Mencari Akses Hidayah

SHARE:

Hidayah adalah petunjuk dan bimbingan yang bersumber langsung dari sisi Allah untuk menuntun manusia menemukan jalan yang akan yang...

mencari-akses-hidayah

Hidayah adalah petunjuk dan bimbingan yang bersumber langsung dari sisi Allah untuk menuntun manusia menemukan jalan yang akan yang mengantarkannya kepada Ridho Allah dan keselamatan di Hari Akhir.

Perlu digarisbawahi, bahwa menemukan jalan adalah hal yang lain (berbeda) dengan menemukan alat, cara atau kemampuan untuk menempuh perjalanan. Maka orang yang tersesat bukanlah orang yang salah dalam memilih atau menggunakan alat atau cara untuk menempuh perjalanan, melainkan orang yang salah dalam mengambil jalan yang ditempuh, sehingga tidak akan sampai ke tujuan.

Tambahan pula, bahwa orang yang mengambil jalan yang salah dengan kesengajaan karena tertarik atau tergoda oleh hal-hal lain, kemudian dengan sadar ia berbelok arah, yang demikian itu bukan tersesat, melainkan sengaja berubah arah.

Adapun orang yang tersesat, dalam hati dan pikirannya ia tetap menginginkan sampai kemana yang ia tuju. Akan tetapi karena kurangnya pengetahuan tentang jalan yang harus ditempuh atau karena kelengahan, ternyata ia salah jalan dan tak kunjung sampai ke tujuan. Manakala dia sadar bahwa ia salah jalan (tersesat) ia akan kebingungan dan merasa butuh petunjuk. Selama ia tidak menyadari, ia tidak akan merasakan kebingungan dan tidak merasa butuh petunjuk.

Tuturan di atas dimaksudkan untuk memahami bahwa ketersesatan seseorang dari Jalan Allah itu tidak dilihat dari jenis-jenis perbuatan yang ia lakukan. Misalnya, seseorang dikatakan tersesat karena ia selalu berbuat maksiat, tidak mau mengerjakan sholat atau amal kebajikan lainnya, bukan demikian.

Bisa jadi orang yang tersesat itu pada perilaku kesehariannya ia berbuat baik, rajin mengerjakan amal ibadah dan bahkan berbagai amal kebajikan lainya. Namun karena ia tidak punya pengetahuan (jahil) tentang Jalan Allah, yang dengan kata lain dapat dikatakan sebagai “program” Allah, yaitu misi atau risalah Allah yang diembankan kepada manusia sebagai Amanah yang harus dijalankannya, maka ia seperti halnya orang yang giat dan sungguh-sungguh melangkahkan kakinya menempuh perjalanan untuk mencapai sesuatu, namun jalan yang diambilnya salah, maka sampai kapanpun ia tidak akan sampai ke tujuan.

قُلۡ ڪُلٌّ۬ يَعۡمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِۦ فَرَبُّكُمۡ أَعۡلَمُ بِمَنۡ هُوَ أَهۡدَىٰ سَبِيلاً۬

“Katakanlah!: “Setiap orang bekerja menurut kultur/budayanya masing-masing. Lalu Robbmulah yang lebih mengetahui siapa yang benar jalannya”. (Al Isro : 84)

Mesti diingat bahwa yang dimaksud tujuan dalam perjalanan ibadah kepada Allah, adalah sesuatu yang baru akan dialami dan dirasakan setelah kehidupan dunia ini berlalu, yaitu pada Hari Akhir, yakni Ridho Allah dan selamat, terhindar dari adzab-Nya.

Dengan demikian selama hidup di dunia, kalaupun seseorang melenceng keluar dari Jalan Allah (salah jalan) sejauh apapun, ia tidak akan pernah merasakan dan menyadarinya, selama tidak dilakukan penelitian secara bersih dan cermat serta pencocokan dengan petunjuk yang benar dan sah dari Allah.

Bahkan lebih parahnya lagi, jika ada yang mengingatkan bahwa ia salah jalan, malah balik menuduh sesat, menentang dan memusuhi.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَا تُفۡسِدُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ قَالُوٓاْ إِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُونَ (١١) أَلَآ إِنَّهُمۡ هُمُ ٱلۡمُفۡسِدُونَ وَلَـٰكِن لَّا يَشۡعُرُونَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu berbuat kerusakan (eror) di bumi”, mereka menjawab: “Justru kami melakukan perbaikan”. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah yang berbuat kerusakan, akan tetapi mereka tidak menyadari”. (Al Baqoroh : 11-12)

ٱللَّهُ يَسۡتَہۡزِئُ بِہِمۡ وَيَمُدُّهُمۡ فِى طُغۡيَـٰنِهِمۡ يَعۡمَهُونَ

“Allah (balas) mengolok-olok mereka dan membiarkan mereka terlunta-lunta dalam kesesatan”. (Al Baqoroh : 15)

أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ أُوتُواْ نَصِيبً۬ا مِّنَ ٱلۡڪِتَـٰبِ يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡجِبۡتِ وَٱلطَّـٰغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُواْ هَـٰٓؤُلَآءِ أَهۡدَىٰ مِنَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ سَبِيلاً

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang diberi bagian dari kitab malah percaya kepada yang selain Allah dan kepada thoghuut. Dan mereka berkata kepada orang-orang kafir: “Mereka (yang banyak dan beragam) itu lebih benar jalannya daripada orang-orag yang beriman” (An Nisa : 51)

Sungguh tidak mudah untuk mendapat hidayah Allah, yaitu petunjuk-Nya untuk menemukan dan menempuh Jalan Yang Lurus (Shirothol Mustaqiem). Bahkan untuk menyadari bahwa jalan yang ditempuh itu salah (alias tersesat), itupun sulit sekali.

Hal ini antara lain disebabkan bahwa dalam kenyataannya begitu banyak golongan dan kelompok yang satu sama lain saling berbeda, bahkan mereka yang nyata-nyata mengambil jalan menurut pikirannya sendiri, toh dalam kehidupan dunia ini mereka baik-baik saja, bahkan mungkin mereka merasa lebih unggul dari yang lain.

وَمَآ أَرۡسَلۡنَا فِى قَرۡيَةٍ۬ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتۡرَفُوهَآ إِنَّا بِمَآ أُرۡسِلۡتُم بِهِۦ كَـٰفِرُونَ (٣٤) وَقَالُواْ نَحۡنُ أَڪۡثَرُ أَمۡوَٲلاً۬ وَأَوۡلَـٰدً۬ا وَمَا نَحۡنُ بِمُعَذَّبِينَ

“Dan tidaklah Kami mengutus kepada suatu negeri seorangpun pemberingatan, melainkan orang-orang yang hidup mapan di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya”. Dan mereka berkata pula: “Kami lebih banyak memiliki harta dan anak-anak, dan kami sekali-kali tidak akan diadzab“. (Saba : 34-35)

Oleh sebab itu perlu disadari benar bahwa akibat dari ketersesatan dari Jalan Allah baru akan terbukti secara nyata dan pasti pada Hari Akhir nanti. Maka dari itu Allah menegaskan bahwa kondisi awal untuk diperoleh kemungkinan/peluang (akses) untuk mendapat hidayah adalah iman kepada Allah dan Hari Akhir.

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَـٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٌ۬ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٲجِعُونَ (١٥٦) أُوْلَـٰٓٮِٕكَ عَلَيۡہِمۡ صَلَوَٲتٌ۬ مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةٌ۬‌ۖ وَأُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ

“Yaitu orang-orang jika mereka mengalami musibah, mereka berkata: “Kami adalah milik Allah, dan kepada-Nya kami kembali”. Mereka itulah yang atas mereka “sholawat” dan “rahmat” dari Robb mereka, dan mereka itulah yang mendapat petunjuk”. (Al Baqoroh : 156 - 157)

Dari ayat di atas, jelaslah bahwa orang yang mendapat petunjuk (hidayah) itu adalah orang yang mendapat “Sholawat” dan “Rahmat” dari Allah (Apakah yang dimaksud dengan sholawat dan rahmat itu? Insyaallah ke depan kita bahas lebih lanjut) Dan yang bisa (berpeluang) mendapatkan sholawat dan rahmat tersebut adalah mereka yang berpendirian (berkeyakinan) bahwa dirinya adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Dengan kata lain: “Iman kepada Allah dan hari Akhiri”.

Orang yang tidak beriman kepada Hari Akhir, tertutup peluangnya untuk mendapatkan petunjuk Allah.

وَإِذَا قَرَأۡتَ ٱلۡقُرۡءَانَ جَعَلۡنَا بَيۡنَكَ وَبَيۡنَ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأَخِرَةِ حِجَابً۬ا مَّسۡتُورً۬ا (٤٥) وَجَعَلۡنَا عَلَىٰ قُلُوبِہِمۡ أَكِنَّةً أَن يَفۡقَهُوهُ وَفِىٓ ءَاذَانِہِمۡ وَقۡرً۬ا‌ۚ

“Dan apabila kamu bacakan Al Quran, kami jadikan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman akan kehidupan akhirat, suatu hijab yang tertutup (dinding yang maya). Dan kami jadikan penutup pada hati mereka serta sumbatan pada telinga mereka agar mereka tidak dapat memahaminya”. (Al Isro : 45 - 46)

Demikian pula halnya dengan orang yang telah ada padanya iman kepada Hari Akhir, namun terdapat kerancuan visi/persepsi tentang Hari Akhir tersebut, akibat keterangan fiktif yang diterimanya.

أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ أُوتُواْ نَصِيبً۬ا مِّنَ ٱلۡڪِتَـٰبِ يُدۡعَوۡنَ إِلَىٰ ڪِتَـٰبِ ٱللَّهِ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ يَتَوَلَّىٰ فَرِيقٌ۬ مِّنۡهُمۡ وَهُم مُّعۡرِضُونَ (٢٣) ذَٲلِكَ بِأَنَّهُمۡ قَالُواْ لَن تَمَسَّنَا ٱلنَّارُ إِلَّآ أَيَّامً۬ا مَّعۡدُودَٲتٍ۬‌ۖ وَغَرَّهُمۡ فِى دِينِهِم مَّا ڪَانُواْ يَفۡتَرُونَ

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Kitab diajak kepada Kitab Allah untuk menetapkan keputusan diantara mereka, kemudian sebagian mereka berpaling dan mereka membelakangi? Yang demikian itu disebabkan mereka berangapan: Kami tidak akan dijamah api neraka kecuali selama beberapa hari yang terhitung”. (Ali Imron : 23-24)

Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa iman yang berdasarkan kepada ilmu/pengetahuan yang bersih dan lurus, merupakan prasyarat adanya peluang untuk mendapatkan petunjuk/hidayah Allah. Karena memang langkah awal dari pengabdian (ibadah) kepada Allah adalah memurnikan konsep Dienullah dan konsisten pada kemurnian tersebut.

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ

“Dan tidaklah mereka diperintah, kecuali untuk mengabdi kepada Allah dengan memurnikan Dien-Nya secara konsisten....”. (Al Bayyinah : 5)

Iman kepada Allah dan hari akhir merupakan prasyarat untuk mendapat Hidayah Allah. Ini berarti (sebagaimana yang Allah terangkan) bisa terjadi adanya segolongan manusia yang telah beriman, tetapi mereka berada dalam kesesatan, belum mendapatkan petunjuk yang benar tentang apa dan bagaimana mereka harus berbuat. Dan berarti pula bahwa dengan telah tertanam dan tumbuhnya iman dalam hati seseorang, tidak serta-merta (otomatis) ia mendapat petunjuk Allah untuk menemukan Jalan Allah (posisi dipihak Allah) dimana ia harus mengembangkan amal ibadah (karya pengabdian)-nya.

Dalam hal ini, yang mereka perlukan adalah uluran karunia Allah dengan memunculkan bagi mereka seseorang yang akan menyampaikan petunjuk Allah tersebut, dengan jalan membacakan ayat-ayat Allah untuk membersihakan hati dan jiwa mereka, kemudian mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Hikmah.

Di lain pihak, merekapun harus mampu berlapang dada, membuka mata, telinga dan hati.

لَقَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذۡ بَعَثَ فِيہِمۡ رَسُولاً۬ مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡہِمۡ ءَايَـٰتِهِۦ وَيُزَڪِّيہِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَـٰبَ وَٱلۡحِڪۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِى ضَلَـٰلٍ۬ مُّبِينٍ

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang Mukmin, ketika Dia memunculkan di tengah-tengah mereka seorang Rosul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, mensucikan mereka dan mengajari mereka Al Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya keadaan mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (Ali Imron : 164)

فَمَن يُرِدِ ٱللَّهُ أَن يَهۡدِيَهُ ۥ يَشۡرَحۡ صَدۡرَهُ ۥ لِلۡإِسۡلَـٰمِ‌ۖ وَمَن يُرِدۡ أَن يُضِلَّهُ ۥ يَجۡعَلۡ صَدۡرَهُ ۥ ضَيِّقًا حَرَجً۬ا ڪَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِى ٱلسَّمَآءِ‌ۚ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki untuk memberinya hidayah, ia akan melapangkan dadanya untuk penyerahan diri. Dan siapa yang Allah kehendaki untuk tersesat, Ia jadikan dadanya pengap dan sempit seperti orang yang memanjat naik ke langit”. (Al An’am : 125)

ٱلَّذِينَ يَسۡتَمِعُونَ ٱلۡقَوۡلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحۡسَنَهُ ۥۤ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ ٱلَّذِينَ هَدَٮٰهُمُ ٱللَّهُ‌ۖ

“Orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang terbaik diantaranya, itulah orang-orang yang Allah memberi mereka petunjuk...”. (Az Zumar : 18)

Ayat-ayat Allah, dimana terdapat petunjuk dari Allah, adalah layak dibacakan dan disampaikan kepada siapapun, dalam arti tak perlu dihindarkan atau disembunyikan dari siapapun. Maka sebaliknya, orang yang hatinya “compatible” untuk menerima hidayah Allah, tidak pernah menutup diri untuk mendengar perkataan dan pendapat siapapun. Namun tentunya ia tidak lantas membenarkan dan mengikuti apa saja yang ia dengar, dan tidak pula mengikuti perasaan dan pikirannya sendiri, melainkan hanya mengikuti perkataan yang terbaik (bukan yang terbanyak). Lalu perkataan siapa yang lebih baik dari Kalamullah?

Kiranya amat jelas sekali bahwa orang yang berpeluang mendapat hidayah Allah adalah mereka yang di hatinya telah tertanam iman kepada Allah dan Hari Akhir secara bersih dan lurus, kemudian ia berlapang dada untuk mau berkomunikasi dan mendengar apapun yang disampaikan orang kepadanya.

Kemudian hal yang penting lagi untuk dicermati dan diteliti dengan seksama adalah, jika seseorang telah merasa dan menyatakan diri beriman kepada Allah dan Hari Akhir, benarkah itu iman yang telah cukup teruji kebenarannya dan dibenarkan Allah, atau sebaliknya.

Dalam rangka “tuning” mencari akses Hidayah, sekaligus meneliti dengan cermat apakah “iman” yang dirasakan telah ada ini benar-benar tidak menyalahi “Pesanan Allah”, kita coba baca dan tafakuri ayat-ayat-Nya, karena Allah telah cukup mengingatkan kita tentang hal tersebut dengan beberapa ayat/kalam-Nya, antara lain :

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَقُولُ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَبِٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأَخِرِ وَمَا هُم بِمُؤۡمِنِينَ

“Dan di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan kepada Hari Akhir”. Padahal sebenarnya mereka bukanlah orang-orang yang beriman.” (Al Baqoroh : 8).

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ (٢) وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ‌ۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَـٰذِبِينَ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja menyatakan “Kami telah beriman” tanpa mereka diuji lagi? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka terbuktilah orang-orang yang benar, dan terbukti pula orang-orag yang dusta”. (Al Ankabut : 2-3)

قَالَتِ ٱلۡأَعۡرَابُ ءَامَنَّا‌ۖ قُل لَّمۡ تُؤۡمِنُواْ وَلَـٰكِن قُولُوٓاْ أَسۡلَمۡنَا وَلَمَّا يَدۡخُلِ ٱلۡإِيمَـٰنُ فِى قُلُوبِكُمۡ‌ۖ

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman” Katakanlah: “Kamu belum beriman, katakan saja kami telah tunduk (Islam), karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu”...” (Al Hujurot : 14)

Kalaupun secara bahasa (etimologis) iman itu diartikan percaya, tapi yang dimaksud adalah “percaya kepada” bukan “percaya tentang” atau “percaya bahwa”.

Percaya sepenuh hati dan membenarkan bahwa Allah itu ada, Allah itu begitu, begini dan seterusnya, itu belum masuk ke level iman, melainkan itu adalah pengetahuan atau ilmu. Walaupun didapatnya ilmu tersebut dengan menggunakan instrumen percaya. Karena ilmu tentang apapun, berkembangnya pada manusia adalah dengan menggunakan unsur percaya yang ada pada diri manusia itu.

Benarkah bumi ini bulat, berputar pada porosnya dan beredar mengitari matahari? Hanya sedikit sekali orang yang mampu melihat faktanya. Sebagian besar orang lainnya hanya percaya kepada buku dan guru yang mengajar di sekolah. Demikian pula dengan pepohonan, benarkah mereka menyerap karbon dioksida dan melepas oksigen, sedangkan manusia kebalikannya maka terjadilah mutualisme? Pada level pembenaran seperti demikian, belum terjadi apapun dalam hubungan antara manusia dengan apa yang diketahui dan dibenarkannya.

Jika dari pengetahuan itu kemudian muncul perasaan tertentu dalam jiwanya, misalnya perasaan cinta lingkungan hidup, rasa bertanggung jawab untuk menjaga kelestarian hutan dan siap melakukan berbagai hal untuk itu, nah, pada level semacam inilah, dalam hubungannya dengan Allah, baru muncul sesuatu yang disebut iman.

Dengan demikian, iman itu bukan sejenis atau suatu bentuk kepercayaan. Kepercayaan itu berhubunan erat dengan pengetahuan (atau dugaan/persangkaan) yang tempatnya pada otak atau akal. Sedangkan iman itu tempatnya di hati, yaitu akan ada getar rasa cinta kepada Allah. Perpaduan antara “rojaa” , yaitu gandrung dan damba akan keridhoan-Nya, dan “khosyyah”, takut tidak mendapatkan cinta-Nya dan ditinggal dalam kemarahan-Nya.

Ibarat seorang pemuda yang jatuh cinta kepada gadis pujaannya, manakala ia dengar orang menyebut namanya, atau dilihatnya ia lewat di depannya, pasti muncul getar bahkan gemuruh dalam jiwanya. Adakah getar semacam itu, ketika disebut dan diingatkan Asma-Nya dan ketika kesucian dan kebesaran Asma-Nya nampak jelas pada ayat-ayat dalam ciptaan-Nya? Itulah getar cinta kepada Allah, dan itulah iman yang mulai tumbuh, dan tumbuh terus setiap kali dibacakan ayat-ayat-Nya, dan akan mengantarkan kepada sikap penyerahan diri secara total ke bawah “telapak kaki-Nya”

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُہُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡہِمۡ ءَايَـٰتُهُ ۥ زَادَتۡہُمۡ إِيمَـٰنً۬ا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ (٢) ٱلَّذِينَ يُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقۡنَـٰهُمۡ يُنفِقُونَ (٣) أُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ حَقًّ۬ا‌ۚ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu hanyalah mereka yang apabila diingatkan akan Allah, tergetarlah hatinya, dan jika dibacakan kepada-Nya ayat-ayat-Nya, akan menambah (menumbuhkan) iman mereka, dan hanya kepada Robb mereka, mereka menyerahkan segalanya. Mereka menegakkan sholat dan dari rizki yang Kami karuniakan, mereka menginfaqkan. Itulah mereka orang-orang Mukmin yang sebenarnya....” (Al Anfal : 2-4).

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادً۬ا يُحِبُّونَہُمۡ كَحُبِّ ٱللَّهِ‌ۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَشَدُّ حُبًّ۬ا لِّلَّهِ‌ۗ

“Dan diantara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan, dengan mencintai mereka seperti mencintai Allah. Padahal orang-orang yang beriman itu amat sangat cintanya kepada Allah...”. (Al Baqoroh : 165)
Name

Dakwah Ilallah,12,Jalan Keselamatan,7,Jurnal Roqim,1,Kajian Lepas,42,Manhaj Risalah,12,
ltr
item
Ini Islam: Mencari Akses Hidayah
Mencari Akses Hidayah
https://4.bp.blogspot.com/-otYPcD5bDBc/WNDtO_EDt4I/AAAAAAAAAJo/EBoIl-fXg6MEIYSbSR-R3aC9-gY5-wpJwCLcB/s640/mencari-akses-hidayah.png
https://4.bp.blogspot.com/-otYPcD5bDBc/WNDtO_EDt4I/AAAAAAAAAJo/EBoIl-fXg6MEIYSbSR-R3aC9-gY5-wpJwCLcB/s72-c/mencari-akses-hidayah.png
Ini Islam
http://www.iniislam.net/2017/01/mencari-akses-hidayah.html
http://www.iniislam.net/
http://www.iniislam.net/
http://www.iniislam.net/2017/01/mencari-akses-hidayah.html
true
7017169815549685310
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy