Dholuuman Jahuulan

SHARE:

Tidak ada yang akan menyangkal bahwa dalam penciptaan langit dan bumi dengan segala isinya yang demikian dahsyatnya itu, tergambar b...

dholuuman-jahuulan

Tidak ada yang akan menyangkal bahwa dalam penciptaan langit dan bumi dengan segala isinya yang demikian dahsyatnya itu, tergambar betapa Maha Besarnya Allah Sang Maha Pencipta. Bahkan kebesaran dan keluasan Ilmu yang sebenarnya Allah miliki, jauh lebih besar lagi yang belum terwujudkan dan terdeteksi indra dan pengetahuan manusia. Maka dari itu, proses perwujudan Ilmu dan ke-Maha Besaran Allah, serta pemunculannya ke wilayah medan pengindraan manusia, masih terus berlangsung, dan telah menjadi “agenda dan program” Allah.

Diantara sekian banyak makhluk Allah, manusialah yang mengandung potensi dan karakter serta akses lebih besar dari makhluk lain di bumi ini untuk menyerap sedikit demi sedikit Ilmu Allah, dari generasi ke generasi sembari membangun peradaban dimuka bumi yang semakin mendhohirkan betapa Allah itu Maha Suci, Maha Terpuji dan Maha Besar.

Tentunya, tanpa andil dan kontribusi siapapun, Allah tidak akan pernah gagal mewujudkan programnya. Apapun yang dilakukan manusia, yang tidak bisa keluar dari sistem dan qadar (Sunnatullah) yang ditetapkannya itu, tidak akan berpengaruh apalagi mengganggu proses ke arah terwujudnya program Allah tersebut.

Hanya saja, didalam “paket” Sunnatullah itu terdapat ketentuan bahwa manusia yang berhasil meraih kualifikasi tertentu, akan dapat memperoleh kedudukan mulia di Sisi Allah, dan merasakan kenikmatan yang abadi di surga. Sebaliknya, manusia yang gagal mencapainya, akan terafkir ke neraka, dan menjalani adzab dan kesengsaraan selama-lamanya. Maka karena itulah manusia spontan tampil mengemban Amanah Allah, ketika makhluk Allah lainnya tidak mumpuni.

إِنَّا عَرَضۡنَا ٱلۡأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلۡجِبَالِ فَأَبَيۡنَ أَن يَحۡمِلۡنَہَا وَأَشۡفَقۡنَ مِنۡہَا وَحَمَلَهَا ٱلۡإِنسَـٰنُۖ إِنَّهُ ۥ كَانَ ظَلُومً۬ا جَهُولاً۬

“Sesungguhnya Kami telah menyodorkan amanah ini kepada langit, bumi dan gunung-gunung, lalu mereka enggan memikulnya karena takut tersia-siakan. Lalu dipikullah amanah itu oleh manusia. Sedangkan manusia itu amat dholim dan amat bodoh (banyak tidak tahu)”. (Al Ahzab : 72).

Bersamaan dengan kesiapan manusia untuk mengemban Amanah Allah, serta merta Allah mengingatkan akan adanya sisi rawan pada tabiat dasar manusia yang bisa membuat mereka gagal mengemban amanah Allah, yaitu: “Dholuuman Jahuulan” (amat dholim dan amat bodoh).

Kata “dholim” itu sudah cukup akrab dalam bahasa kita sehari-hari, namun lebih mengarah kepada sifat yang hanya diidentikkan dengan sosok penjahat/penganiaya/angkara murka, seperti Firaun, Raja Namruz, Prabu Dasamuka atau sosok-sosok “dholim” lainnya.

Namun kata dholim yang banyak sekali Allah gunakan dalam Al Quran, tidak hanya sebatas itu. Banyak sekali perilaku manusia yang oleh Allah dinilai sebagai dholim, yakni perilaku apa saja yang pada intinya berupa perilaku yang lebih didasarkan kepada emosi dan hawa nafsu, dengan mengabaikan fakta, ilmu dan petunjuk yang benar.

بَلِ ٱتَّبَعَ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓاْ أَهۡوَآءَهُم بِغَيۡرِ عِلۡمٍ۬‌ۖ فَمَن يَہۡدِى مَنۡ أَضَلَّ ٱللَّهُ‌ۖ وَمَا لَهُم مِّن نَّـٰصِرِينَ

“Akan tetapi orang-orang yang dholim itu mengikuti hawa nafsu mereka tanpa ilmu. Lalu siapa yang memberi petunjuk orang yang telah disesatkan Allah dan tidak ada seorang penolongpun bagi mereka ?” (Ar Ruum : 29)

Perbuatan atau tindakan dholim seperti itu bisa dilakukan oleh siapa saja, bahkan seorang Nabi sekalipun. Seperti yang pernah dilakukan oleh Nabi Adam bersama istrinya ketika mereka tertipu oleh rayuan iblis, sehingga mereka lupa dan melanggar larangan Allah.

Seperti juga yang dilakukan Nabi Yunus, ketika tidak sabar dan karena kejengkelan (emosi) menghadapi perilaku kaumnya, kemudian pergi meninggalkan medan tugas.

Akan tetapi Nabi-Nabi itu segera menyadari kesalahannya, dan segera bertobat kembali kepada petunjuk Allah, sebagaimana yang Allah ungkapkan tentang pernyataan Nabi Adam bersama istrinya:

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِينَ

“Mereka berdua berkata: Robb kami, kami telah mendholimi diri kami, dan jika Engkau tidak mengampuni kami, pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. (Al A’rof : 23)

Demikian pula dengan pernyataan tobatnya Nabi Yunus:

فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَـٰتِ أَن لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَـٰنَكَ إِنِّى ڪُنتُ مِنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ...

“...Lalu dia merintih dalam kegelapan: “Tidak ada Ilah selain Engkah, Maha Suci Engkau sesungguhnya aku telah termasuk orang-orang yang dholim”. (Al Anbiya : 87)

Mengapa Allah menyatakan bahwa manusia itu amat dholim (dholuuman)? Hal tersebut akan sangat kita pahami jika kita perhatikan betapa banyak perilaku atau sikap manusia, yang dalam penilaian Allah, itu adalah suatu kedholiman.

Sikap atau perilaku tersebut antara lain :
  1. Mempersekutukan Allah, dalam pengertian yang cermat, yakni memposisikan seseorang/sesuatu, atau mengakuinya, pada posisi yang sebenarnya hanya hak Allah.
  إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu, benar-benar suatu kedholiman yang besar”. (Lukman : 13)

  1. Melanggar ketentuan/hukum-hukum Allah.
وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ ٱللَّهِ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ

“Dan barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, maka mereka itu orang-orang yang dholim”. (Al Baqoroh : 229)

  1. Memutuskan sesuatu tidak berdasarkan apa yang diturunkan Allah (objektifitas, fakta dan ilmu (petunjuk/ kebenaran) dari Allah.
وَمَن لَّمۡ يَحۡڪُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ

“Dan barangsiapa yang tidak memutuskan sesuatu berdasarkan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu orang-orang yang dholim”. (Al Maidah : 45)

  1. Mengikuti keinginan (emosional) pihak tertentu, dengan mengesampingkan ilmu (kebenaran).
وَلَٮِٕنِ ٱتَّبَعۡتَ أَهۡوَآءَهُم مِّنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَكَ مِنَ ٱلۡعِلۡمِ‌ۙ إِنَّكَ إِذً۬ا لَّمِنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ

”Dan sungguh jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang kepadamu ilmu (kebenaran/Al Haq), sesungguhnya kamu kalau begitu, benar-benar termasuk orang-orang yang dholim”. (Al Baqoroh : 145)

  1. Mengada-ada sesuatu (fiktif) atas (nama) Allah. (Sesuatu, yang sebenarnya hanya merupakan gagasan/pemikiran/budaya manusia, bahkan ambisi dan obsesi mereka, tanpa bukti yang sah, dinyatakan sebagai bagian dari ajaran (agama) Allah).
فَمَنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ مِنۢ بَعۡدِ ذَٲلِكَ فَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ

“Maka barangsiapa mengada-ada kebohongan atas Allah sesudah itu (keterangan yang jelas dari Allah), maka mereka itulah orang-orang yang dholim”. (Ali Imron : 94)

  1. Mengganti (menukar) perkataan (perintah) Allah, dengan melakukan hal lain yang tidak diperintahkan.
فَبَدَّلَ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ قَوۡلاً غَيۡرَ ٱلَّذِى قِيلَ لَهُمۡ

“Lalu orang-orang yang dholim itu menukar perkataan (perintah) dengan yang tidak dikatakan kepada mereka....” (Al Baqoroh : 59)

Sejujurnya saja, keenam bentuk perilaku/sikap seperti di atas, benar-benar sudah menjadi kebiasaan sehari-hari dari kebanyakan manusia. Tidak terkecuali mereka yang sangat vokal dan lantang, ataupun yang lembut menyejukkan ketika bicara iman dan taqwa.

Tetapi bagaimanapun galib dan lumrahnya perilaku di atas, dalam pandangan Allah tetap saja itu adalah kedholiman yang berada dalam bayang-bayang ancaman Allah, penyebab utama kegagalan mengemban amanah Allah.

Paling tidak, beberapa peringatan Allah berikut ini, pasti adanya.
  1. Allah tidak menyukai orang-orang yang dholim.
 وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلظَّـٰلِمِينَ

“Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang dholim”. (Ali Imron : 57)

  1. Orang-orang yang dholim tidak akan mendapat hidayah (petunjuk) Allah.
 وَٱللَّهُ لَا يَہۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّـٰلِمِينَ

“Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum dholimin”. (Al Baqoroh : 258)

  1. Karena kedholiman suatu kaum, Allah bisa menurunkan petaka (adzab) dari langit (datang tiba-tiba, dengan penyebab yang tidak jelas), bahkan kebinasaan bagi mereka.
فَأَنزَلۡنَا عَلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ رِجۡزً۬ا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ

“Lalu Kami turunkan kepada orang-orang yang dholim itu siksaan dari langit, disebabkan mereka berbuat fasik (menyimpang)”. (Al Baqoroh : 59)

وَكَمۡ قَصَمۡنَا مِن قَرۡيَةٍ۬ كَانَتۡ ظَالِمَةً۬ وَأَنشَأۡنَا بَعۡدَهَا قَوۡمًا ءَاخَرِينَ

“Dan sebetapa banyak negeri yang penduduknya dholim yang Kami binasakan dan kami munculkan sesudah mereka kaum yang lain”. (Al Anbiya : 11)

  1. Jika orang-orang dholim, menganut (menyandang) Al Quran, bukannya syifa (solusi) dan rahmat yang mereka dapatkan, melainkan kerugian yang bertambah-tambah (laknat).
وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ۬ وَرَحۡمَةٌ۬ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ‌ۙ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّـٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارً۬ا

“Dan Kami menurunkan dari Al Quran itu, sesuatu yang merupakan syifa (solusi) dan Rahmat bagi orang-orang Mukmin. Dan Al Quran itu tidak memberi tambahan apapun kepada orang-orang yang dholim kecuali kerugian”. (Al Isro : 82)

مَثَلُ ٱلَّذِينَ حُمِّلُواْ ٱلتَّوۡرَٮٰةَ ثُمَّ لَمۡ يَحۡمِلُوهَا كَمَثَلِ ٱلۡحِمَارِ يَحۡمِلُ أَسۡفَارَۢا‌ۚ بِئۡسَ مَثَلُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِـَٔايَـٰتِ ٱللَّهِ‌ۚ وَٱللَّهُ لَا يَہۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّـٰلِمِينَ

“Kondisi orang-orang yang diembankan kepada mereka Taurot, tapi kemudian mereka tidak lagi mengembannya, seumpama keledai yang memikul kitab-kitab tebal. Buruk sekali kondisi kaum yang memanipulasi ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum dholimin”. (Al Jumuah : 5)

Apa manfaat yang didapat keledai dari kitab-kitab tebal yang dipikulnya? Hanya kelambanan, kelelahan, kepayahan, terkuras tenaga dan akhirnya colapse, ambruk.

Begitulah kedholiman, yang telah disampaikan sebagai peringatan dini dari Allah, agar manusia berusaha keras untuk bisa mengeliminasi kelemahan tersebut atau menetralisir dan mewaspadainya, sebelum mereka melangkah lebih jauh dalam membangun kehidupan di muka bumi.

Adapun “Jahil”, bukannya berarti bodoh dalam arti dungu, pandir atau tidak berilmu, melainkan “banyak tidak tahu”, yakni tidak punya pengetahuan yang benar tentang apa yang dia lakukan. Mungkin sekali dia itu orang pintar, cendekiawan dan sebagainya, seperti halnya para pemuka kaum Quresy (termasuk Abu Jahal) di masa Muhammad Rosulullah.

Dengan demikian, yang disebut jahiliyah adalah suatu budaya atau perilaku yang dikembangkan tanpa didasari ilmu atau petunjuk yang benar. Kalaupun ada yang mereka anggap sebagai ilmu yang mendasarinya, namun dalam pandangan Allah, itu hanyalah dugaan (persangkaan) atau rekaan manusia belaka.

Atau jika kita coba telusuri lebih lanjut secara etimologis, perilaku atau budaya jahiliyah adalah perilaku atau budaya dari mereka para penyandang kejahilan. Sedangkan penyandang kejahilan itu adalah (Al Insan –human–) yakni semua manusia secara universal. Sedangkan pemilik ilmu itu adalah Allah.

Dengan demikian, “budaya jahiliyah” itu dapat diidentifikasi sebagai budaya yang hanya bersumber pada ide/gagasan manusia semata tanpa merujuk kepada Allah melalui ayat-ayat-Nya, baik yang termaktub dalam Kitabullah atau yang gumelar dalam perciptaan alam semesta yang merupakan perwujudan dari ilmu dan kehendak-Nya.

Seperti yang termaktub dalam salah satu Kalam-Nya:

إِذۡ جَعَلَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلۡحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ ٱلۡجَـٰهِلِيَّةِ

“Ketika orang-orang kafir menumbuhkan kesombongan di hati mereka, suatu kesombongan jahiliyah...”. (Al Fath : 26)

Maka sangatlah wajar sekali jika Allah melarang kita untuk menjadikan manusia sebagai rujukan kebenaran, seberapapun banyaknya mereka, dan sebagaimanapun memukaunya penampilan atau vokal mereka, jika tidak terbukti secara nyata, bahwa sumbernya dari Allah.

وَإِن تُطِعۡ أَڪۡثَرَ مَن فِى ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ‌ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنۡ هُمۡ إِلَّا يَخۡرُصُونَ

“Dan jika kamu mengikuti kebanyakan manusia di muka bumi, pasti mereka akan menyesatkanmu dari Jalan Allah. Mereka hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka hanyalah mengada-ada”. (Al An’am : 116)

وَمَا يَتَّبِعُ أَكۡثَرُهُمۡ إِلَّا ظَنًّا‌ۚ إِنَّ ٱلظَّنَّ لَا يُغۡنِى مِنَ ٱلۡحَقِّ شَيۡـًٔا‌ۚ

“Dan kebanyakan mereka tidaklah mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak berguna sedikitpun untuk mencapai kebenaran”. (Yunus : 36)

Juga jangan sampai terlewatkan peringatan dari Allah sebagai berikut:

وَإِنَّ مِنۡهُمۡ لَفَرِيقً۬ا يَلۡوُ ۥنَ أَلۡسِنَتَهُم بِٱلۡكِتَـٰبِ لِتَحۡسَبُوهُ مِنَ ٱلۡڪِتَـٰبِ وَمَا هُوَ مِنَ ٱلۡكِتَـٰبِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَمَا هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ

“Dan sesungguhnya diantara mereka benar-benar ada segolongan yang demikian vokal lidahnya dengan Al Kitab, agar kalian mengira (bahwa itu bersumber) dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab. Dan mereka katakan: “Ini dari sisi Allah”. Padahal itu bukan dari sisi Allah. Mereka mengatakan kebohongan atas Allah padahal mereka mengetahui”. (Ali Imrom : 78)

Dholim dan jahil adalah dua sifat yang amat lekat pada manusia, faktor utama penyebab kegagalan manusia mengemban amanah Allah dan meraih ridho-Nya. Maka orang yang benar-benar menyadari kelemahan manusia itu, akan sangat bergantung kepada petunjuk dan pertolongan Allah. Bukan kepada manusia lagi, karena semua manusia mempunyai kelemahan yang sama, dholuuman-jahuulan.

Tapi tentunya, bukan berarti kita tidak perlu mendengar keterangan manusia, apalagi Nabi dan Rosul. Kita disuruh untuk membuka mata, telinga, akal dan hati selapang-lapangnya untuk membaca segalanya. Akan tetapi semua harus bisa dirujuk (dikonfirmasikan) kepada Allah melalui ayat-ayatnya. Baik yang berupa fakta-fakta kauniyah, maupun berupa nash Kalamullah.
Name

Dakwah Ilallah,12,Jalan Keselamatan,7,Jurnal Roqim,1,Kajian Lepas,42,Manhaj Risalah,12,
ltr
item
Ini Islam: Dholuuman Jahuulan
Dholuuman Jahuulan
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjo1-ByxiEA0ie24oEmQbUUaj485QZC94xNysmuBByqLIAVsX8C3zSz4Zup9kf-5id0ufFIJNy-mW3gcjDthC3m5WgUkQjyq6rP86mYBKIxRjTkwytCSnDu9ah4NGJBKME6quPxIbFUaZg/s640/dholuuman-jahuulan.png
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjo1-ByxiEA0ie24oEmQbUUaj485QZC94xNysmuBByqLIAVsX8C3zSz4Zup9kf-5id0ufFIJNy-mW3gcjDthC3m5WgUkQjyq6rP86mYBKIxRjTkwytCSnDu9ah4NGJBKME6quPxIbFUaZg/s72-c/dholuuman-jahuulan.png
Ini Islam
http://www.iniislam.net/2017/01/dholuuman-jahuulan.html
http://www.iniislam.net/
http://www.iniislam.net/
http://www.iniislam.net/2017/01/dholuuman-jahuulan.html
true
7017169815549685310
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content