Iman Dan Pertumbuhannya

SHARE:

Pada seri terdahulu telah dibahas, bahwa dengan menghubungkan Kalamulah, Al Fajr : 27 – 30 tentang Jiwa yang muthmainnah dengan Asy ...

iman-dan-pertumbuhannya

Pada seri terdahulu telah dibahas, bahwa dengan menghubungkan Kalamulah, Al Fajr : 27 – 30 tentang Jiwa yang muthmainnah dengan Asy Syams : 7-10 tentang jiwa dan pertumbuhannya dan ayat-ayat tentang “nominator” penghuni surga, lalu dengan menghindari cara menduga-duga yang sangat spekulatif, dan tidak gegabah mendefinisikan sesuatu tanpa validitas fakta dan data, kita dapat mengidentifikasi bahwa Nafsul Muthmainnah itu adalah jiwa yang berhasil terinstalkan ke dalamnya berbagai “Pesanan Allah”, yang ciri-ciri karakterisistik dari segala aspeknya tidak keluar dari konsep atau “daftar pesananan”-Nya itu. Diantara pesanan Allah itu, yang paling pertama adalah: IMAN.

Sehubungan dengan Amanah Allah yang dipikul manusia, Allah mengingatkan kita bahwa pada Hari Akhir dimana segala Pesanan Allah itu dibuka dan dievaluasi, sudah tidak ada lagi peluang dan kesempatan untuk melakukan upaya penyelamatan dengan cara apapun. Maka selagi masih ada waktu, carilah kepastian yang benar-benar meyakinkan dan terbukti bahwa segala pesanan Allah itu telah diperoleh dengan benar.

وَٱتَّقُواْ يَوۡمً۬ا لَّا تَجۡزِى نَفۡسٌ عَن نَّفۡسٍ۬ شَيۡـًٔ۬ا وَلَا يُقۡبَلُ مِنۡہَا شَفَـٰعَةٌ۬ وَلَا يُؤۡخَذُ مِنۡہَا عَدۡلٌ۬ وَلَا هُمۡ يُنصَرُونَ

“Dan hati-hatilah (waspadalah) akan suatu hari dimana tidak ada seorangpun yang bisa membela orang lain barang sedikitpun, dan tidak diterima suatu syafa’atpun, dan tidak pula diterima darinya suatu tebusan dan mereka tidak dapat ditolong”. (Al Baqoroh : 48)

Lalu berkaitan dengan itu Allah mengingatkan pula, agar siapapun yang merasa atau mengira bahwa dirinya telah beriman, hendaklah waspada dan hati-hati, jangan-jangan yang dikiranya iman itu ternyata bukan iman, atau tidak memenuhi karakteristik dan standar kualifikasi yang diminta.

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ

“Dan sebagian manusia ada yang mengatakan (mengakui, beranggapan): “Kami telah beriman kepada Allah dan kepada Hari Akhir”. Padahal (sebenarnya) mereka bukanlah orang-orang yang beriman”. (Al Baqoroh : 8)

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ (٢) وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ‌ۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَـٰذِبِينَ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja untuk mengatakan “kami telah beriman” tanpa mereka diuji? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka pastilah terbukti orang-orang yang benar, dan terbukti pula orang-orang yang dusta”. (Al Ankabut : 2-3 )

قَالَتِ ٱلۡأَعۡرَابُ ءَامَنَّا‌ۖ قُل لَّمۡ تُؤۡمِنُواْ وَلَـٰكِن قُولُوٓاْ أَسۡلَمۡنَا وَلَمَّا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَـٰنُ فِى قُلُوبِكُمۡ‌ۖ

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman” Katakanlah: “Kamu belum beriman, katakan saja kami telah tunduk (menyerah), karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu”...” (Al Hujurot : 14)

Yang pertama di atas, kemungkinannya adalah disebabkan kekurangtahuan atau kurang peduli kepada petunjuk dari Allah, atau ada sesuatu yang mengganggu (“marodlun”) pada hati dan pikiran mereka, maka mereka lebih terdominasi oleh orang banyak di sekitarnya.

Sedangkan yang kedua, yang dalam pandangan Allah terbukti bohong, dimungkinkan karena dominasi hawa nafsunya atau kekurangan pengetahuan (dholuuman jahuula) membuatnya tidak mampu (enggan) mengimplementasikan imannya dengan sikap dan tindakan yang semestinya ditampilkan oleh orang yang beriman.

Adapun yang ketiga dimungkinkan karena ketidak-berdayaan melawan kekuatan (otoritas) atas dirinya, baik yang bersifat struktural maupun yang bersifat kultural, bahkan mungkin intelektual, yaitu tidak punya hujjah untuk menyanggah atau menolak. Maka ia ikuti saja. Tentu yang demikian ini akan bersifat hampa tanpa kandungan rasa amanah dan tanggung jawab. Karena sesungguhnya di dalam hatinya belum tumbuh sesuatu yang layak dipandang sebagai iman.

Jika demikian halnya, lantas apakah yang sebenarnya iman itu?

Iman bukan sejenis kepercayaan atau “suatu sistem kepercayaan” seperti yang dilihat para antropolog dalam disiplin ilmu mereka. Percaya adalah sesuatu yang mengada (terbersit) berkaitan dengan pengetahuan. Seseorang dikatakan percaya, ketika ia membenarkan (menganggap benar) keterangan atau informasi tentang sesuatu yang ia terima, lalu menjadilah sebentuk pengetahuan tentang sesuatu itu pada dirinya. Kendatipun misalnya keterangan yang ia terima itu sebenarnya salah (tidak benar), namun tetap saja pengetahuan yang terbentuk pada dirinya itu sebagaimana keterangan yang ia benarkan tadi.

Percaya itu urusan akal atau pikiran. Artinya, untuk memutuskan apakah ia percaya atau tidak, akal-lah yang bekerja. Walaupun dalam kenyataannya sangat banyak orang yang mempercayai berbagai hal, tanpa menggunakan akalnya. Inilah yang sering digugat Allah, suatu penyia-nyiaan atas karunia Allah yang sangat spesial dan berharga, yaitu akal pikiran, sekaligus pendholiman terhadap diri sendiri.

Memang peranan akal tidak absolut dan tetap terbatas, ada saatnya seseorang percaya akan sesuatu tanpa mengaktifkan akalnya. Akan tetapi itu bukan pembatasan atupun pengecualian yang diterima dengan terpaksa, melainkan justru merupakan hasil kerja dan kesimpulan akal itu sendiri, dimana akal harus tunduk kepada Maha Penciptanya dengan ridho dan diridhoi. Pembahasan lebih lanjut tentang hal ini, insyaallah di bagian lain yang berkaitan juga dengan termina “Ulul Albaab”.

Ringkas kata, sebagaimana telah diutarakan pada pembahasan yang terdahulu, bahwa iman itu bukan sejenis atau suatu bentuk kepercayaan yang merupakan urusan akal. Iman adalah urusan hati (tempatnya di hati), maka iman adalah sejenis perasaan. Seseorang dikatakan beriman kepada Allah, ketika di hatinya tumbuh suatu perasaan tertentu kepada-Nya, yaitu perasaan CINTA. Suatu perpaduan antara “rojaa”, gandrung dan damba akan keridhoan-Nya, dan “khosyyah”, takut gagal mendapatkan cinta-Nya dan ditinggal dalam kemarahan-Nya.

Demikianlah, Iman itu adalah cinta kepada Allah, dan hanya kepada-Nya saja. Rasa cinta yang ada pada manusia kepada berbagai hal yang lainnya, adalah karunia Allah, bagian dari perwujudan Rahman Rahim-Nya. Bebagai cinta tersebut hanya boleh tumbuh bersama dalam kandungan cinta kepada–Nya, maka tidak akan pernah tumbuh membesar melampaui dinding-dinding Iman.

Cinta (paduan antara harap dan takut) adalah suatu generator pembangkit energi (kekuatan) jiwa yang akan menumbuhkan komitmen dan kesiapan berbuat dan berkorban demi apa yang dicintainya itu. Maka cinta akan berbagai hal itu tidak boleh keluar (melampaui) komitmen kepada Allah, malah sebaliknya harus menjadi faktor pembangun komitmen kepada-Nya.

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادً۬ا يُحِبُّونَہُمۡ كَحُبِّ ٱللَّهِ‌ۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَشَدُّ حُبًّ۬ا لِّلَّهِ‌ۗ وَلَوۡ يَرَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓاْ إِذۡ يَرَوۡنَ ٱلۡعَذَابَ أَنَّ ٱلۡقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعً۬ا وَأَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعَذَابِ

“Dan di antara manusia ada yang menjadikan yang selain Allah sebagai tandingan-tandingan, dengan mencintai mereka seperti mencintai Allah, sedangkan orang-orang yang beriman itu amat sangat cintanya kepada Allah. Kalau saja orang-orang yang dholim itu tahu ketika mereka melihat adzab, bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah, dan bahwa adzab Allah itu amat dahsyat”. (Al Baqoroh : 165)

Itulah yang namanya cinta, membangkitkan energi (kekuatan), menumbuhkan komitmen (aqiedah). Sedangkan yang namanya percaya sama sekali tidak demikian. Seseorang yang menyatakan cinta tetapi tidak diikuti dengan sikap dan perbuatan yang membuktikannya, maka pernyataannya itu akan dinilai palsu, bohong atau munafik.

Tidak demikian halnya dengan percaya. Misalnya ketika suatu Bank berpromosi bahwa bank tersebut bonafit, menjadi nasabahnya akan aman dan menguntungkan dan sebagainya. Bisa saja banyak orang yang menyatakan percaya dan tidak meragukan hal tersebut. Namun demikian tidak akan ada yang menilai jelek apalagi mempersalahkanya, jika orang-orang itu tidak lantas menjadi nasabah bank tersebut.

Dengan penguraian dan kesimpulan di atas, belum berarti bahwa telusur identifikasi iman itu telah tuntas dan jelas. Bicara tentang suatu perasaan yang tumbuh di hati, ada banyak sekali macamnya perasaan tersebut. Bahkan cinta itupun konon banyak ragamnya. Oleh sebab itu, ketika seseorang telah menyatakan (bahkan merasakan) cinta kepada Allah, masih perlu penelusuran lebih lanjut untuk memastikan originalitas (kemukhlisan)-nya dan kebersihan dari unsur-unsur yang mengotorinya.

Jika iman itu tergolongkan ke dalam jenis perasaan yang tumbuh di hati, maka segala yang tumbuh itu pasti bermula dari adanya suatu benih yang bila mendapat stimulus dan dukungan tertentu, benih tersebut bisa tumbuh dan berkembang. Jika di suatu habitat tidak terdapat benih apapun maka tidak akan ada sesuatupun yang tumbuh. Sebaliknya, kalaupun ada benih yang tersedia, tetapi tidak pernah ada rangsangan dan dukungan yang signifikan terhadapnya, maka benih itupun akan mati tanpa menumbuhkan apa-apa. Atau jika stimulus yang diterima berasal dari spesies lain, maka yang tumbuh adalah spesies yang berbeda dengan spesies dari mana benih itu berasal.

Persis seperti demikianlah halnya dengan iman. Allah telah “memasang” benih iman itu pada manusia sejak dari benih manusia itu sendiri, sebagai kodrat (Sunnatullah) pada penciptaan manusia. Sebagaimana pada sisi ragawi, sifat-sifat fisik manusia telah terpasang dan akan tumbuh terarah dari kromosom(inti sel) pada “benih” manusia itu sendiri, demikian pula halnya dengan sifat-sifat naluriyah (tabi’at dasar) yang universal dari jiwa manusia. Ada semacam “kromosomnya” jiwa dari mana sifat-sifat bawaan manusia itu tumbuh mencuat.

وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَہُمۡ وَأَشۡہَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِہِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡ‌ۖ قَالُواْ بَلَىٰ‌ۛ شَهِدۡنَآ‌ۛ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ إِنَّا ڪُنَّا عَنۡ هَـٰذَا غَـٰفِلِينَ (١٧٢) أَوۡ تَقُولُوٓاْ إِنَّمَآ أَشۡرَكَ ءَابَآؤُنَا مِن قَبۡلُ وَڪُنَّا ذُرِّيَّةً۬ مِّنۢ بَعۡدِهِمۡ‌ۖ أَفَتُہۡلِكُنَا بِمَا فَعَلَ ٱلۡمُبۡطِلُونَ (١٧٣) وَكَذَٲلِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡأَيَـٰتِ وَلَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ

“Ingatlah ketika Robbmu mengambil dari punggung-punggung bani Adam keturunan mereka, dan kami persaksikan atas jiwa-jiwa mereka: “Bukankah Aku ini Robb kalian?” Mereka berkata: “Benar, kami bersaksi”. Agar pada Hari Kiamat kamu tidak mengatakan (unjuk alasan): “Sesungguhnya kami lengah (tidak mendapat keterangan) tentang hal ini. Atau (agar tidak juga) kamu mengatakan: “Sesungguhnya yang menyekutukan itu orang-orang tua kami dahulu, dan kami hanya keturunan (penerus) sesudah mereka. Apakah Engkau akan membinasakan kami disebabkan perbuatan mereka yang membuat kebatilan? Dan demikianlah Kami memperinci ayat-ayat, agar mereka bisa kembali (merujuk kepada ayat ayat itu)” . (Al A’raf : 172-174)

Dengan tuturan dialogis pada ayat di atas, bukan berarti Allah melakukan “dialog” dengan cikal bakal jiwa manusia, melainkan ketika Allah mengaplikasikan sebentuk “software” kepadanya kemudian ditest, ternyata teraplikasikan dengan sempurna.

Dengan pemasangan tabiat dasar seperti dimaksud dalam ayat di atas, maka secara fithriyah (naluriyah) terbentuklah suatu prinsip atau kaidah pada pola pikir manusia secara universal (apapun doktrin atau ajaran yang mereka anut) bahwa siapapun yang membuat atau menciptakan sesuatu, atas kemauan dan kemampuan dirinya, maka Si Pembuat atau Si Pencipta itulah pemilik dan penguasa atas apa yang ia buat/ciptakan itu. Dialah yang berhak memutuskan apapun atas apa yang menjadi miliknya. Kemudian apabila si pembuat tadi adalah seseorang atau sesuatu yang dimiliki atau dikuasai orang lain, maka apapun yang dia hasilkan adalah milik tuannya itu.

Hal tersebut bukanlah suatu kesepakatan atau suatu klausul dari undang-undang buatan manusia yang perlu disosialisasikan agar menjadi pengetahuan orang banyak, melainkan suatu “kaidah alam” yang universal, tabiat yang ada pada setiap diri manusia yang normal. Dengan demikian siapa saja yang melanggar kaidah tersebut, ia tidak bisa mengelak dengan alasan tidak tahu atau tidak tahu menahu akan hal itu, ia tetap harus mempertangungjawabkannya di Hari Akhir nanti.

Implikasi dari kaidah yang universal tadi, maka setiap insan akan berpandangan bahwa segala sesuatu itu ada pemiliknya, karena pasti ada yang membuat atau mewujudkannya. Sedangkan pencipta yang paling awal dari segala yang dibuat dan diciptakan adalah Allah. Maka Allahlah Pemilik dan Penguasa atas segala yang ada. Dialah “Robbul Alamin”. Pemilik dan Penguasa Alam Semesta”.

إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ۬ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ‌ۖ يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَ‌ۖ مَا مِن شَفِيعٍ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ إِذۡنِهِۦ‌ۚ ذَٲلِڪُمُ ٱللَّهُ رَبُّڪُمۡ فَٱعۡبُدُوهُ‌ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Robb kamu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari kemudian Ia bersemayam atas ‘arsy mengatur (memanaje) segala urusan. Tidak ada satupun pemberi syafaat kecuali setelah izin-Nya. Itulah Allah Robb kamu semua, maka mengabdilah kalian kepada-Nya. Tidakkah kamu mengambil pelajaran ?” (Yunus : 3)

Tidakkah kamu mengambil pelajaran? Pertanyaan di ujung ayat di atas menunjukkan bahwa pengakuan manusia atas posisi dan peranan Allah serta kewajiban manusia terhadapnya, itu dapat dipelajari manusia dari fakta-fakta kauniyah dan thobi’iyyah, karena telah ‘terinstal” dan terbaca pada keberadaan dan tabiat alam dan kehidupan manusia. Allah hanya mengingatkan saja dengan Kalam-Nya itu (Adz Dzikr), karena manusianya banyak lengah, lalai dan tidak awas.

أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُ‌ۗ

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah itu hanyalah hak Allah...”. (Al A’rof : 54)

Apa yang Allah aplikasikan pada jiwa manusia (seperti dimaksud pada Al A’rof : 172 di atas) telah teraplikasikan dengan baik, terbukti dengan adanya pengakuan semua manusia bahwa alam ini ciptaan “Tuhan” (God). Tapi kemudian ketika manusia ingin mengenal lebih lanjut tentang Tuhan tersebut, mereka hanya menduga-duga tanpa petunjuk, atau mengumbar nalar berfilsafat, atau berpegang kepada petunjuk (ajaran) yang bukan berasal dari Tuhan itu sendiri. Maka pantaslah visi ketuhanan mereka jadi ngawur dan berantakan.

وَلَٮِٕن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَسَخَّرَ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُ‌ۖ فَأَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ

“Jika kamu tanya mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Mereka pasti menjawab “Allah”. Lalu bagaimana mereka bisa dipalingkan ?” (Al Ankabut : 61)

Pengakuan manusia akan adanya Tuhan Pencipta Alam Semesta (apapun nama yang manusia gunakan untuk menyebutnya), itulah benih iman yang tersedia pada setiap individu manusia. Jika ada orang yang betul-betul menolak keberadaan Tuhan itu, pastilah ia telah membunuh sendiri benih itu, atau disadari atau tidak, telah terhirup ke dalam pikiran dan hatinya sesuatu yang mematikan benih tersebut.

Setelah benih tersedia, masih diperlukan adanya sesuatu (stimulus) yang membuahinya untuk menjadi hidup dan tumbuh berkembang. Dan Allah pun telah menyediakan stimulus tersebut berupa “ilmu” dalam kemasan “ayat-ayat-Nya” dan sekaligus menyediakan akses atau saluran untuk masuknya stimulus tersebut dan membuahi benih yang ada. Saluran dimaksud adalah: Indera, akal dan hati, (sam’a wal abshor wal af`idah).

Benih apapun di alam ini yang bisa tumbuh dan hidup, adalah berupa unsur-unsur yang berpasangan (jantan-betina). Dan Allah tidak memberi kekuatan atau kemampuan pada masing-masing unsur tersebut untuk dapat saling mendatangi dan menyatu dengan sendirinya. Diperlukan sesuatu yang lain, yang dengan gerak mobilitas yang dilakukannya bisa menyatukan pasangan tersebut kawin.

Untuk tumbuhnya iman dari benih yang sudah tersedia, itupun demikian pula halnya. Diperlukan peran seorang “Munadi” (penyeru) yang menyeru manusia untuk beriman, atau menumbuhkan benih iman yang sudah ada pada mereka, dengan jalan membacakan ayat-ayat Allah kepada mereka, menta’lim mereka dengan Al Kitab dan Hikmah, dan menyingkirkan berbagai penghambat atau kotoran yang menutupi hati mereka.

Allah menerangkan bagaimana ungkapan orang-orang Mukmin pada stadium awal pertumbuhan iman dalam hatinya.

رَّبَّنَآ إِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِيً۬ا يُنَادِى لِلۡإِيمَـٰنِ أَنۡ ءَامِنُواْ بِرَبِّكُمۡ فَـَٔامَنَّا‌ۚ

“Robb kami, sesungguhnya kami telah mendengar seorang penyeru yang menyerukan iman: “Berimanlah kalian kepada Robbmu”. Maka kami pun beriman...”. (Ali Imron : 193)

Memang dimungkinkan bagi manusia untuk bisa melakukan sendiri upaya men-“download” Ilmu Allah melalui situs-situs Robbani, yakni ayat-ayat Allah yang tersebar di kedua dimensi ruang dan waktu dari alam ini. Lalu disenyawakan dengan Adz Dzikr (Kalamullah) kemudian ditanamkan ke dalam hati dan lubuk jiwanya, maka tumbuhlah iman.

إِنَّ فِى خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَـٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّہَارِ لَأَيَـٰتٍ۬ لِّأُوْلِى ٱلۡأَلۡبَـٰبِ (١٩٠) ٱلَّذِينَ يَذۡكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَـٰمً۬ا وَقُعُودً۬ا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمۡ وَيَتَفَڪَّرُونَ فِى خَلۡقِ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَـٰذَا بَـٰطِلاً۬ سُبۡحَـٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi (ruang) dan pergantian malam dan siang (waktu) sungguh terdapat ayat-ayat (bukti-bukti kebenaran) bagi Ulul Albaab. Yaitu orang-orang yang selalu mengingat Allah baik dalam berdiri, duduk ataupun berbaring, dan selalu berpikir tentang penciptaan langit dan bumi. “Robb kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini secara bathil (tanpa ilmu dan kebijakan –hikmah–). Maha Suci Engkau, maka selamatkanlah kami dari adzab neraka”. (Ali Imron : 190-191)

Setelah tumbuh kesadaran dan iman kepada Allah dari hasil upaya tadzakkur dan mentafakuri ayat-ayat-Nya, maka iapun bangkit menyeru manusia, menjalankan peran “Munadiyan Yunaadii lil Iimaan” sebagaimana tersebut di atas.

Namun amat jarang sekali manusia yang mau melakukan cara Ulul Albaab men-download Ilmu Allah seperti itu. Kebanyakan mereka merasa cukup dengan mendengar apa yang diperkatakan orang banyak, atau membaca buku dan kitab yang ditulis orang, walaupun hanya berisi karangan/fiksi, angan-angan dan khayalan. Sama sekali bukan sesuatu yang dari Allah. Sehingga dengan demikian yang terakses ke dalam jiwa mereka sama sekali bukan yang Allah sediakan untuk membuahi benih iman yang ada pada dirinya. Maka bagaimanapun tidak akan berhasil menumbuh benih tersebut.

Walaupun mungkin saja ada sesuatu yang tumbuh pada jiwanya, itu bukanlah Iman yang Allah pesan, melainkan sosok-sosok lain yang aneh-aneh, ganjil dan sangat beragam. Yang demikian inilah yang terbaca oleh para Antropolog sebagai sistem kepercayaan, bahkan mysticisme (mistik), budaya primitif yang masih mengasyikkan dan membodohi sebagian masyarakat modern. Sebagaimanapun memukaunya atribut atau label yang mereka pasang: Iman, Islam, Taqwa, Ibadah dan sebagainya, tapi tetap saja yang demikian itu bukan iman. Allah pasti menolaknya, seperti tiga penolak tersebut di muka.

وَمِنۡہُمۡ أُمِّيُّونَ لَا يَعۡلَمُونَ ٱلۡكِتَـٰبَ إِلَّآ أَمَانِىَّ وَإِنۡ هُمۡ إِلَّا يَظُنُّونَ (٧٨) فَوَيۡلٌ۬ لِّلَّذِينَ يَكۡتُبُونَ ٱلۡكِتَـٰبَ بِأَيۡدِيہِمۡ ثُمَّ يَقُولُونَ هَـٰذَا مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ لِيَشۡتَرُواْ بِهِۦ ثَمَنً۬ا قَلِيلاً۬‌ۖ فَوَيۡلٌ۬ لَّهُم مِّمَّا ڪَتَبَتۡ أَيۡدِيهِمۡ وَوَيۡلٌ۬ لَّهُم مِّمَّا يَكۡسِبُونَ

“Dan sebagian mereka adalah orang-orang ummiy yang tidak mengetahui Al Kitab kecuali angan-angan kosong saja, dan mereka tiada lain hanyalah menduga-duga. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka kemudian mereka katakan (anggap): “Ini dari sisi Allah” untuk membeli dengannya harga yang sedikit. Maka kecelakaanlah bagi mereka akibat dari apa yang ditulis tangan-tangan mereka, dan kecelakaanlah bagi mereka akibat dari apa yang mereka usahakan.” (Al Baqoroh : 78-79)

Ilmu yang dimaksud dalam penuturan di atas adalah pengetahuan yang benar tentang Allah, atau pengenalan lebih dekat kepada Allah yang akan menumbuhkan berbagai kesadaran pada manusia dan membuat mereka “jatuh cinta” kepada-Nya, serta mampu membuktikan cintanya (berupa kepasrahan dan pengabdian) secara tepat dan benar, sehinga Allah benar-benar berkenan (ridho) karenanya.

Pengetahuan yang relevan dan signifikan untuk itu, paling tidak menyangkut empat hal, yaitu:
  1. Asma-Nya. Yakni apa-apa yang pada manusia kita menyebutnya “kepribadian” (personality), dimana manusia wajib memahami dan mengapresiasinya dengan benar dan baik. Bukan sekedar mengetahui nama-nama atau sebutan yang bisa digunakan untuk memanggil-Nya.
  2. Maqom (kedudukan-Nya). Yakni "tahta-Nya", sebagai apa dan bagaimana tahta yang Allah lungguhi itu. Tidak cukup hanya dengan mengetahui dan menyebut Allah sebagai Tuhan Semesta Alam. Karena terminologi "Tuhan" sangat kabur dan sangat tidak cukup menggambarkan tentang sejelasnya Tahta atau kedudukan tertinggi yang Allah miliki.
  3. Urusan-Nya (Amrullah) yakni hal ihwal yang berkaitan dengan “Program” Allah, Risalah-Nya, Amanah atau Missi yang diembankan kepada manusia, tatanan struktural yang dibangun dan ditegakkan-Nya, dan sebagainya. Yang atas dasar itu manusia harus mampu dengan benar menata landasan ideal, struktural dan operasional/kultural dalam menjalankan kiprah jihad dan amal pengabdian kepada-Nya.
  4. Af’al-Nya, yang dimaksud adalah “cara Allah” dalam mewujudkan “Kalimah-Nya” (konsep-Nya), khususnya yang berhubunan dengan kewajiban manusia dalam mengapresiasi dan meresponnya, berkaitan dengan muatan Amanah di dalamnya. Yang pasti cara itu eksklusif, unik dan spesifik, benar-benar lain dengan cara siapapun makhluk ciptaan-Nya. Bagaimana cara Allah memberi karunia dan menolong hamba-hamba-Nya, bagaimana Dia menurunkan Hidayah, memberi perintah dan lain sebagainya.
Dengan mengetahui “cara kerja” Allah, manusia dapat mengetahui mana yang benar-benar dari Allah dan mana yang dipalsukan orang. Tambahan pula, mereka akan terjaga dari kesalahan dalam mempersepsi, mengapresiasi dan merespon segala yang Allah lakukan dan sodorkan.
Ilmu atau pengetahuan tentang hal-hal diatas itulah yang harus membuahi benih Iman yang ada pada manusia, agar hidup, tumbuh dan berkembang sesuai dengan fitrahnya.

Dan mesti selalu diingat bahwa ilmu-ilmu tersebut harus benar-benar terakses dari sumber yang benar, hanya dari Allah, dan dengan cara yang benar. Karena dalam konsep “Kalimatullah” yang Maha Tinggi dan Sempurna, Allah telah “memprogram dan mengaplikasikan” secara tuntas, sistem dan mekanisme yang harus dijalankan dalam mengakses Ilmu Allah tersebut.

Namun apa yang terjadi di “dunia Islam”? Yang diajarkan kepada masyarakat Muslim selama berabad-abad, justru hal-hal yang sulit dicari unurgensi dan relevansinya dengan penumbuhan dan pemupukan Iman. Malah “sifat 20” dan hal-hal tetek bengek yang dikaitkan dengan “sosok dan perilaku” Allah. Pada level yang lebih “tinggi” lagi, berlanjut ke berbagai ikhtilaf tentang itu yang kian merebak tak tentu ujungnya. Sampai akhirnya semua merasa bosan dan kecapaian, lalu diam dengan sendirinya tanpa kesimpulan dan kesadaran apapun.

Inilah yang di semua ma’had dan madrasah merupakan isi kandungan dari “Pelajaran Keimanan”. Bukankah itu justru sikap “kurang ajar” terhadap Dzat Yang Maha Suci, Maha Tinggi dan Maha Agung?

Adakah hubungannya pengetahun tentang hal-hal demikian itu dengan tumbuhnya cinta yang tulus dan suci kepada-Nya? Silakan ber-ibroh dan beranalog. Jika seorang pemuda ditawari jodoh seorang gadis yang belum dilihatnya, dan diusahakan Si Pemuda tersebut jatuh cinta. Maka diterangkanlah bahwa gadis tersebut: Sudah dilahirkan, hidup, berkaki dan tangan, bisa berjalan, bisa melihat dan mendengar ... ! Akan tumbuh cinta di hati Si Pemuda?

Sulit dibayangkan, apa sebetulnya yang ada dan tumbuh di hati sedemikian banyak manusia yang begitu syahdunya bicara tentang Iman. Pantaslah jika para Antropolog menyebutnya sebagai sistem kepercayaan. Karena memang hanya sebatas itulah yang ada.

Bicara sedikit lagi tentang Ilmu, sekedar hubungannya dengan tumbuhnya Iman, ternyata ilmu itu, yang bisa membuahi benih iman itu, adalah sesutu yang hidup dan tersusun dari dua unsur yang berpasangan. Dan yang hidup itu hanya yang dari Allah. Apapun yang diproduk manusia itu mati, tak bernyawa.

سُبۡحَـٰنَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلۡأَزۡوَٲجَ ڪُلَّهَا مِمَّا تُنۢبِتُ ٱلۡأَرۡضُ وَمِنۡ أَنفُسِهِمۡ وَمِمَّا لَا يَعۡلَمُونَ

“Maha Suci Allah yang telah menciptakan segalanya berpasang-pasangan. Dari apa yang ditumbuhkan bumi, dan dari diri mereka sendiri, dan dari apa yang tidak mereka ketahui”. (Yaa Siin : 36)

Apapun pengetahuan manusia yang merupakan hasil pengamatan terhadap fakta-fakta kauniyah (data-data empirik), yang Allah sebut dalam Al Quran sebagai “Ayat-ayat Allah” baru akan benar-benar menjadi cahaya yang bisa menembus hakikat di balik fenomena, sekaligus menembus kegelapan Hari Akhir yang gaib, jika telah “kawin” dengan pasanganya, Ayat-ayat Allah jenis lainnya, yaitu KALAMULLAH.

Kerena sifatnya yang telah ada dan “menunggu” di bumi, Ilmu yang terakses (terbaca dari apa yang Allah ciptakan), itulah jenis perempuan (muannats/inats), sedangkan pasangannya yang berupa Kalamullah yang datang belakangan dan “turun dari langit”, itulah jenis laki-laki (mudzakkar/dzukron) yang bisa membuahinya.

Ilmu yang terakses dari membaca apa yang ada dan terjadi, (yang dipandang sebagai muannats itu) Allah sebut Al Hikmah. Sedangkan petunjuk (guide) dan penjelasan yang diperoleh dari Kalam-Nya, itu Adz Dzikr. Tampak jelas dari sini, kata “Adz Dzikr” berkaitan morfologis (tashrifi) dengan kata Mudzakkar yang artinya jenis laki-laki.

Satu catatan lagi, bahwa peranan yang mungkin bisa diusahakan manusia (peran Munadi) hanya sampai memadukan jenis muannats dan mudzakkar tadi, adapun yang membuatnya hidup di hati seseorang dan menjadikannya cahaya iman yang menerangi kehidupannya, hanya hak Allah dengan mentransfer (mewahyukan) suatu ”ruh” dari urusan-Nya (Ruuhan Min Amrina)

Penjelasan dari Allah tentang fenomena di atas antara lain pada rangkaian Kalam-Nya Surat Asy Syuro : 49 – 52.

لِّلَّهِ مُلۡكُ ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ‌ۚ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ‌ۚ يَہَبُ لِمَن يَشَآءُ إِنَـٰثً۬ا وَيَهَبُ لِمَن يَشَآءُ ٱلذُّكُورَ (٤٩) أَوۡ يُزَوِّجُهُمۡ ذُكۡرَانً۬ا وَإِنَـٰثً۬ا‌ۖ وَيَجۡعَلُ مَن يَشَآءُ عَقِيمًا‌ۚ إِنَّهُ ۥ عَلِيمٌ۬ قَدِيرٌ۬ (٥٠) ۞ وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُكَلِّمَهُ ٱللَّهُ إِلَّا وَحۡيًا أَوۡ مِن وَرَآىِٕ حِجَابٍ أَوۡ يُرۡسِلَ رَسُولاً۬ فَيُوحِىَ بِإِذۡنِهِۦ مَا يَشَآءُ‌ۚ إِنَّهُ ۥ عَلِىٌّ حَڪِيمٌ۬ (٥١) وَكَذَٲلِكَ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحً۬ا مِّنۡ أَمۡرِنَا‌ۚ مَا كُنتَ تَدۡرِى مَا ٱلۡكِتَـٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَـٰنُ وَلَـٰكِن جَعَلۡنَـٰهُ نُورً۬ا نَّہۡدِى بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا‌ۚ وَإِنَّكَ لَتَہۡدِىٓ إِلَىٰ صِرَٲطٍ۬ مُّسۡتَقِيمٍ۬

  • Hanya kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang dikendakinya. Dia memberi kepada siapa Dia menghendaki, suatu jenis perempuan, dan Dia memberi kepada siapa Dia menghendaki, yang jenis laki-laki.
  • Atau Dia mengawinkan pada mereka jenis laki-laki dan jenis perempuan, dan Dia menjadikan siapa yang Dia kehendaki mandul. Sesungguhnya Dia itu maha mengetahui dan maha menetapkan ukuran (takaran).
  • Tidak akan terjadi pada seorang manusiapun bahwa Allah berbicara kepadanya, kecuali berupa wahyu atau (berbicara) dari balik hijab, atau mengutus seorang Rosul, lalu ia mewahyukan dengan izin-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
  • Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu suatu Ruh dari urusan kami. Sebelumnya (tanpa Ruh itu) kamu tidak mengetahui apa Kitab itu, dan tidak pula mengetahui apa iman itu. Akan tetapi kami menjadikannya cahaya yang dengannya Kami memberi petunjuk kepada siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar menunjukkan ke Jalan Jalan Yang Lurus.
Benih iman yang Allah pasang pada penciptaan manusia, hanya akan tumbuh dan hidup setelah Allah memasukkan “Ruh dari urusan Allah” (Pembahasan lebih lanjut seputar “Ruh” ini, dapat diikuti pada edisi lain dari Serial Da’wah ini). Dan Ruh tersebut hanya akan masuk manakala telah terjadi “konsepsi” dari “persenyawaan” kedua jenis perwujudan Ilmu Allah seperti terurai di atas.

Dan jika benar benih iman itu hidup, ia akan tumbuh berkembang terus (semakin bertambah) seiring dengan bertambahnya Ayat-ayat Allah yang dibacakan.

وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡہِمۡ ءَايَـٰتُهُ ۥ زَادَتۡہُمۡ إِيمَـٰنً۬ا

“...Dan apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat Kami, bertambahlah iman mereka....” (Al Anfal : 2)

Demikianlah, penelusuran ke arah hakikat Iman itu mutlak perlu demi dua hal. Pertama, agar tidak salah memenuhi pesanan Allah, karena kesalahan yang baru disadari di Hari Akhir nanti, sunguh tak berguna lagi.

Kedua, Iman adalah syarat utama diberikannya Hidayah Allah untuk menemukan dan tetap berada di Jalan Yang Lurus, karena tanpa Jalan Yang Lurus, apapun amal yang dilakukan akan sia-sia, tidak akan sampai ke tujuan.
Name

Dakwah Ilallah,12,Jalan Keselamatan,7,Jurnal Roqim,1,Kajian Lepas,42,Manhaj Risalah,12,
ltr
item
Ini Islam: Iman Dan Pertumbuhannya
Iman Dan Pertumbuhannya
https://1.bp.blogspot.com/-aXoJK5QTonw/WNDtfJH6tdI/AAAAAAAAAJw/9VbeGTJthTIFnA2xcIPQhXf-VHFITWh6wCLcB/s640/iman-dan-pertumbuhannya.png
https://1.bp.blogspot.com/-aXoJK5QTonw/WNDtfJH6tdI/AAAAAAAAAJw/9VbeGTJthTIFnA2xcIPQhXf-VHFITWh6wCLcB/s72-c/iman-dan-pertumbuhannya.png
Ini Islam
http://www.iniislam.net/2017/01/iman-dan-pertumbuhannya.html
http://www.iniislam.net/
http://www.iniislam.net/
http://www.iniislam.net/2017/01/iman-dan-pertumbuhannya.html
true
7017169815549685310
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy