Hakikat Al Quran Dalam Sistem Hidayah

SHARE:

Manusia adalah makhluk yang yang dimuliakan Allah, dilebihkan diri dari semua makhluk Allah lainnya, diberi sosok fisik yang terbaik...

hakikat-alquran-dalam-sistem-hidayah

Manusia adalah makhluk yang yang dimuliakan Allah, dilebihkan diri dari semua makhluk Allah lainnya, diberi sosok fisik yang terbaik, makhluk yang berakal budi, berbudaya dan berperadaban. Allah memperlakukan manusia dengan perlakuan yang mulia dan beradab. Artinya dalam konsep Kalimatullah, manusia akan ditampilkan Allah di muka bumi sebagai makhluk yang mulia dan beradab.

  وَلَقَدۡ كَرَّمۡنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلۡنَـٰهُمۡ فِى ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ وَرَزَقۡنَـٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَـٰتِ وَفَضَّلۡنَـٰهُمۡ عَلَىٰ ڪَثِيرٍ۬ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِيلاً۬

“Dan sungguh Kami telah memuliakan Bani Adam, dan “membawa” mereka di daratan dan di lautan, dan Kami beri rizki mereka dari yang baik-baik, dan kami lebih (utamakan) mereka atas sedemikian banyak makhluk lainnya yang Kami ciptakan dengan seutama-utamanya”. (Al Isro : 70).

Kalau Allah saja telah memperlakukan manusia sedemikian, maka sangat tidak dibenarkan bagi siapapun untuk memperhinakan atau melecehkan manusia lainnya. Menginjak, memperkosa atau merampas hak-hak dan kehormatannya, dari golongan atau kalangan manapun mereka itu. Apalagi menyakiti, menganiaya dan membunuhnya.

Kecuali tindakan hukum yang harus dilakukan, atas nama Allah, atas nama hukum dan keadilan-Nya. Dan itupun tetap merupakan manifestasi dari Kasih Sayang Allah, demi melindungi nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai peradaban dan keberadaban manusia itu sendiri. Bukan karena arogansi, kebencian atau untuk kepuasan individu ataupun golongan. Bahkan bukan untuk kepuasan dan arogansi hukum itu sendiri.

Sebagai makhluk beradab dan berperadaban, manusia mengenal serta menilai luhur dan penting, apa yang namanya etika, tata krama, tata-tertib, hukum, peraturan dan sebagainya, sampai prosesi dan ceremony.

Seiring dengan kemajuan peradaban manusia dari zaman ke zaman hal ihwal yang menyangkut keteraturan dan keberaturan hidup itu pun berkembang dan meningkat pula. Lingkup dan cakupan hukum dan peraturan semakin luas dan semakin mendetail. Bahkan cara meletakkan sendok garpu pada penyajian hidangan di meja makan, dan cara memegangnya ketika makan, itupun “ada aturannya”. Tergantung tingkat, dan nuansa keberadaban yang ingin dan mampu mereka tampilkan.

Tapi setingkat manapun kemajuan yang berhasil diraih manusia, tidak akan pernah bisa mengubah manusia menjadi makhluk yang “sempurna” tanpa kelemahan. Dholim dan bodoh yang merupakan “sifat aslinya” manusia tidak mungkin dilenyapkan sama sekali (100%) dengan upaya apapun yang dilakukan manusia.

Maka dalam berbagai hal yang menyangkut dengan keteraturan dan peraturan, adalah hal yang wajar dan lumrah, jika sering dijumpai dan didengar berbagai keluahan dan rasa kekurangan. Misalnya: Hal ini belum diatur atau belum ada aturannya, beberapa peraturan dirasa tumpang tindih, peraturan ini kontradiksi dengan itu dan ini, peraturan ini kurang mengakomodir kepentingan anu, peraturan ini dirasa kurang adil, lebih berpihak ke golongan tertentu, dan sebagainya dan sebagainya.

Selain itu sering pula terdengar celoteh seperti ini. “Aturannya sih begitu, tapi kenyataannya?”, Aturan tinggal aturan, urusan gimana nanti. Ini menunjukkan seringnya dijumpai bahwa apa yang terjadi atau apa yang berlangsung sangat berbeda dengan yang semestinya menurut aturannya. Walaupun fenomena demikian itu menunjukkan masih rendahnya tingkat keberadaban masyarakat yang bersangkutan, tapi itu tidak lepas dari sifat kelemahan yang ada pada manusia itu sendiri.

Pertanyaannya sekarang: Mungkinkah berbagai kelemahan dalam urusan atur mengatur itu akan terdapat pula pada Urusan Allah? Misalnya, masih ada (bahkan banyak) hal-hal yang “belum diatur”, atau: “Aturan dari Allah memang begitu atau begini, tapi kenyataannya bisa lain”.

Fenomena seperti tersebut di atas itulah yang Allah sebut “ikhtilaf” (hilaf). Tidak cocok, tidak sesuai , tidak sinkron, tidak nyambung, kontradiksi dan sebagainya. Suatu ciri yang akan banyak dijumpai pada produk dari selain Allah. Dan tidak akan pernah terdapat pada urusan Allah, urusan atur mengatur yang dilakukan Allah. Maha Suci Allah dari segala sifat kekurangan.

 أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ‌ۚ وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِندِ غَيۡرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ ٱخۡتِلَـٰفً۬ا ڪَثِيرً۬ا

“Apakah mereka tidak mentadabbur (mengimplementasikan dan mengaplikasikan) Al Quran? Jika ia dari sumber selain Allah, pasti banyak terdapat ikhtilaf di dalamnya.” (An Nisa : 82)

مَّا تَرَىٰ فِى خَلۡقِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ مِن تَفَـٰوُتٍ۬‌ۖ فَٱرۡجِعِ ٱلۡبَصَرَ هَلۡ تَرَىٰ مِن فُطُورٍ۬ (٣) ثُمَّ ٱرۡجِعِ ٱلۡبَصَرَ كَرَّتَيۡنِ يَنقَلِبۡ إِلَيۡكَ ٱلۡبَصَرُ خَاسِئً۬ا وَهُوَ حَسِيرٌ۬

“Kamu tidak akan melihat pada ciptaan Allah Yang Maha Pemurah, sesuatupun yang tidak sinkron. Coba perhatikan kembali, adakah kamu melihat sesuatu yang cacat? Kemudian pandang (amati) kembali sekali lagi, niscaya “si pengamat” itu akan pulang sebagai pecundang yang kepayahan”. (Al Mulk : 3-4)

Seberapa banyak dan intensifnya kamu mengamati dan meneliti alam ciptaan Allah ini, untuk mencari cacat dan kelemahan padanya, pasti kamu akan kecapaian dan kepayahan tanpa bisa menemukan yang kamu cari, karena memang tidak ada. Sempurna.

Allah telah menyatakan bahwa konsep Kalimatulah itu telah tuntas dan sempurna. Maka tidak akan ada satu hal pun yang Allah terluput atau lupa mengaturnya.

 وَتَمَّتۡ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدۡقً۬ا وَعَدۡلاً۬‌ۚ لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَـٰتِهِۦ‌ۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

“Dan telah sempurna “Kalimah” Robbmu secara benar dan adil. Tidak ada yang akan (bisa) melakukan perubahan terhadap Kalimah-Nya itu, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mangetahui”. ( Al An’am : 115)

مَّا فَرَّطۡنَا فِى ٱلۡكِتَـٰبِ مِن شَىۡءٍ۬‌ۚ

“Tidaklah Kami luputkan dalam Al Kitab itu barang sesuatupun”. (Al An’am : 38)

 ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِينً۬ا‌ۚ

“Pada hari ini telah aku sempurnakan (genap dan lengkap) bagimu agamamu, dan Aku sempurnakan ni’mat-Ku bagimu, dan Aku ridhoi Al Islam sebagi agama (dien) bagimu”. (Al Maidah : 3)

تَبَارَكَ ٱلَّذِى نَزَّلَ ٱلۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ لِيَكُونَ لِلۡعَـٰلَمِينَ نَذِيرًا (١) ٱلَّذِى لَهُ ۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَمۡ يَتَّخِذۡ وَلَدً۬ا وَلَمۡ يَكُن لَّهُ ۥ شَرِيكٌ۬ فِى ٱلۡمُلۡكِ وَخَلَقَ ڪُلَّ شَىۡءٍ۬ فَقَدَّرَهُ ۥ تَقۡدِيرً۬ا

“Telah memberi keberkahan (kemakmuran dan kesejahteraan) Dia yang telah menurunkan Al Furqon (Al Quran) kepada hamba-Nya, untuk menjadi peringatan bagi seluruh alam. Yang hanya milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia tidak mengangkat anak, dan tidak ada satu sekutu pun bagi-Nya dalam kerajannya itu. Dan Dia telah menciptakan segala suatu (baik piranti keras maupun piranti lembut), dan telah menetapkan (mengaplikasikan) ketentuan (ukuran/takaran)-nya dengan rapi dan pasti”. (Al Furqon : 1-2)

Allah telah menetapkan ketentuan dan aturan yang pasti atas segala sesuatu yang Dia ciptakan dalam alam semesta ini, dan tidak ada siapapun yang bisa mengubahnya. Itulah yang disebut “takdir”.

Sebuah contoh: Apabila air dalam sebuah wadah pada tekanan udara yang normal dipanaskan, maka temperaturnya akan naik sampai 1000C dan mendidih. Jika kamudian dipanaskan terus, temperaturnya tidak akan naik lagi, melainkan akan menguap sampai kering.

Jika dengan cara tersebut seseorang ingin merebus sesuatu dalam air yang suhunya harus mencapai 1200 C, itu tidak akan bisa ia lakukan. Itu tidak sesuai dengan “takdirnya”, sebab air tersebut akan lebih dulu menguap habis. Kecuali “atas izin Allah”, dan izin Allah itu harus diusahakan, bukannya ditunggu.

Ketika suatu waktu diketahui bahwa ternyata Allah menetapkan suatu ketentuan yang memungkinkan temperatur air tersebut naik terus, yaitu jika bisa mencegah penguapan air tersebut. Hal ini bisa dilakukan dengan cara menggunakan wadah yang kokoh dan tertutup rapat dan kuat. Ketika cara yang memungkinkan itu (takdir yang lain) ditemukan dan dijalankan, itu artinya “izin Allah telah diperoleh”. Ini berarti bahwa izin Allah tersebut tidak mungkin diperoleh jika kita menyalahi takdirnya.

Dalam urusan manusia, banyak dijumpai bahwa ketentuan cara atau prosedur yang telah ditetapkan oleh “yang berwenang”, ternyata masih bisa “diakali”, dan banyak orang bisa mendapatkan yang diperlukanya tanpa melalui prosedur atau aturan yang telah ditetapkan. Sebuah contoh lagi (dengan mohon maaf kepada pihak yang terkait) Pemerintah telah menetapkan (dengan Undang-undang) bagaimana prosedur dan proses yang harus dijalani oleh setiap orang yang ingin mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM). Tapi kenyataannya setiap orang bisa mendapatkanya dengan cara yang jauh lebih “simple”.

Jangan sekali-kali berpikiran bahwa cara seperti itu bisa kita lakukan dalam “berurusan” dengan Allah, terhadap ketentuan dan aturan yang telah Allah tetapkan. Fenomena di atas adalah salah satu ciri kelemahan manusia, dan ciri masih rendahnya tingkat peradaban masyarakat yang bersangkutan, yang mustahil terdapat pada Allah. Ketika Allah telah menetapkan konsep (Kalimah-Nya) tidak akan ada yang bisa mengubahnya. Tidak seorangpun yang bisa mendapatkan sesuatu yang dia inginkan, dengan cara menyalahi konsep yang telah ditetapkan-Nya.

Bahkan Allah sendiri tidak pernah berbuat “semaunya”, melainkan selalu konsisten dengan konsep yang telah ditetapkan-Nya. Seperti misalnya, dalam menyikapi perselisihan (ikhtilaf) dikalangan manusia, seperti berikut ini:

  وَلَوۡلَا ڪَلِمَةٌ۬ سَبَقَتۡ مِن رَّبِّكَ لَقُضِىَ بَيۡنَهُمۡ فِيمَا فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ

“Kalau saja tidak karena konsep dari Robb-mu yang telah mendasarinya, sungguh telah diambil keputusan (vonis) dalam hal apa yang mereka perselisihkan”. (Yunus : 19)

Meski Allah bisa melakukan apa saja, namun Allah “membiarkan” saja perselisihan yang terjadi dikalangan manusia itu berjalan dan berproses secara “alami”. Allah telah menetapkan dalam konsep-Nya bahwa hal tersebut akan dihakimi pada Hari Kiamat.

 فَٱللَّهُ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ فِيمَا كَانُواْ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ

“Maka Allah akan memutuskan perkara diantara mereka pada Hari Kiamat dalam hal apa yang mereka berselisih tentangnya”. (Al Baqoroh : 113)

Dengan demikian, sebagaimana yang telah diterangkan pada serial terdahulu dalam pembahasan Iman, bahwa di antara Ilmu yang harus terakses untuk menumbuhkan secara benar benih Iman yang telah ada, adalah pengetahuan (pengenalan) akan “af’al”-Nya (“cara kerja” Allah), yang dimaksud adalah bagaimana cara yang Allah pilih dan tetapkan dalam mengoperasionalkan Kalimah-Nya.

Hal ini penting sekali untuk mengetahui dan memastikan kebenaran dan keabsahan (legalitas) bahwa sesuatu yang kita dapatkan itu benar bersumber dari sisi Allah, dioperasionalkan oleh Allah, dan semua yang kita lakukan untuk Allah itu, dibenarkan, diterima dan diridhoinya.

Dalam urusan manusia saja, sering dijumpai kasus, jika seseorang mendapatkan sesuatu dengan “cara lain” di luar cara atau prosedur yang resmi (terlepas dari cara itu lebih mudah atau lebih sukar), ternyata suatu hari terbukti bahwa ia tertipu, mendapatkan sesuatu yang palsu, atau kedapatan melakukan pelanggaran hukum.
Dari paparan di atas, hendaknya dipahami dan diperhatikan benar bahwa apapun yang kita harapkan untuk dapat diperoleh dari Allah haruslah kita usahakan melalui jalan dan dengan cara yang telah Allah tetapkan. Baik dari aspek teknis operasional maupun dari aspek hukum dan nilai-nilai moral.

Bagaimana cara Allah memberi karunia dan rizki kepada manusia? Bagaimana cara memberi pertolongan, mewujudkan kasih sayang-Nya, menetapkan konsep keadilan-Nya dan menugaskan manusia untuk menegakkannya? Bagaimana Allah menurunkan Hidayah dan menuntun manusia ke dalamnya? Dengan kata lain: mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada terang benderang? Bagaimana Allah menyampaikan perintah dan larangan kepada manusia? Bagaimana Allah menerima “transaksi bisnis” (kontrak pengabdian) dari manusia? Dan seterusnya, dan seterusnya.

Semua telah ditetapkan aturan dan qadarnya secara tuntas dan definitif. Genap dan sempurna (“kamal dan tamam”). Tidak ada yang bisa keluar dari Ketetapan dan Qadar-Nya itu. Membenarkan akan adanya dan kepastian prinsip-prinsip tersebut serta tunduk kepadanya, itulah yang disebut “iman kepada Qodar”.

Hal yang paling pertama dan utama yang diharapkan oleh orang yang beriman adalah petunjuk Allah dan Hidayah-Nya. Apa yang harus dia perbuat, kemana arah yang harus ditempuh, untuk mendapat keselamatan dan kenikmatan yang abadi. Maka mengingat prinsip-prinsip di atas, pastilah Allah telah menetapkan suatu sistem (cara), bagaimana Allah menunjuki, menuntun dan membimbing manusia untuk mencapai keselamatan itu, dan bagaimana mestinya sikap dan usaha manusia untuk mendapatkan dan mengikuti petunjuk-Nya itu. Suatu cara yang sudah ditatapkan secara pasti dalam Kalimah-Nya, yang tidak mungkin ditawar, diubah atau diakali.

Pada Surat Al Fatihah, secara ringkas dan padat terungkap Asma Allah, Maqom-Nya, Amr-Nya dan Af’al-Nya, lalu pernyataan manusia untuk mengabdi hanya kepada-Nya dan hanya Allah saja andalan dan harapan mereka. Kemudian permohonan manusia akan Hidayah-Nya agar tidak tersesat jalan dan tidak pula mendapat murka Allah sehubungan dengan pangabdian manusia kepaada-Nya.

Sepertinya permohonan itu langsung dijawab pada awal surat berikutnya, Al Baqoroh.

ذَٲلِكَ ٱلۡڪِتَـٰبُ لَا رَيۡبَ‌ۛ فِيهِ‌ۛ هُدً۬ى لِّلۡمُتَّقِينَ

“Itu Al Kitab, tidak ada keraguan di dalamnya, adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa”. (Al Baqoroh : 2)

Tapi melihat apa yang ada dan terjadi pada kehidupan manusia, dan apa yang dialami mereka, khususnya mereka yang menyandang dan mengusung Al Quran, tampaknya masih sangat jauh tanda-tanda telah didapatkannya petunjuk Allah dari Al Quran tersebut. Al Quran sudah dibaca setiap waktu berulang-ulang, telah banyak ditafsirkan dan dipelajari banyak orang, digali kandungan ilmunya lalu diajarkan kepada orang banyak.

Semestinya, jika benar Kaum Muslimin ini, hidup dan kehidupannya dipandu oleh suatu petunjuk yang sempurna, yang bersumber dari Dzat Yang Maha Tinggi dan Maha Agung, setelah berjalan belasan abad, pastilah mereka akan tampil sebagai ummat terbaik yang paling dihormati dan disegani ummat-ummat lainnya di muka bumi. Namun yang ada dan terjadi, justru sangat berlawanan.

Kaum muslimin dihampir setiap “kavling” dari bumi ini yang mereka tempati, yang kantong terbesarnya adalah di Bumi Nusantara ini, yang alamnya subur dan kaya raya, yang posisinya secara geografis, dan ekonomis sangat strategis dan menguntungkan, yang kuantitas sumber daya manusianya menempati papan atas dunia, namun mereka tampil di bumi dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Dalam pandangan dunia luar, mereka lebih banyak tidak disukai bahkan dibenci, diinvasi, dijajah, dihina dan dipermalukan. Kalaupun ada sikap dunia yang positif, maka itu berupa: dibantu, ditolong, dikasihani. Itupun karena mereka itu tingkat konsumsinya tinggi sedangkan daya produksinya rendah, tentu merupakan pasar yang sangat potensial bagi produk dunia luar itu, jadi daya belinya perlu sedikit didongkrak dan dikompori.

Sementara “kontribusi” mereka pada pembangunan peradaban dunia, paling banyak berupa: memohon, menuntut, memprotes bahkan mengutuk, mencaci maki dan meneror. Sungguh memprihatinkan, mengenaskan, memalukan dan menyebalkan.

Pada sisi lain, fenomena internal dan (mungkin) vertikal (dari “langit”) banyak diwarnai dengan musibah (kecelakaan), bencana alam, wabah penyakit, pertengkaran, bentrokan, kerusuhan, kejahatan, dan .... seabreg persoalan yang kian melilit, dengan gambaran solusinya yang semakin gelap.

Menyimak fenomena di atas, bagi seorang Mukmin yang menyadari bahwa semua urusan hidup di dunia ini, bukan hanya urusan sesama dan antar manusia, melainkan semuanya berada dalam bingkai “Urusan Allah” (berurusan dengan Allah) yakni dalam rangka menjalankan Amanah-Nya, pasti akan muncul dihatinya suatu kehawatiran kalau-kalau semua itu adalah akibat dari adanya hal yang “tidak beres” dalam berurusan dengan Allah yang membuat-Nya murka, sebagaimana yang diperingatkan-Nya:

 فَبَدَّلَ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ قَوۡلاً غَيۡرَ ٱلَّذِى قِيلَ لَهُمۡ فَأَنزَلۡنَا عَلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ رِجۡزً۬ا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ

“Lalu orang-orang yang dholim itu mengganti suatu perkataan (item, perintah, ketentuan) dengan yang tidak dikatakan kepada mereka. Maka Allah menurunkan siksaan dari langit disebabkan mereka menyimpang”. (Al Baqoroh : 59)

Dalam menjalankan Amanah Allah (beribadah kepada Allah), menukar satu item saja dari konsep Kalimah-Nya, juga mengubah atau memalingkan maknanya, adalah pelanggaran yang amat serius, yang diancam adzab di Hari Akhir.

 قُلۡ إِنِّىٓ أَخَافُ إِنۡ عَصَيۡتُ رَبِّى عَذَابَ يَوۡمٍ عَظِيمٍ۬

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut akan adzab pada hari yang besar (Hari Akhir) jika aku mendurhakai Rabb-ku”. (Al An’am : 15)

Betapa banyak petunjuk dan arahan Allah yang diabaikan oleh Kaum Muslimin di negeri ini, sebaliknya, hampir tidak ada lagi diantara yang mereka lakukan dengan penuh semangat dan antusias itu, yang bersumber dari perintah Allah, kecuali setelah diubah-ubah dan dipalingkan maknanya.

Amalan nusukiyah (ritual) Sholat yang merupakan kemasan (miniatur) Risalah sebagai pengingat manusia akan Amanah Allah (Adz Dzikr), mereka palingkan menjadi bentuk pemujaan terhadap kekuatan gaib penguasa alam, seperti ritus yang dikenal pada agama dan kepercayaan primitif. Lalu dikarang pula seabreg bentuk ritual lainnya, yang fiktif dan ilegal. Sedangkan mereka yang menegakkan Sholat sesuai fungsi dan proporsinya, dituding sesat dan menyesatkan, bahkan, murtad.

Malah perbuatan yang nyata-nyata oleh Allah diancam dengan adzab yang besar, justru mereka lakukan dengan penuh semangat dan kebanggaan.

 وَلَا تَكُونُواْ كَٱلَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَٱخۡتَلَفُواْ مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَهُمُ ٱلۡبَيِّنَـٰتُ‌ۚ وَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ لَهُمۡ عَذَابٌ عَظِيمٌ۬

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang berselisih dan berpecah belah setelah kejelasan-kejelasan datang kepada mereka. Dan itulah yang bagi mereka adzab yang besar”. (Ali Imron : 105)

Begitu jelas dan tegasnya peringatan dan ancaman Allah. Tapi apa yang mereka lakukan? Mereka buat masing-masing “visi dan missi” yang satu sama lain saling berbeda (madzhab), mereka bangun firqoh-firqoh (ahzab) yang saling berseberangan bahkan berlawanan, tapi berasama-sama bergandeng tangan dengan siapa saja dibawah naungan institusi tandingan Allah.
Lalu dengan kompaknya dalam satu barisan, berbagai ahzab tadi menghadang dan memusuhi Risalah Dakwah Ilallah ini, yang mereka tuding sebagai sesat dan menyesatkan. Padahal mereka tahu bahwa tidak pernah dan tidak akan pernah terjadi, ada “beberapa kelompok kebenaran” (yang satu sama lain berbeda) bersatu padu menentang satu kebathilan. Yang selalu ada dan terjadi sepanjang zaman justru yang sebaliknya, berbagai kelompok kebathilan bersatu padu menghadang satu kelompok pengemban Al Haq.

Setelah fenomena tersebut di atas berlangsung berabad-abad, berbagai wacana telah dikembangkan dan berbagai upaya telah dilakukan, bahkan dengan mengorbankan banyak nyawa yang tidak tahu apa-apa tentang Amanah ini, namun keadaaan Kaum Muslimin ini dari waktu ke waktu semakin terpuruk pada kepayahan dan keterbelakangan disemua sektor kehidupan. Tidakkah terpikirkan adanya ketidakberesan pada substansi yang paling esensial? Pijakan yang paling mendasar? Sehingga karena pijakan awal yang salah, maka apapun yang dilakukan akan semakian membawa lebih jauh dari tujuan ingin dicapai.

Tidakkah terpikirkan bahwa kesalahan itu bukan berupa kesalahan dalam mengikuti petunjuk, melainkan kesalahan dalam memilih petunjuk. Ibarat pohon yang tampilan dan buahnya buruk (Syajaroh Khobitsah), yang bukan disebabkan salah urus atau kena hama, melainkan salah memilih benih yang ditanam. Tidak akan pernah ditemukan cara memperbaiki, kecuali menanam yang baru dengan benih yang benar.

Kembali ke Al Baqoroh : 2 di atas.

 ذَٲلِكَ ٱلۡڪِتَـٰبُ لَا رَيۡبَ‌ۛ فِيهِ‌ۛ هُدً۬ى لِّلۡمُتَّقِينَ

“Itu Al Kitab, tidak ada keraguan di dalamnya, adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertaqawa”. (Al Baqoroh : 2)

ذَٲلِكَ pada awal ayat di atas, artinya “itu”. Suatu kata yang digunakan untuk menunjuk sesuatu yang berada pada posisi tertentu yang jauh, baik dari yang berbicara mapun dari yang diajak bicara. Tetapi hampir semua penerjemah menerjemahkannya dengan “ini”, mungkin karena pada kenyataannya Al Quran itu tidak jauh, bahkan berada di tangan dan sedang dibaca. Ini berarti mereka telah menukar lapadz ذَٲلِكَ (itu) dengan هَـٰذَا (ini) suatu tindakan ilegal yang sangat terlarang.

Atau akankah penerjemah tersebut berpikir bahwa terdapat ikhtilaf (ketidakcocokan) antara apa yang Allah katakan dengan apa yang sebenarnya ada? Allah mengisyaratkan bahwa Al Quran itu berada jauh di sana, padahal kenyataannya berada di tangan kita? Ini suatu yang tidak mungkin terjadi. Dan pikiran demikian adalah merupakan anggapan buruk terhadap Allah.

Ada yang lain yang menerangkan bahwa Allah menggunakan kata “itu” pada ayat tersebut, bukanlah untuk arti yang sebenarnya, melainkan untuk menyatakan bahwa Al Quran itu mempunyai derajat atau nilai yang amat tinggi.

Bahwa Al Quran itu demikian, memang benar sekali, namun benarkah bahwa frase “itu Al Kitab” pada ayat di atas, Allah maksudkan untuk menyatakan hal tersebut? Jika tidak ada rujukan yang sah dari Allah tentang itu, ini termasuk mengada-ada (sok tahu) atau memalingkan makna. Juga perbuatan ilegal.

Disinilah jelas perlunya sikap ekstra hati-hati dalam mengakses petunjuk dari Al Quran. Dengan kesadaran yang tinggi akan kebodohan dan ketidaktahuan diri, sehingga jika menggunakan cara menduga-duga, atau berpendapat tanpa rujukan yang jelas dari Allah, pasti akan salah. Cari saja terus rujukan dari Allah itu, melalui fakta-fakta dan fenomena alam yang diciptakan-Nya, atau melalui telusur yang cermat (tartil) terhadap Al Quran itu sendiri. Maka ternyata Allah telah menunjukkan begitu jelas bahwa Al Kitab yang menjadi petunjuk itu, bukanlah Al Quran berupa tulisan pada kitab yang bisa dengan mudah setiap saat kita buka dan baca.

إِنَّهُ ۥ لَقُرۡءَانٌ۬ كَرِيمٌ۬ (٧٧) فِى كِتَـٰبٍ۬ مَّكۡنُونٍ۬ (٧٨) لَّا يَمَسُّهُ ۥۤ إِلَّا ٱلۡمُطَهَّرُونَ (٧٩) تَنزِيلٌ۬ مِّن رَّبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ (٨٠) أَفَبِہَـٰذَا ٱلۡحَدِيثِ أَنتُم مُّدۡهِنُونَ (٨١) وَتَجۡعَلُونَ رِزۡقَكُمۡ أَنَّكُمۡ تُكَذِّبُونَ

“Sesungguhnya ia (Al Kitab) itu, sungguh berupa suatu bacaan yang sangat mulia. Yang terdapat pada suatu “kitab” yang terjaga ketat (terproteksi). Tidak ada yang bisa menjamahnya, kecuali “Al Muthohharuun” (orang-orang yang disucikan). Diturunkan oleh (Allah) Robbul ‘Alamiin. Apakah keterangan ini lantas kamu abaikan saja? Malah rizkimu itu kamu pakai untuk membuat kepalsuan”. (Al Waqi’ah : 77-82)

بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فِى تَكۡذِيبٍ۬ (١٩) وَٱللَّهُ مِن وَرَآٮِٕہِم مُّحِيطُۢ (٢٠) بَلۡ هُوَ قُرۡءَانٌ۬ مَّجِيدٌ۬ (٢١) فِى لَوۡحٍ۬ مَّحۡفُوظِۭ

“Tapi sebenarnya orang-orang kafir itu dalam pendustaan (kepalsuan). Dan Allah meliput dari belakang mereka. Padahal sebenarnya ia (Al Kitab) itu adalah suatu bacaan yang sangat mulia. Dalam suatu file yang terpelihara”. (Al Buruj : 19-22)

Pantaslah Allah menggunakan kata ذَٲلِكَ (itu), yang berarti menunjuk sesuatu yang jauh, tanpa boleh diubah atau dipalingkan maknanya. Karena yang Allah maksud dengan Al Kitab yang menjadi petunjuk bagi manusia itu adalah suatu bacaan yang terdapat pada “lauh mahfudz”, artinya suatu file yang terpelihara, maka tidak akan pernah menjadi rusak, basi atau usang. Dan Allah menyebutnya juga sebagai “kitabun maknun”, sesuatu yang diproteksi, tidak bisa disentuh dan diakses oleh siapapun, kecuali kalangan tertentu yang definitif, yang Allah sebut Al Muthohharun (=orang-orang yang disucikan). Jadi, bukan berupa tulisan pada lembaran-lembaran kertas yang dijilid, yang ada di tangan kita. Dan bukan pula berada di “sisi Allah”, karena dikatakan: “Diturunkan dari (Allah) Robbul “Alamin”.

Kalau begitu, Al Quran yang di tangan kita ini apa?

Dengan “teknologi” yang hanya dimiliki Allah, secara berangsur-angsur, bacaan tersebut diwahyukan (ditransfer) ke dalam hati Muhammad Rosulullah.

 وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَءَامَنُواْ بِمَا نُزِّلَ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ۬

“Dan orang-orang yang beriman dan beramal soleh serta beriman akan apa yang diturunkan kepada Muhammad..”. (Muhammad : 2)

Muhammad yang tidak bisa membaca tulisan itu, dan tanpa mendengar apapun yang dibacakan, tiba-tiba muncul dihatinya suatu bacaan yang bisa beliau tuturkan dan bacakan kepada orang lain. Kemudian para sahabat yang mendengar bacaan itu, tanpa perintah atau “pesanan khusus” dari bacaan tersebut, mereka segera mengabadikannya (“memotretnya”) dalam bentuk tulisan-tulisan. Yang kemudian (dalam perjalanan sejarah) tulisan-tulisan tersebut dihimpun, diamankan dan dijadikan “master” atau klise untuk bisa digandakan seberapa banyak diinginkan orang.

Allah tidak menetapkan ketentuan atau perintah secara eksplisit, untuk menuliskan bacaan yang diwahyukan itu, atau mengubahnya menjadi bentuk tulisan, apalagi menetapkan dan mengatur cara penulisannya. Semua itu sepenuhnya merupakan ide, inisiaitif dan produk dari akal budi manusia. Bahkan Kholifaturrosul Abu Bakar Shiddiq, dikabarkan sempat keberatan atas usul Umar bin Khotthob untuk memanaje tulisan-tulisan Al Quran tersebut, karena tidak pernah diperintahkan Rosulullah, dan beliau tidak berwasiat apapun tentang tulisan-tulisan tersebut, lagipula dalam Al Quran itu sendiri tidak terkandung perintah untuk itu.

Dengan demikian, harus dikatakan bahwa Allah tidak pernah mengirimi manusia kitab secara tertulis. Tulisan kitab yang ada, tidak lain adalah potret yang dibuat orang, potret dari bacaan yang terdapat pada lauh mahfud. Dan yang terakhir itulah yang Allah maksud sebagai Al Kitab yang didalamnya terdapat petunjuk bagi manusia dari kalangan tertentu, yaitu: Orang-orang yang bertakwa. Bukan potretnya yang Allah tunjuk.

 ذَٲلِكَ ٱلۡڪِتَـٰبُ لَا رَيۡبَ‌ۛ فِيهِ‌ۛ هُدً۬ى لِّلۡمُتَّقِينَ

“Itu Al Kitab, tidak ada keraguan di dalamnya, adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa”. (Al Baqoroh : 2)

Tentunya juga bukan sekedar “taqwa” dalam basa-basi manusia, melainkan yang sebanar-benarnya taqwa, yang didasarkan pada sutu “konsep ketaqwaan” (Kalimatu`t Taqwa) yang jelas dan definitif, milik kalangan tertentu atas legalitas dari sisi Allah.

وَأَلۡزَمَهُمۡ ڪَلِمَةَ ٱلتَّقۡوَىٰ وَكَانُوٓاْ أَحَقَّ بِہَا وَأَهۡلَهَا‌ۚ 

“...dan (Allah) melazimkan (mencanangkan) bagi mereka “Kalimatu`t Taqwa (Konsep Ketaqwaan), dan adalah mereka yang berhak atas konsep tersebut dan mereka pula ahlinya (pemegang izin atasnya)”. (Al Fath : 26)

Tindakan manusia menuliskan (“memotret”) Al Quran itu, memang tidak didasarkan atas perintah yang eksplisit tertuang dalam Al Quran itu sendiri. Namun itu tidak terlepas dari “skenario” Allah. Kecenderungan dan naluri manusia untuk melakukan apapun, itu merupakan bagian dari ciptaan Allah, bagian dari qadar yang ditetapkan-Nya. Dengan cara inilah Allah melestarikan pengenalan manusia akan Al Quran, suatu bacaan yang ada pada lauh mahfud itu.

Namun tetap harus diingat bahwa penulisan Al Quran oleh manusia itu sekedar potret. Dan yang namanya potret itu tidak bisa mewakili apalagi menggantikan subyek yang dipotretnya. Tidak bisa bicara atau melakukan komunikasi. Hanya menyediakan informasi atau gambaran tertentu dari subyek yang bersangkutan. Itupun jika keadaannya tetap utuh, orisinal dan tidak diubah-ubah atau direkayasa.

Maka dari itu tidak bisa kitab yang ditulis orang, yang bisa dibaca dan dibedah siapa saja (apalagi sekedar disentuh) itu, lantas dinyatakan sebagai Al Kitab dari sisi Allah, menempati posisi dan fungsi sepenuhnya sebagai Kitabullah. Adakah potret yang diperlakukan seperti itu? Pastilah kekacauan dan kesemerawutan akan terjadi jika hal itu dilakukan.

وَمِنۡہُمۡ أُمِّيُّونَ لَا يَعۡلَمُونَ ٱلۡكِتَـٰبَ إِلَّآ أَمَانِىَّ وَإِنۡ هُمۡ إِلَّا يَظُنُّونَ (٧٨) فَوَيۡلٌ۬ لِّلَّذِينَ يَكۡتُبُونَ ٱلۡكِتَـٰبَ بِأَيۡدِيہِمۡ ثُمَّ يَقُولُونَ هَـٰذَا مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ لِيَشۡتَرُواْ بِهِۦ ثَمَنً۬ا قَلِيلاً۬‌ۖ فَوَيۡلٌ۬ لَّهُم مِّمَّا ڪَتَبَتۡ أَيۡدِيهِمۡ وَوَيۡلٌ۬ لَّهُم مِّمَّا يَكۡسِبُونَ

“Dan di antara mereka terdapat orang-orang yang buta huruf tidak mengetahui Al Kitab kecuali sebatas dongengan (mithos) dan mereka tidak lebih dari menduga-duga. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan-tangan mereka, kemudian mereka katakan: ”Ini dari sisi Allah”, agar dengan itu mereka membeli suatu harga yang sedikit (suatu nilai yang rendah). Maka kecelakaanlah bagi mereka akibat dari apa yang ditulis tangan-tangan mereka, dan kecelakaanlah bagi mereka akibat apa yang mereka usahakan”. (Al Baqoroh : 78-79)

Seperti biasanya, para ulama kaum Muslimin mengelak dan melemparkan tudingan Allah pada ayat diatas kepada kaum agama lain. Karena merekalah yang kitab sucinya itu karangan manusia. Sedangkan Kitab Suci kita ini Al Quran bukan karangan manusia. Dikatakan bahwa yang dimaksud dengan “menulis” pada ayat di atas adalah mengarang.

Lagi-lagi mengubah dan memalingkan makna. Padahal itu sangat dilarang. Sedikitpun tidak ada kebolehan untuk itu tanpa rujukan dari Allah lagi. Terlebih lagi dalam hal di atas, Allah telah mempertegas dengan: “menulis dengan tangan-tangan mereka”, dan semua orang tahu bahwa mengarang itu bukan dengan tangan. Dan perlu dicatat pula bahwa kata “Al Kitab” pada Al Baqoroh 79 diatas adalah ism ma’rifah, maka mengacu pada kata Al Kitab di ayat sebelumnya, yang juga ism ma’rifah. Jadi yang dimaksud bukan sembarang kitab melainkan Al Kitab (Kitabullah).

Memang menulis atau memotret itu tidak dilarang, yang dilarang itu jika menggunakanya untuk memalsukan sesuatu, menyesatkan orang atau kejahatan lainnya. Kita semua tahu bahwa potret itu berguna untuk mengenali aspek dhohir (fisik) dari sesuatu. Di zaman modern ini, lebih hebat lagi kemampuan manusia memotret dan mengabadikan berbagai kejadian dan berbagai objek, dan itu sangat berguna.

Tapi dengan kemampuannya itu pula mereka bisa merekayasa potret, memalsukan, atau menampilkan efek yang lain dari kejadian yang sebenarnya, yang tidak mungkin mereka lakukan pada subjek yang sebenarnya. Pada tingkat sederhana, sering dijumpai anak remaja yang iseng, potret seseorang dicorat-coret, ditambah kumis misalnya, hidungnya diubah, sehingga hilanglah gambaran dari subjek yang dipotret itu.

Tindakan terhadap Al Quran yang seperti demikianlah yang Allah tuding dengan Kalamnya di Surat Al Waqi’ah : 82, dan Al Buruuj : 19-22, terkutip di atas, dan penyimpangan yang amat jauh seperti itulah yang dilakukan Kaum Muslimin terhadap Al Kitab itu. Potret dari Al Kitab yang banyak digandakan manusia itulah, yang siapapun bisa menjamahnya dan melakukan apa saja (selain mengubah bacaannya), yang diposisikan dan disikapi sebagai sumber petunjuk, mewakili bahkan menggantikan Al Kitab yang sebenarnya Allah sediakan pada lauh mahfudz itu.

Ketika potret Al Quran tersebut dirasakan “kurang berbicara”, sulit dipahami, petunjuk yang dicari sukar diperoleh darinya, lalu mereka mengotak-atiknya, dibedah, dibongkar-pasang, ditambah itu dan ini, dengan dalih “menafsirkan” atau “menjelaskannya”. Ditambahkan berbagai macam untuk mendampingi dan melengkapinya.

Padahal mereka tetap mengatakan bahwa Al Quran itu sempurna. Bukankah sesuatu yang sempurna itu tidak membutuhkan apa-apa lagi? Apapun yang ditambahkan padanya hanya akan mengotorinya, dan yang didampingkan dengannya, berarti menyekutuinya atau menyekufuinya? Padahal di dunia manusia yang beradab, mereka tahu bahwa jika ada suatu produk hukum yang memererlukan penjelasan, maka yang berhak dan berwenang menjelaskannya adalah pihak yang membuat dan mengeluarkan produk hukum tersebut, bukan pihak lain, apalagi mereka yang justru menjadi objek hukumnya. Apakah dalam pikiran mereka, Allah itu tidak seberadab dan secanggih manusia? Subhanallah ‘amma yashifuun.

Sementara itu, terma Lauh Mahfudz hanya dikembangan sebagai dongengan atau mithos, meniru kebiasaan yang banyak terdapat pada agama-agama primitif. Diterangkan bahwa Lauh Mahfudz adalah suatu kitab yang sangat besar, berada di langit ke tujuh atau di Arasy atau di Sidrotul Muntaha, ditulis oleh Malaikat Kiroman Katibin, sementara itu sejumlah malaikat lainnya menjaga dengan ketat, dan seterusnya.

Adalah suatu kebodohan jika mempertanyakan dimana lauh mahfudz itu berada. Tidak ada urusan dan kepentingan bagi manusia untuk mengetahui hal itu. Yang penting, bagaimana cara mengakses ajaran dan petunjuk yang dikandungnya. Ibarat orang ingin menonton siaran televisi, ia tidak akan mempertanyakan dimana studio televisi itu berada, yang penting: bagaimana usaha yang harus dilakukan untuk bisa menangkap siarannya. Betul?

Allah telah menunjukkan dengan jelas, bagaimana agar bisa mengakses atau mengambil pelajaran dari Kitabullah yang hakiki. Jadilah “Al Muthohharuun”, jadilah “Ibadallahil Mukhlashiin”, Jadilah “Ulul Albaab”. Caranya, “mandikan” akal dan hati, singkirkan semua tandingan dan kufuan Allah, selamatkan akal dan hati itu dari cercaan Allah: “seperti binatang ternak” yang tidak merdeka, selalu dikungkung dengan pagar-pagar kandang (sektarisme) dan bergalau dengan kotoran.

Di bagian lain dari Al Quran, Allah menerangkan bagaimana cara yang Allah gunakan untuk mengkomunikasi manusia.

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُكَلِّمَهُ ٱللَّهُ إِلَّا وَحۡيًا أَوۡ مِن وَرَآىِٕ حِجَابٍ أَوۡ يُرۡسِلَ رَسُولاً۬ فَيُوحِىَ بِإِذۡنِهِۦ مَا يَشَآءُ‌ۚ إِنَّهُ ۥ عَلِىٌّ حَڪِيمٌ۬

“Dan tidak akan terjadi pada seorangpun bahwa Allah berbicara kepadanya, kecuali dengan cara wahyu atau dari balik hijab, atau dengan mengutus seorang rosul lalu ia mewahyukan atas izinnya, apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia itu Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana”. (Asy Syuro : 51)

Sebagai Dzat yang Maha Tinggi dan Maha Bijaksana, serta memiliki segalanya, pantas sekali Allah memilih dan menetapkan tiga cara dalam mengkomunikasi manusia, yakni:
  1. Mewahyukan (mentransformasikan) langsung kepada internal diri (jiwa) orang yang dikehendaki-Nya.
  2. Berbicara (menyampaikan Kalam) langsung kepada yang bersangkutan dari balik hijab (tanpa “muwajahah”).
  3. Mengutus seorang Rosul, yakni menyampaikan berbagai urusan melalui peran seorang penyampai Risalah, yang kemudian melembaga.
Sejauh keterangan yang diperoleh dari Al Quran, cara pertama di atas Allah lakukan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, menyangkut urusan apa saja, tanpa memandang siapapun ia. Seperti kepada Ummi Musa tentang ide menghanyutkan bayinya di aliran sungai, dan kepada para Hawariyyin (pengikut Nabi Musa) dalam urusan tumbuhnya Iman. Bahkan kepada lebah, kepada langit dan kepada bumi.

Cara kedua hanya dilakukan kepada Rosul-Rosul tertentu, antara lain, Nabi Musa dan Nabi Muhammad, dan mungkin Rosul lainnya yang mendapatkan bagian dari materi Al Kitab, yakni Nabi Daud dan Nabi Isa. Adapun cara ketiga, Allah lakukan kepada orang-orang Mukmin yang Dia kehendaki untuk mendapat petunjuk dan bimbingan-Nya.

Uraian lebih lanjut sekitar wahyu dan pewahyuan ini, bisa dibaca pada tulisan lain dari penulis serial ini, dalam judul: Menjernihkan Visi Tentang Wahyu.

Itulah tiga cara yang Allah tetapkan dalam mengomunikasikan berbagai urusan kepada makhluk-Nya, dan tidak ada cara lainnya, misalnya secara tertulis atau lisan. Itu terlalu rendah bagi Dzat Yang Maha Tinggi. Oleh sebab itu, tidak bisa seseorang merasa mendapat perintah atau petunjuk Allah, hanya dari membaca tulisan Al Quran, karena itu bukan dari Allah. Itu hanya potret yang dibuat dan digandakan orang.

Ibarat seseorang mendapati fotokopi seberkas surat, betapapun tertariknya ia dengan isi surat tersebut, tidak bisa ia lantas menganggap surat itu untuk dirinya.

Dalam urusan dikalangan manusia saja, jika naskah suatu undang-undang atau produk hukum lainnya, dikopi dan digandakan kemudian beredar di masyarakat, tidak lantas setiap orang membaca, berusaha memahami, kemudian merespon atau “mengamalkannya” secara sendiri-sendiri. Melainkan, pengoperasian produk hukum tersebut pasti akan melalui tatanan struktural dari suatu institusi yang legal dan kompenten untuk itu.

Pantaskah Urusan Allah Yang Maha tinggi ini, sedemikian naifnya? Digelar orang sesukanya dengan semerawut tanpa sistem, sama sekali tidak melirik aspek originalitas, legalitas/kompetensi dan aktualitas?

Demikianlah, Allah pun telah menerangakan bahwa orang-orang yang tidak mengerti itu beranggapan bahwa setiap orang merasa punya akses terhadap kalamullah, atau langsung menjadi mukhotob (yang diajak bicara) oleh-Nya.

وَقَالَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ لَوۡلَا يُكَلِّمُنَا ٱللَّهُ أَوۡ تَأۡتِينَآ ءَايَةٌ۬‌ۗ كَذَٲلِكَ قَالَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِم مِّثۡلَ قَوۡلِهِمۡ‌ۘ تَشَـٰبَهَتۡ قُلُوبُهُمۡ‌ۗ

“Dan orang-orang yang tidak mengerti itu berkata: “Mengapa tidak Allah berbicara langsung kepada kami, atau datang kepada kami suatu ayat”. Begitulah berkata orang-orang yang sebelum mereka, seperti perkataan mereka. Hati-hati mereka serupa...” (Al Baqoroh : 118)

Berdasarkan qadar dan Sunnatullah yang ditetapkan-Nya, Allah akan memunculkan orang yang berhasil meraih legalitas dan izin-Nya, untuk membacakan dan menyampaikan Kalam-Nya kepada manusia, dan dari dirinyalah akan tumbuh dan tegak lembaga Dienullah yang akan mengoperasionalkan segala titah dan petunjuk-Nya, secara original, legal dan aktual. Itulah “cara Allah” sebagaimana tersebut pada Surat Asy Syuro 51-52 terkutip di atas.
Save
Name

Dakwah Ilallah,12,Jalan Keselamatan,7,Jurnal Roqim,1,Kajian Lepas,42,Manhaj Risalah,12,
ltr
item
Ini Islam: Hakikat Al Quran Dalam Sistem Hidayah
Hakikat Al Quran Dalam Sistem Hidayah
https://3.bp.blogspot.com/-6G9p5-m7lkQ/WNFOsoMM5WI/AAAAAAAAALk/c8Ptnq_Kl6EvjnJrcyoRuB-0C6UsNrkCwCLcB/s640/hakikat-alquran-dalam-sistem-hidayah.png
https://3.bp.blogspot.com/-6G9p5-m7lkQ/WNFOsoMM5WI/AAAAAAAAALk/c8Ptnq_Kl6EvjnJrcyoRuB-0C6UsNrkCwCLcB/s72-c/hakikat-alquran-dalam-sistem-hidayah.png
Ini Islam
http://www.iniislam.net/2017/01/hakikat-alquran-dalam-sistem-hidayah.html
http://www.iniislam.net/
http://www.iniislam.net/
http://www.iniislam.net/2017/01/hakikat-alquran-dalam-sistem-hidayah.html
true
7017169815549685310
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy