Al Qur'an Kandungan Rahmat dan Proses PenTanzilannya (1)

SHARE:

Allah telah menurunkan Al Quran kepada Rosulullah Muhammad dalam Bahasa Arab dengan tuntas dan sempurna, tidak akan ada pergantian atau perubahan apapun pada Al Quran itu, dan tidak akan ada lagi Kitab “tambahan” apalagi pengganti Al Quran sampai berakhirnya kehidupan di bumi ini (Hari Kiamat).

alquran-kandungan-rahmat-dan-proses-pentanzilannya-1

Bagian 1: SUBSTANSI FUNDAMENTAL

PENDAHULUAN

Allah telah menurunkan Al Quran kepada Rosulullah Muhammad dalam Bahasa Arab dengan tuntas dan sempurna, tidak akan ada pergantian atau perubahan apapun pada Al Quran itu, dan tidak akan ada lagi Kitab “tambahan” apalagi pengganti Al Quran sampai berakhirnya kehidupan di bumi ini (Hari Kiamat).

Sesuai dengan kapasitas beliau yang hanya menguasai Bahasa Arab, dan kemampuan mobilitas dan komunikasi manusia pada masa beliau itu sangat terbatas, maka pantas pulalah jika Allah melepas beliau sebagai Rosul untuk menyampaikan pesan-pesan (misi) yang dikandung Al Quran itu kepada penduduk kota Mekkah, Madinah dan sekitarnya, sesuai takaran yang dibutuhkan sebagai pedoman hidup Bangsa Arab pada zaman itu.

وَكَذَٲلِكَ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ قُرۡءَانًا عَرَبِيًّ۬ا لِّتُنذِرَ أُمَّ ٱلۡقُرَىٰ وَمَنۡ حَوۡلَهَا

Dan demikianlah Kami turunkan kepadamu suatu bacaan berbahasa Arab (Al Quran), agar kamu memberi peringatan kepada warga kota (ini), dan orang-orang di sekitarnya. (Asy Syuro : 7)

Akan tetapi Al Quran itu sendiri diperuntukkan sebagai Rahmat bagi seluruh alam, yakni seluruh manusia sepanjang zaman, di bagian bumi manapun mereka hidup. Sedangkan setiap Rosul (pembawa Risalah Allah) kepada kaum (bangsa) manapun pasti akan menyampaikan risalah tersebut dengan menggunakan bahasa kaumnya atau bangsanya sendiri.

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوۡمِهِۦ لِيُبَيِّنَ لَهُمۡ‌ۖ

Kami tidak melepas seorang Rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. (Ibrahim : 4)

Dengan demikian, penerjemahan Al Quran ke dalam bahasa masing-masing kaum adalah suatu tuntutan yang tidak bisa dihindari dalam penyampaian Al Quran kepada kaum tersebut. Dan ini bukanlah pekerjaan yang mudah, apalagi terhadap sebuah Kitabullah.

Penerjemahan Al Quran ini harus dilakukan dengan cermat dan hati-hati, karena Al Quran itu harus benar-benar dijaga kemurnian dan keutuhannya. Jangan sampai dalam penerjemahan itu terkandung pikiran dan perasaan (subjektif) manusia yang terkontaminasikan ke dalam pesan-pesan Al Quran itu. Sebaliknya dalam penerjemahan Al Quran jangan sampai ada kandungan pesan yang tercecer, tertutupi atau tersembunyikan dan sebagainya.

Itulah rambu-rambu yang paling mendasar yang Allah tetapkan dan harus benar-benar dijaga dan dipatuhi, yang pada intinya adalah: “Kemurnian dan keutuhan kandungan Al Quran harus selalu tetap terjaga”.

Tetapi kenyataan yang terjadi dalam wacana, opini dan prilaku masyarakat kaum Muslimin, yang berlaku dan dipatuhi dalam penerjemahan Al Qur’an tersebut bukannya rambu-rambu yang Allah tetapkan, melainkan rambu-rambu yang dibuat dan disepakati para ulama yaitu: “Jangan menyalahi 12 cabang Ilmu-ilmu Agama yang telah disusun dan disepakati (sebagai Ijma’) para Ulama”.

(Silakan baca Seri 3 dari serial ini, yang berjudul “Pemalsuan Terselubung terhadap Al Quran Kitabullah”).

Terkait dengan fenomena di atas, Allah memperingatkan sebagai berikut:

وَمَا تَفَرَّقَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَـٰبَ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ ٱلۡبَيِّنَةُ (٤) وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ‌ۚ وَذَٲلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ


  • Dan tidaklah terpecah belah orang-orang yang telah didatangkan Al Kitab (kepada mereka), melainkan setelah datang kejelasan kepada mereka.
  • Padahal mereka tidaklah diperintah melainkan untuk mengabdi kepada Allah dengan memurnikan Ad Dien milik-Nya dan menegakkan Sholat serta mendatangkan (menampilkan) kesucian. Dan itulah Ad Dien yang tegak dan lurus. (Al Bayyinah : 4-5)
Tampak jelas pada ayat di atas bahwa kerangka seutuhnya dalam pengabdian kepada Allah (ibadah) adalah :
  • Memurnikan (menjaga kemurnian) konsep Dienullah
  • Menegakkan Sholat (menata dan membangun struktur sosial)
  • Menampilkan Kultur (budaya dan peradaban) yang bersih suci.
Yang demikian itulah Dienullah yang tegak dan lurus (Ini baru Islam ...!)

Dilema Penerjemahan      

Ada segumpal masalah yang tidak bisa diabaikan begitu saja, bahwa dalam penerjemahan suatu bahasa ke dalam bahasa lain, tidak terkecuali Bahasa Arab dalam Al Quran, makna dan pengertian (konsep) yang terkandung dalam bahasa terjemahan, tidak selalu sama persis dengan makna dan pengertian (konsep) yang terkandung pada bahasa asalnya (yang diterjemahkan). Baik dalam lingkup wacana, paragraf, kalimat bahkan pada terjemahan kata per kata.

Sementara di sisi lain penerjemahan Al Quran tidak boleh mengakibatkan kandungan Konsep Robbani dalam Al Quran menjadi cacat, berubah atau tercemari anasir fiktif yang bukan dari Allah.

Fenomena kebahasaan seperti di atas adalah hal yang lumrah dan Allah Maha mengetahui sebagalanya, karena Allah jugalah yang menjadikan manusia itu berbeda-beda bahasanya. Oleh sebab itu, fenomena demikian tidak perlu menjadi dilema, dan tidak lantas menjadi alasan bagi segolongan orang untuk merasa perlu atau bisa mengembangkan wacana dan interpretasi (penafsiran), yang pastinya akan beragam, sehingga timbul ikhtilaf (pebedaan pendapat). Semua harus tetap tunduk kepada rambu-rambu yang Allah tetapkan.

Sepintas terbayang sebuah dilema, ketika terjemahan pun belum dirasakan cukup menjelaskan, sedangkan mengembangkan wacana dan interpretasi dianggap melanggar rambu-rambu. Bukankah ini sebuah kebuntuan?

Semua sudah “terpikirkan” oleh Allah, dan sudah tercover dalam sistem yang digelar-Nya, karena Allah itu Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana (‘Aliemun Hakiem).

مَّا فَرَّطۡنَا فِى ٱلۡكِتَـٰبِ مِن شَىۡءٍ۬‌ۚ

Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab. (Al An’am : 38)

وَلِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ‌ۚ وَڪَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَىۡءٍ۬ مُّحِيطً۬ا

Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan Allah itu Maha Meliput (Mengcover) segala sesuatu. (An Nisa : 126)

Tidak ada solusi terbaik tentang persoalan apapun, melainkan mengembalikan segalanya kepada Allah, tentunya melalui Ayat-ayat-Nya, yakni fakta-fakta yang ada dan terjadi yang merupakan manifestasi dari Ilmu dan kehendak Allah dan Ayat-ayat Al Quran (Kalamullah) yang merupakan petunjuk yang sempurna dan cahaya terang benderang yang menerangi segala bentuk kegelapan.

Mesti diingat benar bahwa Al Quran itu adalah Kalamullah yang bermuatan tinggi atau amat padat. Allah menyebutnya sebagai “Qoulan Tsaqielan” (suatu perkataan yang berbobot berat). Suatu elemen kecil saja dari Kalamullah itu, di dalamnya terkandung muatan petunjuk dan informasi yang berspektrum amat luas.

Oleh sebab itu manusia tidak boleh berambisi dan merasa mumpuni untuk bisa mengakses atau “mengangkat keluar” seluruh muatan informasi yang dikandungnya. Yang penting, setakaran tertentu yang bisa diakses (dipahami) secara bersih dan lurus, telah cukup untuk memberi cahaya yang menerangi kehidupan yang dijalaninya. Begitulah Allah “mengqadar” Al Quran.

Al Quran itu disediakan dan diperuntukkan Allah untuk menerangi kehidupan manusia dari generasi ke generasi sepanjang zaman sampai kehidupan ini berakhir. Untuk sekedar menerangi kehidupan manusia di sekavling kecil dari bumi ini selama sepenggal singkat dari perjalanan masa, “beberapa butiran kecil” saja dari Al Quran yang bisa terjelaskan, sudah sangat memadai. Selebihnya, biarlah tetap lestari sebagai bacaan yang terjaga dan terpelihara. Allah akan menjadikannya jelas dan terang bercahaya secara berangsur angsur, seiring perjalanan masa dan perkembangan zaman.

يَـٰٓأَهۡلَ ٱلۡڪِتَـٰبِ قَدۡ جَآءَڪُمۡ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمۡ ڪَثِيرً۬ا مِّمَّا ڪُنتُمۡ تُخۡفُونَ مِنَ ٱلۡڪِتَـٰبِ وَيَعۡفُواْ عَن ڪَثِيرٍ۬‌ۚ قَدۡ جَآءَڪُم مِّنَ ٱللَّهِ نُورٌ۬ وَڪِتَـٰبٌ۬ مُّبِينٌ۬

Hai ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sungguh telah datang kepadamu dari Allah suatu cahaya, dan kitab yang menjelaskan. (Al Maidah : 15)

Menelusuri Hakikat Kitabullah

Tanpa mengurangi rasa hormat atas prestasi manusia dalam berkarya, sebaiknya kita simpan dulu berbagai hal yang bersifat nisbi (mungkin benar dan mungkin juga salah) berupa pemahaman, pendapat (opini), anutan, doktrin, riwayat, legenda dan sebagainya yang merupakan produk dan karya manusia itu, apalagi riak-riak hawahu (hawa nafsu) berupa ambisi, kepentingan sesaat, egoisme dan sebagainya.

Suatu hal paling dibenci dan dimurkai Allah, adalah ketika Dia ditandingi. Ketika seseorang merasa mendapatkan sesuatu dari selain Allah. Karena tidak ada satu keberadaan pun selain Allah sendiri dan apa yang diadakanNya. Selain itu, hanyalah dongeng dan kebohongan.

Kita tunduk tawaddhu menghadapkan segenap jiwa kita secara suci bersih kepada Allah, mohon kejelasan yang terang benderang tentang petunjuk-Nya itu. Karena tidak sepatutnya seseorang (suatu jiwa) menghadap Allah dengan telah merasa punya banyak kepintaran apalagi dengan kekotoran hati.

Fenomena yang dipaparkan di atas harus menjadi pendorong bagi kita untuk mencari tahu hakikat dari Al Quran Kitabullah itu, menyangkut berbagai aspek yang terkait dengannya.

Ada tiga substansi yang saling terkait yang harus benar-benar dipahami sehubungan dengan keberadaan Al Quran, serta proses dan prosedur “pembumiannya”. Ketiga aspek itu adalah:
  1. Substansi Fundamental (Asasi). Yakni menyangkut eksistensi dan posisi Al Quran itu sendiri. Berupa (berwujud) apa Al Quran itu dan dimanakah adanya?
  2. Substansi Struktural-Operasional, yaitu bagaimana manusia diposisikan, atau bagaimana Allah mengatur posisi-posisi manusia terhadap Al Quran Kalam-Nya itu sebagai suatu “infra struktur” yang mengakses Rahmat dari Al Quran dan persebarannya dalam kehidupan manusia.
  3. Substansi Behavior-Kultural, yaitu sikap mental dan perilaku yang harus tumbuh dan ditampilkan manusia dalam merespon atau mensikapi Al Quran.
Bagian 1 :
SUBSTANSI FUNDAMENTAL

Berpangkal Pada Ilmu Allah

Allah menciptakan segala apa yang ada dan terjadi di alam semesta adalah berdasarkan ilmu dan kehendakNya. Dan Allah terlebih dulu “menuangkan” Ilmu-Nya (yang berkaitan dengan segala keberadaan dan fenomena alam semesta ini) pada sesuatu yang Allah sebut “Kitabun Mubien”.

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ۬ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِى ڪِتَـٰبٍ۬ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآ‌ۚ إِنَّ ذَٲلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ۬

Tiada suatu peristiwa pun yang terjadi di bumi dan tidak (pula) dalam dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam suatu Kitab sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Al Hadied : 22)

وَعِندَهُ ۥ مَفَاتِحُ ٱلۡغَيۡبِ لَا يَعۡلَمُهَآ إِلَّا هُوَ‌ۚ وَيَعۡلَمُ مَا فِى ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ‌ۚ وَمَا تَسۡقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعۡلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ۬ فِى ظُلُمَـٰتِ ٱلۡأَرۡضِ وَلَا رَطۡبٍ۬ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِى كِتَـٰبٍ۬ مُّبِينٍ۬

Dan di sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan (tertulis) dalam suatu kitab yang menjelaskan. (Al An’am : 59)

Dengan dituangkannya Ilmu Allah pada suatu Kitab yang Allah sebut sebagai “Kitabun Mubien” yang artinya Kitab yang menjelaskan (“Maha Ensiklopedi”) itu, maka terbukalah akses bagi manusia untuk bisa mendapatkan sebagian dari Ilmu Allah tersebut dengan “mendownload” secara bebas dan gratis dari “situs-Nya” yang Dia sebut Kitabun Mubin itu.

Itulah bukti nyata (ayat-ayat yang jelas) sebagai perwujudan dari Asma-Nya, bahwa Allah itu Maha Kaya tanpa batas dan Maha Pemurah tanpa membatasi siapa pun yang boleh meraup ilmu dan kekayaannya itu sebagai KARUNIA-NYA yang besar dan luas. Dialah “Ar Rohman” ( Sang Maha Pemurah).

Demikian pula halnya seperti yang dikenal dalam kehidupan manusia. Ketika ada seseorang yang berhasil menguasai bidang ilmu tertentu, maka orang-orang yang tidak sempat berhubungan langsung dengannya, mereka berpeluang mendapatkan pula ilmu tersebut dengan membaca karya tulisnya jika orang berilmu itu sempat menuangkan ilmunya dalam bentuk karya tulis. Atau dengan mendownload dari situs websitenya, jika orang yang berilmu tersebut meng-upload-nya ke dunia maya. Walaupun pemilik ilmu atau website itu tidak dikenalnya sama sekali.

Muncul pertanyaan, bagaimana manusia bisa membaca “Kitabun Mubien” yang merupakan perbendaharaan Allah dan hanya berada di sisi Allah? Maka Allah menerangkan bahwa segala apa yang ada dan terjadi di alam ini adalah perwujudan atau manifestasi dari apa yang terdapat pada Kitabun Mubin tersebut. Sehingga dengan demikian, membaca, meneliti pada apa yang ada dan terjadi di alam ini lalu menganalisa atau memikirkannya, itu berarti membaca apa yang terdapat pada Kitabun Mubin tersebut.

Al Quran Dan Khazanah Ilmu Allah

Allah mengingatkan manusia bahwa Ilmu Allah itu maha luas tak terbatas. Dia menggambarkan hal tersebut dengan Kalam-Nya:

قُل لَّوۡ كَانَ ٱلۡبَحۡرُ مِدَادً۬ا لِّكَلِمَـٰتِ رَبِّى لَنَفِدَ ٱلۡبَحۡرُ قَبۡلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَـٰتُ رَبِّى وَلَوۡ جِئۡنَا بِمِثۡلِهِۦ مَدَدً۬ا

Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimah-kalimah (Ilmu) Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimah-kalimah Tuhanku, walaupun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)". (Al Kahfi : 109)

وَلَوۡ أَنَّمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ مِن شَجَرَةٍ أَقۡلَـٰمٌ۬ وَٱلۡبَحۡرُ يَمُدُّهُ ۥ مِنۢ بَعۡدِهِۦ سَبۡعَةُ أَبۡحُرٍ۬ مَّا نَفِدَتۡ كَلِمَـٰتُ ٱللَّهِ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ۬

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimah-kalimah (Ilmu) Allah. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (Luqman : 27)

Kedahsyatan Ilmu Allah itu tidak mungkin dipungkiri manusia yang telah menyaksikan dan mengakui kedahsyatan alam semesta ini. Ketika manusia merasakan adanya “rahasia alam” yang ingin mereka ketahui, kemudian ketika pengetahuan mereka bertambah dan menyingkap sebagian dari rahasia itu, mereka segera menyadari bahwa ternyata rahasia itu jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan sebelumnya. Dan begitulah seterusnya, setiap kali pengetahuan manusia sedikit bertambah, bersamaan dengan itu mereka merasakan bahwa ketidak-tahuan mereka jauh lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya.

Dalam menghadapi Ilmu Allah yang begitu dahsyat, manusia yang sangat penuh dengan kelemahan dan keterbatasan, bahkan dalam pandangan Allah manusia itu “dholuuman jahuulan” (amat dholim dan amat bodoh), pasti sangat rentan terjadinya kesalahan, kekeliruan, kelalaian dan sebagainya. Terlebih lagi dengan pengaruh hawahu (hawa nafsunya) yang sering membuat mereka berpikir dan bertindak tidak objektif. Sedangkan kesalahan dan kelalaian itu sangat potensial berakibat malapetaka yang mereka sendiri sangat tidak menginginkannya.

Oleh karenanya, karena Rahmat dan kasih sayang Allah kepada manusia dan alam semesta, Dia menurunkan satu “paket” lagi dari perbendaharaan-Nya yaitu AL QURAN.
  • Karena manusia itu rentan melakukan kesalahan atau salah arah, maka Allah membimbing mereka dengan suatu petunjuk (HUDAN).
  • Karena manusia sering keliru dalam memahami dan mengidentifikasi sesuatu, Allah memberi mereka “AL FURQON” (pembeda).
  • Ketika manusia merasa samar atas apa yang dihadapinya, Allah memberi mereka penjelasan (AL BAYAAN).
  • Ketika manusia merasa kegelapan akan hakikat dari fenomena, atau karena perkara yang dihadapinya itu merupakan hal yang gelap (gaib), Allah memberi mereka cahaya (AN NUR).
  • Ketika manusia lalai atau lengah dari hal-hal tertentu yang bisa merugikannya, Allah memberi mereka pengingat (ADZ DZIKR)
Itu semua adalah bukti nyata (Ayatun Bayyinat) bahwa Allah itu AR ROHIEM (Sang Maha Penyayang). Kelima deskripsi di atas itulah muatan Al Quran, ekspresi kasih sayang (Rahmat) Allah kepada seluruh alam.
Jadi Al Quran itu bukan sesuatu yang bermuatan ILMU. Salah jika orang mencari atau menggali “ilmu” dari Al Quran, Allah tidak pernah mengatakan hal itu. Ilmu Allah itu dituangkan-Nya pada Kitabum Mubin, yang lewat perwujudannya berupa penciptaan alam semesta yang dhohir dan nyata, bisa diakses oleh siapa saja dengan bebas dan gratis untuk mengeksplorasi kekayaan dan karunia-Nya.

Sedangkan kasih sayang Allah (RAHMATNYA) tetap dan hanya berada di sisi-Nya. Hanya orang-orang tertentu yang sangat terbatas dan terseleksi ketat yang bisa menemukan akses untuk mendapatkannya. Dan Al Quran itulah yang merupakan manifestasi dan ekspresi kasih sayang Allah. Maka tidak sepatutnya banyak orang kegeeran, merasa begitu saja mendapatkan kasih sayang (Rahmat) Allah tanpa melalui penyeleksian yang amat ketat.

وَٱللَّهُ يَخۡتَصُّ بِرَحۡمَتِهِۦ مَن يَشَآءُ‌ۚ وَٱللَّهُ ذُو ٱلۡفَضۡلِ ٱلۡعَظِيمِ

Dan Allah mengkhususkan Rahmat-Nya bagi siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah mempunyai karunia yang amat besar. (Al Baqoroh : 105)

Ilmu dan karunia Allah itu bisa digali dan dicari oleh siapa saja dengan bereksplorasi di muka bumi.

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَٱبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرً۬ا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebarlah (bereksplorasilah) kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan banyaklah mengingat Allah (jangan lengah dari petunjuknya) mudah-mudahan kamu beruntung. (Al Jumu’ah : 10)

Demikianlah, karunia Allah itu dicari dan digali dengan bereksplorasi di bumi, berbekal kekuatan tenaga, ilmu, teknologi dan sebagainya.

Sedangkan Rahmat Allah itu dimohon langsung dari sisi-Nya, dengan mendekatkan diri kepada-Nya, serta tunduk dan sujud (secara haqiqi) mengikuti petunjuk, peringatan dan aturan-Nya, sebagaimana halnya do’a para Ulul Albaab dan do’a Ashabul Kahfi berkut ini.

رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةً‌ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ

"Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pelencengkan hati kami sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan berilah Kami Rahmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi”. (Ali Imron : 8)

رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةً۬ وَهَيِّئۡ لَنَا مِنۡ أَمۡرِنَا رَشَدً۬ا

"Tuhan Kami, berikanlah kepada kami Rahmat dari sisi-Mu dan aturkanlah dari urusan Kami ini, suatu tuntunan bagi kami” (Al Kahfi : 10)

Terbaca jelas pada ayat di atas bahwa Rahmat Allah itu tetap dan selalu ada di sisi-Nya (pada-Nya), tidak disebar di bumi atau di manapun. Kemudian Allah mengekspresikan dan mewujudkannya dengan cara memberi petunjuk dan tuntunan kepada manusia dalam menjalani berbagai urusan mereka di bumi.

Di atas diterangkan bahwa Ilmu Allah dituangkan-Nya pada suatu kitab yang menjelaskan (Maha Ensiklopedi) yaitu “Kitabun Mubin”, yang kemudian diwujudkan dengan penciptaan alam semesta dengan segala fenomena di dalamnya.

Setelah Allah menciptakan langit dan bumi dalam wujud materi (hardware), kemudian Allah menginstalkan dan men-“setup” suatu program (software) yang mengatur segala proses dan “perilaku” alam semesta ini, baik terhadap langit dan begitu pula terhadap bumi. Software inilah yang Allah sebut sebagai “qodar” atau “taqdir”, sedangkan manusia menyebutnya “hukum alam”.

فَقَضَٮٰهُنَّ سَبۡعَ سَمَـٰوَاتٍ۬ فِى يَوۡمَيۡنِ وَأَوۡحَىٰ فِى كُلِّ سَمَآءٍ أَمۡرَهَا‌ۚ وَزَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنۡيَا بِمَصَـٰبِيحَ وَحِفۡظً۬ا‌ۚ ذَٲلِكَ تَقۡدِيرُ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡعَلِيمِ

Lalu Dia menetapkannya sebagai tujuh langit dalam dua hari, Dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. dan Kami hiasi langit yang dekat dengan lampu-lampu (bintang) dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah taqdir yang Maha kuasa lagi Maha mengetahui. (Fushilat : 12 )

يَوۡمَٮِٕذٍ۬ تُحَدِّثُ أَخۡبَارَهَا (٤) بِأَنَّ رَبَّكَ أَوۡحَىٰ لَهَا


  • Pada hari itu bumi menginformasikan hal ihwalya,
  • Karena sesungguhnya Tuhanmu telah mewahyukan (menginstalkan yang demikian itu) kepadanya. (Al Zalzalah : 4-5)
Manusia terlalu bodoh dan dholim untuk bisa memahami seluruh kompleksitas yang ada di bumi dan alam semesta ini, serta untuk selalu mengembangkan perilaku dan aktivitasnya untuk senantiasa harmonis, sinkron dan compatible dengan kompleksitas alam ini. Tidak mungkin mereka mampu berbuat begitu tanpa mengikuti petunjuk dan pedoman dari Allah yang memiliki ilmunya dan Maha Mengetahui segalanya.

ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِى ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِى عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ

Tampak jelas kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, biar mereka rasakan (akibat) dari sebahagian perbuatan mereka, mudah-mudahan mereka kembali (bisa melakukan recovery). (Ar Rum : 41)

Maka sebagai ekspresi dan wujud kasih sayang-Nya kepada manusia dan alam semesta ini, Allah “memprogram” satu software lagi untuk diinstal pada jiwa-jiwa manusia dan mengatur perilaku mereka agar selalu sinkron dan harmonis dalam menjalani hidup dengan sesamanya dan dalam berinteraksi dengan alam lingkungannya.

Software yang terakhir ini Allah menyebutnya sebagai “suatu Bacaan Yang Mulia” (Quranun Kariem) dan Dia simpan (save) pada sesuatu yang disebut-Nya dengan dua sebutan yakni:
  • Kitabun Maknuun, yang artinya adalah “suatu kitab yang terjaga ketat atau terlindung (protected)”, tidak bisa dijamah siapapun.
  • Lauhun Mahfudz yang artinya adalah “suatu file yang terpelihara”, tidak akan terkena virus, tidak akan rusak ataupun basi.
إِنَّهُ ۥ لَقُرۡءَانٌ۬ كَرِيمٌ۬ (٧٧) فِى كِتَـٰبٍ۬ مَّكۡنُونٍ۬


  • Sesungguhnya ia itu adalah suatu bacaan yang sangat mulia,
  • Pada suatu kitab yang terjaga (terlindungi). (Al Waqiah : 77-78)
بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِى تَكۡذِيبٍ۬ (١٩) وَٱللَّهُ مِن وَرَآٮِٕہِم مُّحِيطُۢ


  • Padahal dia itu suatu adalah bacaan yang mulia,
  • Dalam suatu file yang terpelihara. (Al Buruj : 19-20)
Dibacakan Langsung Ke Hati Rosul

Dengan menggunakan Ar Ruhu`l Amien (Ruh yang handal, terpercaya) yang pada kali lain Allah menyebutnya “Jibril”, secara berangsur-angsur Allah menurunkan (“mendownloadkan”) software yang berupa bacaan tersebut ke dalam hati Rosulullah Muhammad, dan melekat di hati beliau sebagai suatu hafalan.

وَإِنَّهُ ۥ لَتَنزِيلُ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ (١٩٢) نَزَلَ بِهِ ٱلرُّوحُ ٱلۡأَمِينُ (١٩٣) عَلَىٰ قَلۡبِكَ لِتَكُونَ مِنَ ٱلۡمُنذِرِينَ


  • Dan Sesungguhnya Al Quran ini benar-benar turunan (terbitan) Robbul Alamin (Pemilik dan Penguasa Alam Semesta).
  • Dia dihantarkan turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril),
  • Ke dalam hatimu, agar kamu menjadi salah seorang dari para pemberi peringatan, (Asy Syu'ara : 192-194)
وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَءَامَنُواْ بِمَا نُزِّلَ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ۬ وَهُوَ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّہِمۡ‌ۙ كَفَّرَ عَنۡہُمۡ سَيِّـَٔاتِہِمۡ وَأَصۡلَحَ بَالَهُمۡ

Dan orang-orang yang beriman dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad, dan dia itulah Al Haq (kebenaran) dari Tuhan mereka, Allah menghapus keburukan-keburukan mereka dan membaikkan (menjadikan baik) kondisi mereka. (Muhammad : 2)

Di bagian lain Allah menyatakan bahwa disampaikannya Al Quran kepada Rosulullah itu dengan cara dibacakan. Dibacakan langsung ke hati (tanpa melalui pendengaran), kemudian Rosul harus mengikuti bacaan tersebut dan jangan sampai lupa. Ini berarti bahwa Allah tidak memberikan “file” Al Quran itu ataupun salinan (copy)-nya. File Al Quran itu tetap pada Lauh Mahfudz di sisi Allah tidak di kemana-manakan, tidak digandakan, dicopy atau disalin dalam bentuk apapun.

إِنَّ عَلَيۡنَا جَمۡعَهُ ۥ وَقُرۡءَانَهُ ۥ (١٧) فَإِذَا قَرَأۡنَـٰهُ فَٱتَّبِعۡ قُرۡءَانَهُ ۥ (١٨) ثُمَّ إِنَّ عَلَيۡنَا بَيَانَهُ


  • Sesungguhnya tanggungan (urusan) Kamilah himpunannya (susunannya) dan bacaannya.
  • Maka apabila Kami membacakannya, ikutilah bacaannya itu.
  • Kemudian, sesungguhnya tanggungan (urusan) Kami pulalah penjelasannya. (Al Qiyamah : 17-19)
سَنُقۡرِئُكَ فَلَا تَنسَىٰٓ (٦) إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُ‌ۚ


  • Kami akan membacakan (Al Quran) kepadamu (Muhammad) lalu kamu tidak akan lupa,
  • Kecuali apa yang Allah kehendaki. (Al A’la : 6-7)
Selanjutnya Allah memerintahkan kepada Rosulullah Muhammad untuk membacakan Al Quran tersebut secara berangsur pula dibawah pengarahan Allah, kepada kaumnya (orang-orang di lingkungannya).

ٱتۡلُ مَآ أُوحِىَ إِلَيۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَـٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ‌ۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ‌ۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَڪۡبَرُ‌ۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُونَ

Bacalah apa (bagian) yang telah diwahyukan kepadamu dari Al Kitab dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu melarang (perilaku) keji dan mungkar. dan mengingat (menyerap ajaran dan petunjuk) Allah itu benar-benar hal yang amat berat dan Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. (Al Ankabut : 45)

Kemudian kepada manusia Allah menerangkan bahwa untuk merekalah Allah melepas seorang Rosul yang membacakan ayat-ayat-Nya serta mengajarkan Al Kitab dan Al Hikmah. Maka ketika Al Quran dibacakan hendaklah mereka pun mendengarkan dengan seksama dan selalu mengingatnya.

كَمَآ أَرۡسَلۡنَا فِيڪُمۡ رَسُولاً۬ مِّنڪُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡكُمۡ ءَايَـٰتِنَا وَيُزَكِّيڪُمۡ وَيُعَلِّمُڪُمُ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحِڪۡمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمۡ تَكُونُواْ تَعۡلَمُونَ (١٥١) فَٱذۡكُرُونِىٓ أَذۡكُرۡكُمۡ وَٱشۡڪُرُواْ لِى وَلَا تَكۡفُرُونِ


  • Sebagaimana Kami telah melepas di tengah-tengah kamu seorang Rasul diantara kamu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Kami dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.
  • Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari-Ku. (Al Baqoroh : 151-152)
وَإِذَا قُرِئَ ٱلۡقُرۡءَانُ فَٱسۡتَمِعُواْ لَهُ ۥ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ

Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik, dan diamlah (jangan berbicara) mudah-mudahan kamu diberi (“kebagian”) rahmat. (Al A’rof : 204)

Demikianlah proses “perjalanan” Al Quran sampai kepada manusia.

Proses selanjutnya adalah implementasi (tadabbur dan tadbir) Al Quran yang secara sistemik bawaan (tumbuh dari) Al Quran itu sendiri, akan mewujudkan suatu tatanan struktural (Iqomus-Sholah) yang merupakan infrasruktur bagi aliran (“sistem distribusi”) Rahmat Allah, yang pada gilirannya akan menampilkan suatu kultur (budaya dan peradaban) yang menampilkan pesona Asma Allah.

Dengan demikian, jelaslah bahwa yang ada pada manusia adalah sebatas ingatan (memori) akan Kalamullah yang dulu pernah dibacakan oleh Muhammad Rosulullah kepada para audiennya. Kitabnya itu sendiri hanya dan tetap ada pada Lauh Mafudz di sisi Allah, tidak dikemana-manakan.

Adakah Ayat-Ayat Yang Rosul Terlupa?

Manusia adalah makhluk Allah yang tidak mungkin dipaksa untuk tidak pernah melupakan sesuatu, tidak terkecuali Rosulullah. Allah tahu tentang hal itu, karena Allahlah yang menciptakan segalanya dan menentukan takaran (qadar) atas segala ciptaan-Nya itu.

وَخَلَقَ ڪُلَّ شَىۡءٍ۬ فَقَدَّرَهُ ۥ تَقۡدِيرً۬ا

Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan menetapkan takaran-takarannya secara pasti (akurat). (Al Furqon : 2)

Maka sehubungan dengan kemungkinan terlupakannya ayat-ayat Allah, (bahkan mungkin oleh Rosul sendiri) baik yang berwujud fenomena alam yang mungkin punah atau dilupakan orang ataupun ayat-ayat yang berupa Kalamullah, Allah telah mengatur segalanya dengan seksama.

مَا نَنسَخۡ مِنۡ ءَايَةٍ أَوۡ نُنسِهَا نَأۡتِ بِخَيۡرٍ۬ مِّنۡہَآ أَوۡ مِثۡلِهَآ‌ۗ أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ

Apapun yang Kami hapus (delete) dari suatu ayat, atau Kami jadikan (manusia) melupakannya, pasti Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang setara dengannya. Tidak tahukah kamu bahwa sesungguhnya Allah Maha Menentukan Takaran atas segala sesuatu? (Al Baqoroh : 106)

Ayat-ayat mana sajakah yang Allah telah menghapusnya dan orang-orang dibuat melupakannya? Tentunya yang sudah tidak kita jumpai lagi pada khazanah Ayat-ayatnya yang hadir di hadapan kita. Baik itu berupa fakta-fakta dan fenomena alam semesta atau juga memori Kalamullah (Al Quran) yang Allah lestarikan sampai sekarang. Tidak perlu mencari-cari atau menduga-duga apalagi memperdebatkan. Allah sendiri sudah menghapusnya, dan menggantinya dengan yang lebih baik atau yang setara dengannya, mengapa lantas repot-repot mencari yang sudah tidak ada?

Sebaliknya, siapapun tidak berhak mengatakan bahwa suatu ayat sudah dinasakh (mansukh) padahal Allah melestarikannya dengan tetap ada pada memori manusia, sehingga mereka tidak melupakannya.

Maka tidak tertutup kemungkinan (tapi juga tidak pasti) bahwa Rosulullah Muhammad ada menerima dari Allah lebih dari Al Quran yang kita jumpai sekarang. Tapi kalaupun ada, itulah diantaranya yang tidak dilestarikan Allah alias dihapus, atau kata kasarnya telah dibuang. Allah telah menggantinya dengan yang lebih baik atau yang setara dengannya. Maka tidak sepatutnya manusia masih mengaduk-aduk masa lampau dan mengais barang yang sudah dibuang, apalagi atas nama Allah Yang Maha Mulia, untuk membangun Dien-Nya yang tinggi dan agung.

Mesti diingat pula bahwa fenomena dan peristiwa masa lampau yang (memorinya) tidak dilestarikan Allah adalah termasuk perkara gaib yang manusia tidak bisa dan tidak mesti mengetahuinya.

Perhatikan pula kelanjutan (rangkaian) dari Al Baqoroh : 106 di atas.

أَمۡ تُرِيدُونَ أَن تَسۡـَٔلُواْ رَسُولَكُمۡ كَمَا سُٮِٕلَ مُوسَىٰ مِن قَبۡلُ‌ۗ وَمَن يَتَبَدَّلِ ٱلۡڪُفۡرَ بِٱلۡإِيمَـٰنِ فَقَدۡ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ

Ataukah kamu hendak bertanya (menuntut) kepada Rasul kamu seperti apa yang ditanyakan kepada Musa dahulu? Dan barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka dia benar-benar tersesat dari jalan yang lurus. (Al Baqoroh : 108)

Ayat di atas menerangkan bahwa kalaupun seandainya kamu pernah mendengar tentang itu dan ini mengenai Rosul-rosul Allah di masa lalu, hal itu tidak mesti jadi pertanyaan atau tuntutan terhdap Rosul kamu hari ini.

Eksternal Hardware Dalam Peradaban Manusia

Rosulullah dan banyak diantara para sahabatnya mampu mengingat atau menyimpan (men-saving) bacaan Al Quran itu pada memori jiwa (kepala) mereka, yaitu dengan menghafalnya. Dan sebagian lainnya (yang pandai menulis-baca) mereka bisa juga menuliskannya pada berbagai “qirthos”, yaitu benda-benda yang mempunyai permukaan yang bisa dipakai menuliskan sesuatu.

Dahulu para sahabat Rosul itu menuliskan Al Quran bukan karena mereka mendapat perintah Allah atau juga Rosulullah, tidak ada perintah untuk itu. Allah tidak melibatkan peradaban dan karya manusia untuk mengambil bagian pada (“membantu”) pekerjaan Allah.

Allah mengembangkan “af’al” (karya-karya-Nya) hanya dengan mengoperasikan segala sesuatu yang murni (pure) dari dan oleh Allah (manusia menyebutnya “alami”). Allah menciptakan manusia yang bisa melihat dan mendengar, punya memori di kepalanya untuk menyimpan (mengingat) dalam kadar tertentu, bisa berbicara dan mengucapkan kembali apa yang pernah didengar dan masih diingatnya. Pada tataran itulah perintah Allah menyangkut keberadaan Al Quran, yakni: Mendengarkannya, mengingatnya dan membacakannya.

Adapun manusia dengan peradabannya (karunia Allah yang berhasil diraihnya), Allah “menawarkan” kepada mereka untuk “berbisnis” dengan-Nya, dengan memposisikan (mengabdikan) diri-diri mereka dengan peradaban yang mereka bangun itu, sebagai bagian (bawahan) dari Kerajaan Allah, Kerajaan Langit dan Bumi. Bukan malah -yang dilakukan orang- software program milik dan “hak paten” Allah itu dibajak dipakai untuk memoles dan menghiasi institusi kekuasaan buatan mereka.

Karena bumi ini milik Allah, berada dalam wilayah kerajaan-Nya, maka tidak ada hak bagi siapapun untuk membangunan kerajaan (sistem kekuasaan) selain sistem kekuasaan Allah, yang perwujudannya bukan sebagai sebuah negara atau institusi apapun namanya, melainkan sebuah “Ad Dien” atau “Dienullah”, yang tumbuh dari Al Quran sebagai benihnya. Bukan pula dengan cara merampas suatu institusi kekuasaan buatan manusia kemudian dimodifikasi dan disepuh dengan model dan warna-warna Islam.

Allah terlalu Agung dan Mulia untuk dipersembahkan kepada-Nya suatu barang rampasan yang kemudian dimodifikasi dan disepuh. Itu tidak lebih dari suatu kepalsuan. (Baca kembali “Proses Iqomuddin” pada Serial terdahulu).

Demikianklah manusia dengan peradabannya, mereka semakin punya banyak cara untuk meringankan pekerjaan mereka, termasuk membuat berbagai “eksternal hardware” sebagai piranti di luar diri mereka untuk menyimpan dan mengingat Al Quran. Yang pada awalnya hanya sebatas tulisan pada qirthos, kemudian berkembang menjadi buku (kitab), rekaman, foto, video, softcopy, digital dan sebagainya.

Itu semua adalah kemajuan peradaban manusia. Sah-sah saja mereka melakukan semua itu. Tetapi jangan lantas dikatakan “Ini dari Allah”, “Ini Kitabullah”. Semua orang yang mendapatkannya merasa “diajak bicara” oleh Allah, diperintah, diberi petunjuk dan sebagainya. Eksistensi dan operasionalisasi Al Quran tetap berjalan menurut qodratnya yang telah ditentukan dan ditetapkan Allah (sunnatullah) dan tidak akan pernah berubah, apalagi terbawa hanyut oleh peradaban manusia.

Yang ada pada manusia hanya rekaman atau “potretnya” yang memang tampak persis seperti yang dipotretnya dan mudah dibuat dan digandakan sebanyak apapun. Tapi bisakah jika kita ingin berurusan dengan seseorang, cukup berinteraksi dengan potretnya saja?

Memberi petunjuk dan bimbingan kepada manusia adalah pekerjaan (job) Allah, yang sepenuhnya dilakukan dengan cara-cara Allah dan hanya menggunakan piranti-piranti yang murni karya Allah. Boleh saja manusia maju dan berteknologi, tetapi tidak bakalan Allah “meminjam” properti buatan mereka untuk mengoperasikan pembumian Al qur’an. Allah tidak serendah itu. Allah hanya akan menggunakan makhluk-Nya yang bernama manusia, yang jiwa dan hati-hati mereka masih murni, belum dirusak oleh peradaban manusia, atau mereka yang berhasil di”recovery” (dipulihkan). Allah menyebut mereka “Ummiyyiin” (kaum yang ummy), atau “Muniibiina Ilaihi” (orang-orang yang kembali kepada-Nya).

Allah memberi teguran keras kepada manusia yang melakukan perbuatan seperti di atas, yaitu: “Menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri kemudian mengatakannya “Ini dari sisi Allah” (Silakan baca serial terdahulu: “Pemalsuan terselubung terhadap Al Quran Kitabullah”).

Dan lebih dari itu, berikut teguran dan peringatan Allah menyangkut perilaku manusia tersebut diatas, sebagaimana yang Allah paparkan dalam surat Al Waqi’ah : 77 – 82.

إِنَّهُ ۥ لَقُرۡءَانٌ۬ كَرِيمٌ۬ (٧٧) فِى كِتَـٰبٍ۬ مَّكۡنُونٍ۬ (٧٨) لَّا يَمَسُّهُ ۥۤ إِلَّا ٱلۡمُطَهَّرُونَ (٧٩) تَنزِيلٌ۬ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ (٨٠) أَفَبِہَـٰذَا ٱلۡحَدِيثِ أَنتُم مُّدۡهِنُونَ (٨١) وَتَجۡعَلُونَ رِزۡقَكُمۡ أَنَّكُمۡ تُكَذِّبُونَ


  • Sesungguhnya (Al Quran) itu adalah suatu bacaan yang sangat mulia
  • Pada suatu kitab yang terjaga (terlindungi)
  • Tidak (ada/bisa) menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan
  • Diturunkan dari Pemilik dan Penguasa Alam Semesta
  • Maka apakah keterangan ini kamu lecehkan saja?
  • Malah kamu gunakan rizkimu itu (kemajuan yang kamu raih) untuk melakukan kebohongan (kepalsuan)?
Kurang jelaskah bagaimana Allah menerangkan bahwa Al Quran itu ada pada suatu Kitab yang sangat terlindungi (extra protected) di sisi Allah. Tidak seorangpun -selain Al Muthohharun- yang bisa menyentuhnya (connect dengannya), apalagi merogoh, mengambil, membedah dan mengupasnya.

Tetapi kebanyakan manusia (Kaum Muslimin dengan para Ulamanya) cuek saja terhadap keterangan tersebut. Mereka enjoy saja menganggap dan memperlakukan Kitab yang mereka tulis itu sebagai Al Quran, dengan mengatakan “Inilah Bacaan Yang Mulia itu” (Al Quran Al Kariem). Semua kegeeran merasa mendapat “kiriman” dari Allah, dan semua merasa berhak dan bebas membedah dan menggali kandungannya.

Padahal “wujud” Al Quran itu berupa suatu “Ruh” (energi) yang super extra tinggi yang amat dahsyat, bermuatan Rahmat untuk menerangi kehidupan seluruh alam sepanjang masa.

Allah memberi sedikit gambaran akan kedahsyatan Al Quran, antara lain sebagai berikut:

لَوۡ أَنزَلۡنَا هَـٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ عَلَىٰ جَبَلٍ۬ لَّرَأَيۡتَهُ ۥ خَـٰشِعً۬ا مُّتَصَدِّعً۬ا مِّنۡ خَشۡيَةِ ٱللَّهِ‌ۚ وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَـٰلُ نَضۡرِبُہَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ

Kalau Sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya (gunung tersebut) ambruk dan hancur disebabkan takutnya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. (Al Hasyr : 21)

وَلَوۡ أَنَّ قُرۡءَانً۬ا سُيِّرَتۡ بِهِ ٱلۡجِبَالُ أَوۡ قُطِّعَتۡ بِهِ ٱلۡأَرۡضُ أَوۡ كُلِّمَ بِهِ ٱلۡمَوۡتَىٰ‌ۗ بَل لِّلَّهِ ٱلۡأَمۡرُ جَمِيعًا‌ۗ

Dan kalaupun ada suatu bacaan yang dengannya gunung-gunung bisa terguncang atau bumi jadi terbelah atau dengannya yang mati dibuat bicara, segala urusan itu adalah milik Allah semuanya. (Ar Ro’d : 31)

Untuk bisa mendapatkan “aliran” Rahmat dari sumber yang dahsyat semacam itu, yang diperlukan adalah berusaha untuk bisa “connect” (tersambung, menyentuh) dengannya. Dan yang punya akses untuk itu hanyalah “Al Muthohharuun”, sebagaimana yang dipaparkan dalam surat Al Waqi’ah : 77 – 82 di atas.

Ada lagi teguran Allah tentang kebohongan atau kepalsuan yang dilakukan manusia terkait Al Quran itu.

بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِى تَكۡذِيبٍ۬ (١٩) وَٱللَّهُ مِن وَرَآٮِٕہِم مُّحِيطُۢ (٢٠) بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٌ۬ مَّجِيدٌ۬ (٢١) فِى لَوۡحٍ۬ مَّحۡفُوظِۭ


  • Sebenarnya orang-orang kafir itu berada dalam kebohongan (kepalsuan); Dan Allah meliput (memantau) mereka dari belakang.
  • Padahal sebenarnya ia (Al Quran) itu adalah suatu bacaan yang mulia; (yang terdapat) pada Lauh Mahfuzh (suatu file yang terpelihra) (Al Buruj : 19-22)
Yang ada pada mereka itu hanyalah alat bantu buatan mereka, agar mereka bisa tetap mengingat Al Quran yang dahulu pernah bersinar terang pada “instalasi Rahmat Allah” yaitu Muhammad Rosulullah dan orang-orang yang bersamanya, dan mungkin beberapa generasi sepeninggal beliau.

Ketika pada suatu masa terjadi berbagai perselisihan di kalangan penerusnya, komitmen dan ikatan janji manusia dengan Allah tidak menentu lagi, sambungan-sambungan antar mereka pun terkusut, terputus dan tercabik-cabik, maka instalasi (jaringan) Rahmat Allah pun menjadi fasad (rusak), cahaya Rahmat itupun semakin memudar, dan padam. Manusia kembali terbenam berselimut kegelapan sampai beribu tahun.

وَإِنَّ هَـٰذِهِۦۤ أُمَّتُكُمۡ أُمَّةً۬ وَٲحِدَةً۬ وَأَنَا۟ رَبُّڪُمۡ فَٱتَّقُونِ (٥٢) فَتَقَطَّعُوٓاْ أَمۡرَهُم بَيۡنَہُمۡ زُبُرً۬ا‌ۖ كُلُّ حِزۡبِۭ بِمَا لَدَيۡہِمۡ فَرِحُونَ (٥٣) فَذَرۡهُمۡ فِى غَمۡرَتِهِمۡ حَتَّىٰ حِينٍ


  • Dan ini adalah ummat kamu semua (Rosul-rosul), ummat yang satu, dan akulah Robbmu, maka bertakwalah pada-Ku.
  • Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) memecah belah urusan mereka menjadi berbagai versi diantara mereka. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka (masing-masing).
  • Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu. (Al Mu’minun : 52-54)
وَٱلَّذِينَ يَنقُضُونَ عَهۡدَ ٱللَّهِ مِنۢ بَعۡدِ مِيثَـٰقِهِۦ وَيَقۡطَعُونَ مَآ أَمَرَ ٱللَّهُ بِهِۦۤ أَن يُوصَلَ وَيُفۡسِدُونَ فِى ٱلۡأَرۡضِ‌ۙ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ لَهُمُ ٱللَّعۡنَةُ وَلَهُمۡ سُوٓءُ ٱلدَّارِ

Orang-orang yang merusak perjanjian dengan Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan untuk disambungkan dan membuat kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang mendapat kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Neraka Jahannam). (Ar Ro’d : 25)

Tidak bisa dipungkiri bahwa tidak terlalu lama sepeninggal Rosulullah Ummat Islam berselisih dan terpecah dalam berbagai golongan, madzhab, sekte dan sebagainya. Pada ayat di atas, Allah menyatakan bahwa dengan keadaan seperti itu manusia berada dalam kesesatan yang tidak mungkin diatasi (biarkan mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu).

Kini mereka sudah tidak mengenal lagi apa itu perjanjian dengan Allah, karena sudah begitu lama (berabad-abad) manusia merusaknya. Sambungan-sambungan yang membentuk “Jaringan/ instalasi Rahmat Allah” (Sholat yang sebenarnya tegak) sudah amburadul tidak ada lagi. Lebih parah lagi, Al Quran suatu Software Robbani yang berfungsi mengatur dan mengarahkan perikehidupan manusia, telah dipalsukan dan dirusak tangan-tangan kotor dan jahil yang penuh dengan virus-virus syaithoni.

Peringatan yang begitu keras dari Allah bahwa dalam kondisi seperti itu berarti manusia berada dalam kutukan. Tapi anehnya sekeras apapun peringatan dari Allah, sama sekali tidak membuat mereka bergeming. Mereka selalu mengelak dan berkelit, dan melemparkan bahwa segala teguran, peringatan, bahkan kutukan itu bukan ditujukan kepada mereka, melainkan kepada orang-kafir Yahudi dan Nasrani. Bahkan ketika peringatan dari Allah itupun turun sebagai adzab berupa berbagai bencana dan keterpurukan, sama sekali tidak menyadarkan mereka.

Berbagai fenomena ini menunjukkan bahwa Al Quran sama sekali sudah tidak bercahaya lagi. Mereka dalam gelap gulita.

Akankah Al Quran bercahaya lagi? Al Quran adalah Energi Robbani yang dahsyat dan tak pernah berkurang dayanya apalagi mati. Maka untuk terpancarkan cahayanya bukan dengan cara dirogoh dan diobok-obok, melainkan harus ada infrastruktur dan instrumen-instrumen Robbani yang compatible dan terpasang dengan benar dalam kehidupan manusia di bumi ini. Inilah yang sudah hancur berabad-abad, dan digantikan oleh piranti-piranti bodoh buatan manusia dengan tatanan yang semrawut.

Dengan tatanan kepalsuan yang semrawut seperti itu, sama sekali tidak ada akses untuk mengalirnya Rahmat Allah, selain dongengan bohong dan angan-angan kosong.

وَمِنۡہُمۡ أُمِّيُّونَ لَا يَعۡلَمُونَ ٱلۡكِتَـٰبَ إِلَّآ أَمَانِىَّ وَإِنۡ هُمۡ إِلَّا يَظُنُّونَ

Dan diantara mereka adalah orang-orang yang buta huruf, tidak mengetahui Al kitab, kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. (Al Baqoroh : 78)

الٓر‌ۚ تِلۡكَ ءَايَـٰتُ ٱلۡڪِتَـٰبِ وَقُرۡءَانٍ۬ مُّبِينٍ۬ (١) رُّبَمَا يَوَدُّ ٱلَّذِينَ ڪَفَرُواْ لَوۡ كَانُواْ مُسۡلِمِينَ (٢) ذَرۡهُمۡ يَأۡڪُلُواْ وَيَتَمَتَّعُواْ وَيُلۡهِهِمُ ٱلۡأَمَلُ‌ۖ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ


  • Alif, laam, raa. Itulah ayat-ayat Al-Kitab dan suatu bacaan yang menjelaskan.
  • Banyak terjadi bahwa orang-orang yang kafir itu sangat menginginkan, kiranya mereka itu orang-orang Muslim.
  • Biarkanlah mereka makan dan bersenang-senang dan dibuai angan-angan kosong, suatu saat kelak mereka akan tahu. (Al Hijr : 1-3)
Demikianlah kiranya dapat dipahami bahwa hakikat Al Quran itu adalah suatu Energi Robbani (Ruh Min Amrillah) yang diformat sebagai suatu Bacaan Yang Mulia yang ada pada Lauh Mahfudz di sisi Allah.

Manusia mempunyai catatan (potret) bacaan tersebut sebagai sesuatu yang dilestarikan Allah dari peninggalan Muhammad Rosulullah yang pernah eksis sebagai “Lampu Penerang” (Syirojan Munieron), yang mengejawantahkan Energi Robbani tersebut menjadi cahaya yang menerangi kehidupan manusia berupa Missi Kerosulan (Risalah) yang dibawanya.

Atas petunjuk dan arahan Al Quran itu sendiri beliau mendirikan “Sholat” yang haqiqi, yaitu membangun “Infastruktur dan Instrumen-instrumen Robbani”, membentang “Jaringan Rahmat Allah”.

Dalam jaringan itulah “Energi Qurani” mengalir dan memancarkan cahaya di mana-mana, di berbagai titik kehidupan sejauh dan sedalam jangkauan jaringan tersebut.

Setelah beliau wafat, seiring waktu berlalu, karena kebodohan manusia-manusia yang mengaku ummat dan pengikutnya itu, mereka mengubah-ubah dan akhirnya merusak fatal jaringan tersebut (memutuskan apa yang Allah perintahkan untuk disambungkan). Lalu instrumen Robbani yang gagal mereka dapatkan (karena memang sangat unik dan langka), mereka ganti dengan produk sendiri yang mati, yang sangat tidak compatible dengan suatu Energi Ruhiyyah, Energi Qurani yang Suci, Agung dan Mulia itu.

Putuslah sudah aliran Rahmat itu, belasan abad manusia terbenam dalam kegelapan dari Cahaya Allah. Bisakah terang kembali? Tidak ada yang patut ditunggu untuk didatangkan Allah kecuali adzab-Nya.

مَا يَنظُرُونَ إِلَّا صَيۡحَةً۬ وَٲحِدَةً۬ تَأۡخُذُهُمۡ وَهُمۡ يَخِصِّمُونَ

Tidak ada yang mereka tunggu selain satu gebrakan yang akan membinasakan mereka selagi mereka berbantahan. (Yaa Sin : 49)

Pasca Muhammad, Sunnatullah Tidak Pernah Berubah

Dengan kenabian dan kerasulan Muhammad, tuntas dan sempurna sudah nikmat dan Rahmat Allah bagi manusia. Jangan mengharap “tambahan” lagi dari Allah selain bertambahnya temuan dan perolehan manusia dari apa yang telah disediakan Allah dengan lengkap dan sempurna.

Pertanyaan yang layak adalah Adakah manusia yang mampu menemukan instrumen-intrumen Robbani dan membangun kembali infrastruktur sebagai Jaringan Rahmat seperti yang pernah menjadi prestasi gemilang Muhammad Rosulullah?

Sebagaimana pertanyaan Allah yang berulang-ulang seperti berikut:

وَلَقَدۡ يَسَّرۡنَا ٱلۡقُرۡءَانَ لِلذِّكۡرِ فَهَلۡ مِن مُّدَّكِرٍ۬

Dan sungguh telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Al Qomar : 17, 22, 32, 40)

وَلَقَدۡ أَهۡلَكۡنَآ أَشۡيَاعَكُمۡ فَهَلۡ مِن مُّدَّڪِرٍ۬

Dan sungguh telah Kami binasakan berbagai versi (golongan) kamu, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Al Qomar : 51)

Jika telah dipahami sebagai suatu kebenaran bahwa Al Quran yang sesungguhnya adalah suatu Bacaan Yang Mulia yang terdapat pada Lauh Mahfudz, maka untuk dapat mengambil (mengakses) pelajaran dari Al Quran itu tidak mungkin bisa dilakukan dengan hanya membaca “potret Al Quran” berupa tulisan yang dibuat dan ada pada manusia itu, walupun dibedah dengan puluhan kitab tafsir ataupun hadits.

Untuk mengakses sesuatu yang berada di “Langit Maya” itu hanya bisa dilakukan dengan mengembangkan “Tehnik Informatika Samawi”, yaitu menghidupkan kembali fenomena “Nubuwwah” (Kenabian), suatu komponen utama (mainboard) dari Sistem Robbani yang telah lama dimatikan (“dibunuh”) oleh para Ulama.

Baik untuk diketahui sebagai analog, bahwa kata (lafadz) “Nubuwwah” dan kata “Nabiyyun” (Nabi) adalah suatu bentukan dari kata Naba`a yang artinya berita, kabar atau informasi. Maka fenomena Nubuwwah dalam terminologi sistem samawi adalah identik atau analog dengan fenomena informatika dalam peradaban manusia.

Untuk bisa memahami bagaimana hidupnya kembali fenomena Nubuwwah seperti dimaksud di atas, maka setelah memahami Substansi Fundamental dari hakikat Kitabullah seperti terpaparkan di atas, yang mesti dipahami berikutnya adalah Substansi Struktural-Operasional dalam proses “MEMBUMIKAN AL QURAN”.
Name

Dakwah Ilallah,12,Jalan Keselamatan,7,Jurnal Roqim,1,Kajian Lepas,42,Manhaj Risalah,12,
ltr
item
Ini Islam: Al Qur'an Kandungan Rahmat dan Proses PenTanzilannya (1)
Al Qur'an Kandungan Rahmat dan Proses PenTanzilannya (1)
Allah telah menurunkan Al Quran kepada Rosulullah Muhammad dalam Bahasa Arab dengan tuntas dan sempurna, tidak akan ada pergantian atau perubahan apapun pada Al Quran itu, dan tidak akan ada lagi Kitab “tambahan” apalagi pengganti Al Quran sampai berakhirnya kehidupan di bumi ini (Hari Kiamat).
https://2.bp.blogspot.com/-mMn949O7WpU/WNFNm14T1RI/AAAAAAAAALU/3JRYKAhjUxMyE3ZiuLtC8TJjAErA3k0ogCLcB/s640/al-quran-kandungan-rahmat-dan-proses-pentanzilannya-1.png
https://2.bp.blogspot.com/-mMn949O7WpU/WNFNm14T1RI/AAAAAAAAALU/3JRYKAhjUxMyE3ZiuLtC8TJjAErA3k0ogCLcB/s72-c/al-quran-kandungan-rahmat-dan-proses-pentanzilannya-1.png
Ini Islam
http://www.iniislam.net/2017/01/alquran-kandungan-rahmat-dan-proses-pentanzilannya-1.html
http://www.iniislam.net/
http://www.iniislam.net/
http://www.iniislam.net/2017/01/alquran-kandungan-rahmat-dan-proses-pentanzilannya-1.html
true
7017169815549685310
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy