـٰثَةٌ۬ رَّابِعُهُمۡ كَلۡبُهُمۡ وَيَقُولُونَ خَمۡسَةٌ۬ سَادِسُہُمۡ كَلۡبُہُمۡ رَجۡمَۢا بِٱلۡغَيۡبِ‌ۖ وَيَقُولُونَ سَبۡعَةٌ۬ وَثَامِنُہُمۡ ڪَلۡبُہُمۡ‌ۚ قُل رَّبِّىٓ أَعۡلَمُ بِعِدَّتِہِم مَّا يَعۡلَمُهُمۡ إِلَّا قَلِيلٌ۬‌ۗ فَلَا تُمَارِ فِيہِمۡ إِلَّا مِرَآءً۬ ظَـٰهِرً۬ا وَلَا تَسۡتَفۡتِ فِيهِم مِّنۡهُمۡ أَحَدً۬ا

Nanti akan (ada orang yang) mengatakan (bahwa mereka) adalah tiga orang yang keempat anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: "(jumlah mereka) adalah lima orang yang keenam adalah anjing nya", sebagai terkaan terhadap hal yang gaib; dan (yang lain lagi) mengatakan: "(jumlah mereka) tujuh orang, yang ke delapan adalah anjingnya". Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui mereka kecuali sedikit". Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu meminta fatwa (pendapat) tentang mereka (pemuda-pemuda ”Ashhabul Kahfi” itu) kepada seorangpun di antara mereka. (Al Kahfi : 22)

Unjuk pendapat tentang apa yang terjadi di masa lampau (hal yang gaib) di luar apa yang diterangkan Allah, hanyalah tebakan atau dugaan belaka. Allah melarang memperdebatkan hal yang demikian itu, bahkan melarang minta pendapat (fatwa) kepada siapapun tentang yang demikian (gaib) itu karena hanya Allah yang mengetahuinya.

Di ayat lain Allah menegaskan pula bahwa yang namanya dugaan/ persangkaan itu tak berguna sedikitpun untuk mencapai kebenaran.

وَمَا يَتَّبِعُ أَكۡثَرُهُمۡ إِلَّا ظَنًّا‌ۚ إِنَّ ٱلظَّنَّ لَا يُغۡنِى مِنَ ٱلۡحَقِّ شَيۡـًٔا‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِمَا يَفۡعَلُونَ

Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak berguna sedikitpun untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka lakukan. (Yunus : 36)

Tetapi apa yang kemudian dilakukan kebanyakan manusia untuk mengetahui kebenaran? Mereka justru mengabaikan ayat-ayat Allah yang nyata terpampang di hadapan mereka. Mereka lebih sibuk bertengkar, berselisih tentang apa yang dilakukan dan diajarkan oleh orang-orang pada zaman dahulu, belasan abad yang lalu. Mereka tidak sadar dan tidak peduli bahwa hal yang demikian itulah yang menyebabkan perselisihan dan perpecahan yang sangat dibenci Allah serta diancam adzab yang besar.

وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَٱخۡتَلَفُواْ مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلۡبَيِّنَـٰتُ‌ۚ وَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ لَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٌ۬

Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang terpecah-belah dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. (Ali Imron : 105)

Jika kehidupan Nabi Nuh, Nabi Zakariya, Maryam, Ashhabul Kahfi, Allah nyatakan dengan jelas bahwa semua itu adalah hal yang gaib bagi Nabi Muhammad yang hidup beberapa abad sesudahnya, maka tentunya kehidupan Rosulullah Muhammad itu pun adalah hal yang gaib bagi kita manusia yang hidup hari ini, belasan abad sesudahnya.

Maka berlaku pulalah segala ketetapan Allah tentang hal gaib tadi yaitu.
  • Tidak ada yang bisa mengetahuinya jika Allah tidak memberitahukannya dalam Al Quran
  • Dilarang memperdebatkannya
  • Dilarang minta pendapat kepada siapapun tentang hal itu.
Orang yang merasa mendapat pengetahuan tentang hal yang gaib itu, sebenarnya tidak lebih dari sekedar terkaan, persangkaan dan dugaan, yang sama sekali tidak ada pengakuan sedikitpun dari Allah sebagai suatu kebenaran.

Lalu bagaimana mungkin Ajaran Islam, konsep Dienullah yang suci, tinggi dan agung harus didasarkan kepada berita-berita tentang kehidupan Rosul dan orang-orang dahulu yang tergolong gaib dan tidak bisa diketahui siapapun selain Allah?

Kalaupun itulah yang terjadi dan telah mapan selama belasan abad, yakinlah bahwa itu bukan dari Allah melainkan rekaan dan kesepakatan sebagian manusia. Maha Suci Allah dari segala bentuk ketimpangan dan error.

Demikianlah pembatas dimensi kedua yang Allah tetapkan menyangkut medan pengamatan dan penalaran, dilanggar habis oleh kebanyakan manusia. Hewan liar sekalipun tidak pernah melakukan hal itu (keluar dari habitatnya), terlebih lagi hewan ternak.

Maka pantaslah Allah menyebutnya sebagai “lebih sesat dari binatang ternak”, karena manusia memilih terkungkung dalam kandang doktrin dan ajaran karya manusia lainnya, sedangkan di sisi lain berani menerobos batasan-batasan ketetapan dari Allah Sang Pencitanya.

3. Pembatas dimensi ketiga: Membatasi subjek yang bisa mengambil pelajaran, yaitu:

Tidak ada yang bisa mengambil pelajaran kecuali Ulul Albaab

Berulang kali Allah menegaskan bahwa segmen manusia yang bisa mengambil pelajaran (dari situs milik Allah berupa ayat-ayat-Nya) hanyalah Ulul Albab. Sekali lagi: Hanyalah Ulul Albab.

Jika Allah menyatakan “hanya”, maka itu adalah mutlak. Tidak ada lagi yang lainnya dan tidak bisa ditawar, dibantah, diotak-atik atau bahkan ditolak

يُؤۡتِى ٱلۡحِڪۡمَةَ مَن يَشَآءُ‌ۚ وَمَن يُؤۡتَ ٱلۡحِڪۡمَةَ فَقَدۡ أُوتِىَ خَيۡرً۬ا ڪَثِيرً۬ا‌ۗ وَمَا يَذَّڪَّرُ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ

Allah memberi hikmah (pelajaran yang didapat dari mentafakuri apa yang ada dan terjadi) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Barangsiapa yang diberi hikmah, ia benar-benar telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada (yang dapat) mengambil pelajaran kecuali Ulul Albab. (Al Baqoroh : 269)

وَٱلرَّٲسِخُونَ فِى ٱلۡعِلۡمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلٌّ۬ مِّنۡ عِندِ رَبِّنَا‌ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ

…dan orang-orang yang lekat (mantap) dalam ilmu (kebenaran) berkata: "Kami beriman kepada Al Kitab itu, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran melainkan Ulul Albaab. (Ali Imron : 7).

أَفَمَن يَعۡلَمُ أَنَّمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَ ٱلۡحَقُّ كَمَنۡ هُوَ أَعۡمَىٰٓ‌ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ

Apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu kebenaran sama dengan orang yang buta? Hanyalah Ulul Albab saja yang dapat mengambil pelajaran. (Ar Ro’du : 19)

Pada ayat yang terakhir di atas (Ar Ro’du : 19) jelas Allah nyatakan pula bahwa kebenaran itu bukanlah hal yang dipahami secara buta (hanya membenarkan apa yang didengar atau diceritakan saja), melainkan semua bukti kebenaran itu dapat ditunjukkan secara visual (baca : inderawi), termasuk Kalamullah, hanya yang benar-benar termaktub dan terbaca dalam Al Quran. Dan Al Quran itu sendiri pun telah mengandung bukti bahwa ia benar-benar Kalam (sabda) dari Dia Sang Pencipta, Pemilik dan Penguasa alam semesta ini. Dan karenanya, Allah telah menantang manusia untuk membuktikannya. Dengan demikian kadar kebenaran keterangan Al Quran itu sama dengan fakta, bahkan merupakan kebenaran haqiqi yang belum terkandung pada fakta inderawi.

Demikian jelasnya pembatas yang Allah pancangkan bahwa yang dapat mengambil pelajaran dari Ayat-ayat Allah itu hanyalah Ulul Albab. Maka siapapun yang merasa mendapat atau berhasil mengakses butiran-butiran ilmu / kebenaran yang dari Allah itu, apalagi jika kemudian mengajarkannya kepada ortang lain, haruslah bisa memastikan diri terlebih dahulu bahwa dirinya termasuk kategori Ulul Albab yang Allah sebutkan itu. Jika tidak, maka tidak ada pengakuan dari Allah bahwa yang ia dapatkan itu suatu kebenaran, sebab yang diakui Allah sebagai yang bisa memahami kebenaran hanyalah Ulul Albaab.

Tapi lagi-lagi pembatas itu menjadi kabur bahkan lenyap sama sekali bagi penglihatan manusia, karena para penerjemah Al Quran menerjemahkan kata Ulul Albab tersebut dengan frase “orang-orang yang berakal”. Lenyap sudah batas tersebut dari pandangan manusia, karena frase “orang-orang yang berakal” itu bukanlah pembatas sama sekali, karena semua manusia, asal bukan orang gila, pasti berakal.

Akibatnya semua orang merasa berhak, punya akses dan mampu memahami Al Haq, bahkan mengeluarkan fatwa dan mengajari orang lain. Seingga begitu mudah orang mendapatkan sebutan elit keagamaan Islam seperti ustad, kyai, ulama dan sebagainya. Suatu fenomena yang sungguh tidak layak bagi suatu konsep Dienullah yang suci dan agung.

Padahal Ulul Albaab adalah segmen manusia yang amat langka, bahkan sudah punah (fatrah) selama berabad-abad.

Frase “Ulul Albab” adalah sebuah istilah atau sebutan yang semestinya tidak diterjemahkan. Sebab Allah telah menggunakan frase tersebut sebagai sebuah sebutan definitif dengan menguraikan secara rinci dan jelas ciri-ciri karateristik dan kriterianya. Sehingga tanpa menerjemahkannya kita dapat memahami siapakah atau orang yang bagaimanakah yang Allah maksud Ulul Albab itu.

Kalaupun akan diterjemahkan “Al Albaab” itu bukan sekedar akal, melainkan “Al ‘Aqlul Kholish” “Akal yang murni yakni akal yang pure (baca : pyur) dari Allah yang sistem kinerjanya hanya berdasarkan sistem (fithrah) yang telah Allah instalkan padanya. Tidak dipengaruhi (terbebas) dari “software” apapun produk manusia berupa doktrin, isme, ideologi, paradigma, opini dan apapun sebagainya, dan tidak juga dipengaruhi virus-virus hawa nafsu (baghyu), suatu tumpangan kepentingan, baik dari dirinya sendiri maupun dari orang lain yang mungkin bisa mempengaruhi.

Sungguh sulit mencari kata yang tepat untuk menerjemahkan kata Al Albaab. Maka yang sepantasnya dilakukan hanyalah mencari keterangan dari Allah, siapakah yang dimaksud Ulul Albaab itu.

Menurut keterangan yang terbaca dari Al Quran, ada dua tipe Ulul Albab, yang masing-masing terposisikan di “tatar hulu”, yakni yang mengakses kebenaran langsung dari ayat-ayat Allah yang dibacanya, dan tipe lainnya terposisikan di “tatar hilir” yakni mereka yang menerima pelajaran dari ayat-ayat yang dibacakan kepada mereka.

ULUL ALBAB DI TATAR HULU

Segmen Ulul Albab yang pertama adalah sebagaimana diterangkan dalam Al Quran berikut ini:

إِنَّ فِى خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَـٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّہَارِ لَأَيَـٰتٍ۬ لِّأُوْلِى ٱلۡأَلۡبَـٰبِ (١٩٠) ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَـٰمً۬ا وَقُعُودً۬ا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَڪَّرُونَ فِى خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَـٰذَا بَـٰطِلاً۬ سُبۡحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, benar-benar terdapat ayat-ayat (bukti-bukti kebenaran –ilmu–) bagi Ulul Albab.

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk ataupun berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (lalu berkata): "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini secara bathil, Maha Suci Engkau, maka selamatkanlah kami dari siksa neraka. (Ali Imron : 190-191)

Dari kedua ayat di atas (dilanjutkan dengan tiga ayat berikutnya) diperoleh keterangan yang sangat jelas tentang eksistensi Ulul Albab, antara lain:
  1. Yang merupakan ayat (sumber informasi kebenaran/ keilmuan) bagi Ulul Albab adalah segala yang terdapat pada penciptaan langit dan bumi (ruang), dan pergantian malam dan siang (waktu). Dengan kata lain segala apa yang ada (materi) dan segala apa yang terjadi (fenomena).
  2. Dalam kondisi dan posisi bagaimanapun Ulul Albab selalu mengingat Allah. Dengan kata lain selalu menambatkan hati dan jiwanya (berkomitmen kuat) kepada Allah. Dan yang menjadi media komitmen kepada Allah itu tiada lain adalah Al Quran (Adz Dzikr) yang akan selalu menjadi pengarah dan pengendali seluruh aktivitas jiwanya sehingga terjaga dari “isrof” (over), “zaegh” (bengkok), “iwaj” (melenceng), “iftiro” (fiktif) dan sebagainya.
  3. Setelah hati dan jiwanya terkondisikan seperti di atas, Ulul Albab mengeksplorasikan pengamatan dan penalarannya membaca ayat-ayat Allah di berbagai situs berupa materi dan fenomena yang terbentang dihadapannya.
  4. Sebagai output (natijah) dari eksplorasi pengamatan dan penalaran yang dilakukannya, terlahir dua pernyataan yang objektif, jujur dan tulus, yakni pertama:
رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَـٰذَا بَـٰطِلاً۬

Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini dengan bathil.

Sungguh tidak terdapat sedikit pun virus-virus error dan kebathilan pada Karya Allah.

Maka jika hanya Karya Allah yang dibaca dengan dipandu Kalam-Nya, tidak ada kekhawatiran bahwa otak dan hati si pembaca akan kemasukan virus kebatilan.

Lain sekali dengan apapun karya manusia, tidak ada yang bersih dari virus-virus error dan bathil. Maka akal dan jiwa yang murni sekalipun jika membaca objek yang mengandung virus, maka tak pelak lagi virus-virus kebatilan itupun akan merambah masuk kedalam jiwa si pembaca. Ibarat komputer yang pasti akan ketularan virus jika device atau hardware yang dibacanya terkandung virus.

Penyataan kedua:

سُبۡحَـٰنَكَ

Maha Suci Engkau

Sungguh ke-Maha-Sucian Allah tergambar nyata pada Maha Karya-Nya yakni alam semesta dengan segala fenomenanya. Suci bersih dari segala bentuk kekurangan, kelemahan dan ketercelaan.

Ungkapan “Maha Suci Engkau”, dengan ungkapan kata lain adalah: “Engkau Begitu Sempurna”. Lantas jika ayat-ayat Allah sebagai narasumber kebenaran telah begitu sempurna, masihkah memerlukan narasumber lain? Masukan dari sumber selain Allah dan ayat-ayatnya, hanya akan mengotori, mengontaminasi dan merusak kesempurnaan tadi.

ذَٲلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلۡبَـٰطِلُ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡعَلِىُّ ٱلۡڪَبِيرُ

Demikianlah, bahwa sesungguhnya Allah, Dialah Al Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru (akses) dari selain Allah, itu adalah bathil. Dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha besar. (Al Hajj : 62)

Demikianlah dua item output (natijah) hasil eksplorasi pengamatan dan penalaran Ulul Albab. Tidak terkandung kebathilan pada Karya Allah, dan tidak ada sesutupun yang lemah dan kurang pada Maha Karya-Nya itu.

Selanjutnya kedua natijah tersebut menggetarkan jiwanya, dan hiduplah iman dalam hatinya, yang merupakan perpaduan rasa takut dan harap kepada Allah. Takut akan kemurkaan dan adzab-Nya, mengharap akan maghfiroh dan keridhoan-Nya

فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

Maka selamatkatlah kami dari siksa neraka.

رَّبَّنَآ إِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِيً۬ا يُنَادِى لِلۡإِيمَـٰنِ أَنۡ ءَامِنُواْ بِرَبِّكُمۡ فَـَٔامَنَّا‌ۚ رَبَّنَا فَٱغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَا وَڪَفِّرۡ عَنَّا سَيِّـَٔاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ ٱلۡأَبۡرَارِ (١٩٣) رَبَّنَا وَءَاتِنَا مَا وَعَدتَّنَا عَلَىٰ رُسُلِكَ وَلَا تُخۡزِنَا يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ‌ۗ إِنَّكَ لَا تُخۡلِفُ ٱلۡمِيعَادَ

Ya Tuhan Kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun.

Ya Tuhan Kami, sungguh Kami telah mendengar (seruan) yang menyeru untuk beriman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", maka kami pun beriman. Ya Tuhan Kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami keburukan-keburukan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. (Ali ‘Imron : 193-194)

ULUL ALBAB DI TATAR HILIR

Bukan hanya untuk mengambil pelajaran dari Ayat-ayat Allah yang terbentang pada dimensi ruang dan waktu, untuk dapat menerima pelajaran dari ayat-ayat Allah yang dibacakan seseorang pun hanya Ulul Albab yang bisa mendapat akses.

Tentang ini Allah menerangkan sebagai berikut:

أَفَمَن يَعۡلَمُ أَنَّمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَ ٱلۡحَقُّ كَمَنۡ هُوَ أَعۡمَىٰٓ‌ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ (١٩) ٱلَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهۡدِ ٱللَّهِ وَلَا يَنقُضُونَ ٱلۡمِيثَـٰقَ (٢٠) وَٱلَّذِينَ يَصِلُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦۤ أَن يُوصَلَ وَيَخۡشَوۡنَ رَبَّہُمۡ وَيَخَافُونَ سُوٓءَ ٱلۡحِسَابِ (٢١) وَٱلَّذِينَ صَبَرُواْ ٱبۡتِغَآءَ وَجۡهِ رَبِّہِمۡ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنفَقُواْ مِمَّا رَزَقۡنَـٰهُمۡ سِرًّ۬ا وَعَلَانِيَةً۬ وَيَدۡرَءُونَ بِٱلۡحَسَنَةِ ٱلسَّيِّئَةَ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ لَهُمۡ عُقۡبَى ٱلدَّارِ

  • Apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu kebenaran sama dengan orang yang buta? hanyalah Ulul Albab saja yang dapat mengambil pelajaran,
  • (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian,
  • Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.
  • Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (Ar Ra’d : 19-22)
Dari keempat ayat Al Quran tersebut diatas (terkait pula dengan beberapa ayat lainnya yang tidak sempat dinuqil disini) diperoleh keterangan bahwa Ulul Albab itu adalah segolongan orang yang teridentifikasi sebagai berikut:

Pertama: Kalangan Ulul Albab dalam memahami kebenaran tidak seperti orang yang buta yang hanya mengiyakan (mempercayai) kabar atau berita yang sampai kepadanya, melainkan melihat sendiri bukti-bukti kebenaran tersebut (yaqin).
Tentang kaidah pembuktian kebenaran ini perlu pembahasan tersendiri, tapi secara ringkas dan sederhana dapat dijelaskan bahwa ada empat kategori yaqin (terbukti benar) yakni:

Ilmul Yaqien, Pembenaran berdasarkan ilmu pengetahuan yang diperoleh sebagai hasil penelitian dan pengalaman

Ainul Yaqien, Kebenaran yang terbukti secara iderawi (terbukti nyata)

Naba`ul Yaqien, Hal-hal yang belum terjangkau ilmu dan penginderaan, hanya bisa dibenarkan berdasarkan berita yang pasti benar, yakni berita dari Allah.

Haqqul Yaqin, Kebenaran haqiqi, yakni yang dinyatakan Allah sebagai kebenaran.

Kedua: Kalangan Ulul Albab itu telah membuat perjanjian dengan Allah lalu memenuhi perjanjian tersebut dan tidak merusaknya. Orang yang bisa disebut memenuhi atau melanggar janji, tentunya hanya mereka yang pernah membuat perjanjian.

Ketiga: Mereka menjalin hubungan dan penyambungan yang terpadu dan tersentral, yang bukan sekedar basa-basi sebagai hubungan silaturahmi dan persaudaraan, melainkan hubungan yang formal dan definitif berdasarkan perintah Allah yang nyata dan operasional, yang dengan itu terbentuk suatu jaringan amaliyah (network) sebagai aktualisasi sholat. Itulah “mendirikan sholat” yang sebenarnya, lebih dari sekedar mengerjakan sholat sebagai amalan ritual.

Perintah Allah dimaksud diatas adalah:

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰٓٮِٕڪَتَهُ ۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّۚ يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya menyambungkan (rahmat) kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman menyambunglah kepadanya dan menyerah dirilah dengan penyerahan diri yang sebenar-benarnya. (Al Ahzab : 56)

خُذۡ مِنۡ أَمۡوَٲلِهِمۡ صَدَقَةً۬ تُطَهِّرُهُمۡ وَتُزَكِّيہِم بِہَا وَصَلِّ عَلَيۡهِمۡ‌ۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٌ۬ لَّهُمۡ‌ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Pungutlah shodaqoh dari harta mereka yang dengan itu kamu mensucikan mereka (menjadikan mereka “Muthohharun”) serta membersihkan (jiwa) mereka lalu sambungkanlah (rahmat Allah) atas mereka sesungguhnya penyambunganmu itu merupakan posisi tetap (definitif) bagi mereka. (At Taubah : 103)

Keempat: Konsisten dan komitmen mengeluarkan sebagian hartanya untuk menjaga legalitas keberadaannya dalam jaringan Sholat (sebagai kesucian), serta menjaga status “yang disucikan” (“Al Muthohharun”), yakni satu-satu kalangan yang punya akses legal terhadap Al Quran. (Baca QS : Al Waaqi’ah : 77 - 79)

Kelima: Bermotivasi kuat untuk meraih prestasi terbaik dalam menjalani hidupnya, takut akan penilaian yang buruk (su’ul hisaab)

Keenam: Memiliki kepribadian yang kuat (sabar) dan terpuji, menolak dan mengikis keburukan dengan menampilkan kebaikan, bukan keburukan dilawan kesombongan.
Demikian gamblangnya keterangan tentang siapa yang dimaksud Ulul Albab itu, baik yang di tatar hulu maupun yang di tatar hilir. Suatu kalangan yang sangat spesial dan eksklusif. Maka tidak ada kesukaran apapun jika frase Ulul Albab itu tidak diterjemahkan, dan tetap sebagai sebutan spesial sebagaimana yang Allah gunakan. Bahkan cara inilah yang lebih bersih dan aman dari deviasi dan pembengkokan.

Mungkin karena enggan atau merasa kegelapan untuk memenuhi kriteria Ulul Albab tersebut, lalu dengan serampangan diterjemahkan saja sebagai “orang-orang yang berakal”. Asal tidak gila, semua orang termasuk dalam kalangan itu. Subhanallah, yang semula menjadi pembatas yang jelas, hilang sudah batasan itu, bahkan bukan hanya menjadi samar, melainkan hilang sama sekali.

Demikianlah ketiga dimensi pembatas dari Allah itu dilanggar habis. Mereka bergerak jauh dan jauh sekali dari medan dan situs-situs kebenaran (Al Haq) yang Allah tetapkan dan Allah batasi dengan jelas.

Kemudian untuk menjadi subjek pengkaji dan pengajar “Ilmu-Ilmu Islam” mereka membentuk (di antara orang-orang yang berakal itu) kalangan elit keagamaan secara fiktif yang disebu “Ulama”.

Dengan bangga mereka bertengger menempati posisi-posi terkemuka dalam agama yang mereka bangun dan ajarkan (tapi masih memakai nama “Islam”). Padahal didalam Islam yang sebenarnya (Dienul Haq) posisi itu adalah posisi untuk para Nabi, Rosul dan Ulul Albaab.

Dimunculkannya terminologi “ulama” itu hanya dari mengeksploitasi kata “ulama” yang hanya dipakai dua kali saja dalam Al Quran. Padahal keduanya itupun hanya kata biasa yang tidak boleh tidak, harus diterjemahkan. Tetapi malah kata ini tidak diterjemahkan melainkan “digunting” dijadikan label lalu dengan bangga disematkan di dada.

Ayat pertama dalam Al Qur’an yang menyebutkan kata “Ulama” adalah:


إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَـٰٓؤُاْۗ

Ayat di atas diterjemahkan:

Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambanya hanyalah para Ulama. (Fathir : 28)

Bagaimana mungkin Allah berfirman senaif itu. Karena dengan terjemahan seperti itu berarti orang yang bukan ulama tidak takut kepada Allah. Padahal dalam kenyataannya banyak orang yang bukan ulama tapi rasa takutnya kepada Allah lebih besar daripada ulama. Mengapa pula orang yang bukan ulama tidak merasa risih dengan terjemahan ayat ini seperti di atas? “Bila Anda bukan ulama, maka berarti Anda berani kepada Allah”, demikian kurang lebih mafhum mukholafah dari terjemahan di atas. Anda tidak tersinggung? Naif sekali bukan?

Semestinya kata “ulama” dalam ayat tersebut diterjemahkan sebagaimana kata biasa, yaitu “orang-orang yang mengetahui”. Maka tidak akan dirasakan kontradiksi apapun.

Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambanya hanyalah orang-orang yang mengetahui”

Seseorang akan berani melawan perintah Allah karena dia tidak tahu siapa dan bagaimana Allah. Orang yang tahu benar tentang Allah akan sangat takut kepada-Nya.

Seperti bila sebuah danau yang tenang namun banyak buayanya, apabila ada orang yang berani mandi di dalamnya, hal itu karena dia tidak tahu bahwa di danau itu ada banyak buayanya. Kalau dia tahu, mendekat pun dia tak akan berani.

Yang kedua adalah:

أَوَلَمۡ يَكُن لَّهُمۡ ءَايَةً أَن يَعۡلَمَهُ ۥ عُلَمَـٰٓؤُاْ بَنِىٓ إِسۡرَٲٓءِيلَ

Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya? (Asy Syu’aro : 197)

Kata Ulama sudah dikenal orang sebagai istilah bagi kalangan pemuka agama. Bila yang Allah maksud itu pemuka agama Bani Israil, maka istilah yang Allah pakai adalah “Rahib” dan “Akhbar” sebagaiman dalam kalam-Nya:

ٱتَّخَذُوٓاْ أَحۡبَارَهُمۡ وَرُهۡبَـٰنَهُمۡ أَرۡبَابً۬ا مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَٱلۡمَسِيحَ ٱبۡنَ مَرۡيَمَ

Mereka menjadikan para Akhbar (pendeta) dan Rahib mereka sebagai arbab selain Allah, dan juga Al Masih Ibnu Maryam. (At Taubah:103)

Arti “Arbab” diatas bukan Tuhan sebagai sembahan, melainkan sebagai sumber kebenaran ( Al Haqqu Min Robbika).

Oleh sebab itu yang dimaksud dengan kata “ulama” di atas adalah orang-orang yang berilmu atau kalangan intelektual/cendekiawan, dan buka mengacu pada kalangan pemuka agama.

Sedangkan sikap Bani Israil menjadikan Rahib-rahib mereka dan Isa Ibu Maryam sebagai sumber kebenaran, itu persis dengan yang dilakukan Kaum Muslimin sekarang yang menjadikan para ulama mereka dan Muhammad Rosulullah sebagai sumber kebenaran.

Maka dari itu posisi para Ulama dalam tataran Dienullah adalah sama persis dengan posisi para Rahib tersebut. Allah hanya mengakui (“memasang”) pada tataran struktural Dinullah Para Nabi dan Rosul. Kemudian kalangan yang diakui berpotensi (berpeluang) mengakses konsep Dinullah hanya Ulul Albab.

Jelaslah sudah bahwa fenomena dalam kehidupan beragama sekarang ini persis seperti fenomena kerahiban pada masa eksisnya para Nabi dan Rosul dahulu. Sedangkan tentang kerahiban (pemuka agama / ulama) itu sendiri Allah menegaskan sebagai berikut:

ثُمَّ قَفَّيۡنَا عَلَىٰٓ ءَاثَـٰرِهِم بِرُسُلِنَا وَقَفَّيۡنَا بِعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَ وَءَاتَيۡنَـٰهُ ٱلۡإِنجِيلَ وَجَعَلۡنَا فِى قُلُوبِ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ رَأۡفَةً۬ وَرَحۡمَةً۬ وَرَهۡبَانِيَّةً ٱبۡتَدَعُوهَا مَا كَتَبۡنَـٰهَا عَلَيۡهِمۡ

Kemudian Kami iringkan di belakang mereka Rosul-rosul kami dan kami iringkan pula Isa putra Maryam dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. Adapun kerahiban yang mereka ada-adakan, Kami tidak pernah menetapkan (mengonsepnya) atas mereka, (Al Hadid : 27)

Ditegaskan bahwa yang Allah gelar di bumi dalam membentang risalah-Nya hanya para Nabi dan Rosul yang terus sambung menyambung berestafet sepanjang zaman, yang ada kalanya pula terjadi fatrah (terputus)nya kerasulan untuk beberapa lama. Itu adalah Sunnatullah yang tidak akan berubah selamanya.

Fenomena lain yang perlu dicatat bahwa baik pada masa eksisnya seorang Nabi atau Rosul maupun pada masa fatrah ada satu kalangan yang Allah sebut “Ahlul Kitab” yakni “Alladziena Uutul Kitaaba” artinya orang-orang yng didatangkan Al Kitab (kepada mereka). Tetapi tidak ada dalil atau petunjuk yang bisa dipakai dasar untuk mengatakan bahwa mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani.

Dengan frase “didatangkan Al Kitab” yang pasti pada mereka ada Al Kitab, adapun datangnya dari mana? Tidak ada petunjuk yang menyatakannya. Yang pasti pula bahwa Allah tidak pernah merilis Al Kitab yang tertulis (dalam bentuk tulisan).

Tentang hal tersebut Allah mengingatkan:

وَإِنَّ مِنۡهُمۡ لَفَرِيقً۬ا يَلۡوُ ۥنَ أَلۡسِنَتَهُم بِٱلۡكِتَـٰبِ لِتَحۡسَبُوهُ مِنَ ٱلۡڪِتَـٰبِ وَمَا هُوَ مِنَ ٱلۡكِتَـٰبِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَمَا هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ

Dan sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang berputar-lidah dengan Al Kitab agar kamu mengira bahwa itu dari Al Kitab padahal ia bukan dari Al Kitab, dan mereka mengatakan ia dari sisi Allah padahal ia bukan dari sisi Allah, mereka mengatakan kebohongan atas Allah padahal mereka mengetahui. (Ali Imron : 78)

فَوَيۡلٌ۬ لِّلَّذِينَ يَكۡتُبُونَ ٱلۡكِتَـٰبَ بِأَيۡدِيہِمۡ ثُمَّ يَقُولُونَ هَـٰذَا مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ لِيَشۡتَرُواْ بِهِۦ ثَمَنً۬ا قَلِيلاً۬‌ۖ فَوَيۡلٌ۬ لَّهُم مِّمَّا ڪَتَبَتۡ أَيۡدِيهِمۡ وَوَيۡلٌ۬ لَّهُم مِّمَّا يَكۡسِبُونَ

Maka celakalah bagi orang-orang menulis Al Kitab dengan tangan-tangan mereka kemudian mereka mengatakan “Ini dari sisi Allah” untuk membeli dengan itu suatu nilai yang sedikit. Maka kecelakaanlah bagi mereka disebabkan apa yang ditulis tangan-tangan mereka dan kecelakaanlah bagi mereka akibat apa yang mereka usahakan. (Al Baqoroh : 79)

Adapun kepada Nabi dan Rosul, kalimatnya: “Diturunkan Al Kitab kepada mereka”. Dan yang namanya diturunkan, pasti dari “atas”. Sangat berbeda sekali antara “yang diturunkan” dengan “yang didatangkan”. Sedangkan wajib diimani dan dipedomani adalah “Apa yang diturunkan kepadamu”.

RESUME

Demikianlah kegelapan dan kesesatan (dalam mencari keselamatan di Hari Akhir) telah menyelimuti kehidupan manusia selama hampir (sekitar) seribu tahun, sejak memudarnya cahaya Islam di bumi di awal milenium kedua.

Hal ini desebabkan:

Kebanyakan manusia hanya mengikuti persangkaan dan kebohongan yang diada-adakan (Al An’am : 116)

Pengamatan dan penalaran (Sam’a wal abshor wal af`idah) mereka terkungkung dan terbelenggu seperti hewan ternak bahkan lebih sesat lagi (Al A’rof : 179), yaitu batas-batas yang ditetapkan Allah dilanggar habis-habisan.

Apa yang dilakukan manusia selama sekitar satu milenium ini, memang seperti demikian itu, membuktikan bahwa:
  1. Yang boleh dijadikan sumber informasi kebenaran hanya Allah dan ayat-ayatnya (Al Jatsiyah : 6) yang terbentang jelas dihadapan mereka. Tetapi mereka lebih percaya kepada dongeng dan cerita-cerita fiksi yang dipercaya hanya karena telah menjadi kebiasaan dan keyakinan orang sejak dahulu.
  2. Perkara gaib tidak bisa diketahui siapapun kecuali sebagai dugaan yang jauh dari kebenaran. Tapi justru Islam yang diajarkan dan dianut mereka bersumber dari perkara gaib, yakni kehidupan Nabi Muhammad dan orang-orang dahulu yang hidup di masa lampau (gaib).
  3. Yang diakui Allah bisa memahami kebenaran hanya Ulul Albab. Tapi justru terma Ulul Albaab ini dihapus dari peredaran dan diganti dengan terma “Ulama” yang sebenarnya itu adalah fiktif.
Pelanggaran ini terjadi, atau dengan kata lain manusia tidak bisa menemukan koridor yang Allah tetapkan di atas, karena para ulama membangun paradigma yang mengungkung pemikiran dan penalaran manusia seperti ternak yang dikurung.

Paradigma dimaksud tiada lain adalah ketetapan para ulama yang kemudian disepakati dan diyakini bahwa Nabi Muhammad itu adalah Nabi dan Rosul terakhir yang diutus untuk seluruh ummat manusia (menembus ruang dan waktu), dan tidak akan ada lagi Nabi maupun Rosul sampai hari kiamat.

Insyaallah pada kesempatan lain akan kita bahas pembuktian bahwa paradigma di atas sama sekali bukan dari Allah, melainkan buatan manusia yang begitu efektif mengandangi pikiran dan jiwa manusia selama satu milenium, seribu tahun.
Name

Dakwah Ilallah,12,Jalan Keselamatan,7,Jurnal Roqim,1,Kajian Lepas,42,Manhaj Risalah,12,
ltr
item
Ini Islam: 1000 Tahun Manusia Dalam Kesesatan Dan Kegelapan
1000 Tahun Manusia Dalam Kesesatan Dan Kegelapan
Ketersesatan yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah “kesalahan dalam memahami konsep petunjuk Allah (Dienullah) serta kesalahan dalam menjalani dan membangun kehidupan berdasarkan konsep tersebut, namun yang bersangkutan merasa telah memahami dan menjalaninya”.
https://2.bp.blogspot.com/-4VEH1NrAtx8/WND4-AzxN0I/AAAAAAAAALA/M5cBpp6xC8gwxsBSR4d5oDdU3KvP9cy1QCLcB/s640/1000-tahun-manusia-dalam-kesesatan-dan-kegelapan.png
https://2.bp.blogspot.com/-4VEH1NrAtx8/WND4-AzxN0I/AAAAAAAAALA/M5cBpp6xC8gwxsBSR4d5oDdU3KvP9cy1QCLcB/s72-c/1000-tahun-manusia-dalam-kesesatan-dan-kegelapan.png
Ini Islam
http://www.iniislam.net/2017/01/1000-tahun-manusia-dalam-kesesatan-dan-kegelapan.html
http://www.iniislam.net/
http://www.iniislam.net/
http://www.iniislam.net/2017/01/1000-tahun-manusia-dalam-kesesatan-dan-kegelapan.html
true
7017169815549685310
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy