Mencari “Pesanan” Allah

SHARE:

Banyak orang memandang (dari istilah yang digunakan) bahwa ibadah kepada Allah itu sebagai upaya mengumpulkan bekal  untuk kehidupa...

mencari-pesanan-allah

Banyak orang memandang (dari istilah yang digunakan) bahwa ibadah kepada Allah itu sebagai upaya mengumpulkan bekal  untuk kehidupan akhirat kelak. Memang tidak sepenuhnya salah, akan tetapi mesti dicermati benar dan diteliti lebih lanjut, karena dalam pengertian “bekal” itu, ada essensi ibadah yang amat penting yang luput.

Ketika seseorang berpikir untuk membawa bekal dalam menempuh suatu perjalanan atau menuju suatu tempat, pikirannya hanya terarah kepada apa yang yang sekiranya dia perlukan (dan ia sukai) di perjalanan dan di tempat tujuan. Dia hanya berorientasi kepada dirinya sendiri dan kepada apa yang dia dengar kata orang, karena perjalanan yang dimaksud belum pernah dialami.

Pikirannya hanya berkutat pada: “sudah cukupkah bekal ini, atau masih kurang, atau harus lebih banyak lagi”. Sehingga apa saja yang dia kira “baik” dan konon “besar pahalanya”, juga menyenangkan dan bisa dibanggakan, maka dia kerjakan dengan penuh semangat. Tak pernah dipikirkan bahwa di sana ada Sang Pemesan yang menunggu untuk menilai dan meminta pertanggungjawaban, apakah bawaannya itu tidak menyalahi pesanan-Nya? Dan seimbangkah  dengan “modal” (karunia) yang diterimanya?

Akan berbeda sekali jika ungkapan yang digunakan sesuai dengan yang sebenarnya, yaitu “mengemban amanah Allah” dan mencari sesuatu yang dipesan Allah untuk dibawa pulang menghadap ke Hadirat-Nya.

                                         وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَٮٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأَخِرَةَ‌ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَا‌ۖ وَأَحۡسِن ڪَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَ‌ۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِى ٱلۡأَرۡضِ‌ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ

“Carilah pada apa yang Allah datangkan kepadamu (sesuatu yang dapat menyelamatkanmu) di akhirat, tanpa melupakan bagianmu dari kehidupan dunia. Dan janganlah kamu bikin kerusakan (error) di bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang bikin error”. (Al Qoshos : 77)

 إِنَّا عَرَضۡنَا ٱلۡأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلۡجِبَالِ فَأَبَيۡنَ أَن يَحۡمِلۡنَہَا وَأَشۡفَقۡنَ مِنۡہَا وَحَمَلَهَا ٱلۡإِنسَـٰنُۖ إِنَّهُ ۥ كَانَ ظَلُومً۬ا جَهُولاً۬

“Sesungguhnya Kami telah menyodorkan amanah ini kepada langit, bumi dan gunung-gunung, lalu mereka enggan memikulnya karena takut tersia-siakan. Lalu dipikullah amanah itu oleh manusia. Sedangkan manusia itu amat dholim dan amat bodoh (tidak tahu)”. (Al Ahzab : 72)

 Dengan istilah “mencari pesanan Allah”, orientasi pemikiran kita akan terfokus hanya kepada Allah dengan segala titah dan amanah-Nya, kemudian hati dan pikirannya akan selalu aktif dan waspada.
  • Apa sebenarnya yang Allah pesan yang harus berhasil kita dapatkan dan kita bawa pulang menghadap-Nya?
  • Sudahkah hal tersebut kita dapatkan saat ini, sehingga kalaupun besok kita mati, tidak ada kekhawatiran akan murka Allah?
  • Jika kita telah merasa memperoleh sesuatu untuk dibawa pulang menghadap-Nya, sudahkan kita yakin bahwa perolehan kita itu telah benar, dalam segala aspeknya telah sesuai dan tidak menyalahi pesanan-Nya?
Berbahaya sekali jika jawaban yang ada dalam pikiran hanya sebatas  “Saya tidak tahu” atau “Entahlah bagaimana nanti saja”.

Dalam kehidupan dunia, jika salah atau keliru dalam memenuhi pesanan seseorang, kita bisa dan punya kesempatan untuk memperbaiki, atau menggantinya. Sedangkan di akhirat, sama sekali tidak ada lagi kesempatan untuk mengusahakan apapun. Yang ada hanya pertanggungjawaban.

 إِذۡ تَبَرَّأَ ٱلَّذِينَ ٱتُّبِعُواْ مِنَ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُواْ وَرَأَوُاْ ٱلۡعَذَابَ وَتَقَطَّعَتۡ بِهِمُ ٱلۡأَسۡبَابُ (١٦٦) وَقَالَ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُواْ لَوۡ أَنَّ لَنَا كَرَّةً۬ فَنَتَبَرَّأَ مِنۡہُمۡ كَمَا تَبَرَّءُواْ مِنَّا‌ۗ كَذَٲلِكَ يُرِيهِمُ ٱللَّهُ أَعۡمَـٰلَهُمۡ حَسَرَٲتٍ عَلَيۡہِمۡ‌ۖ وَمَا هُم بِخَـٰرِجِينَ مِنَ ٱلنَّارِ

“Ingatlah keetika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikuti dan dan mereka melihat adzab serta putus segala komitmen mereka, lalu berkatalah para pengikut itu : “Kalau kami punya kesempatan kedua, kami tidak akan lagi mengikuti mereka sebagaimana mereka berlepas diri dari kami. Demikianlah Allah memperlihatkan bahwa amalan  mereka itu berbuah penyesalan bagi mereka, dan mereka tidak bisa keluar dari neraka”. (Al Baqoroh : 166,167)

Orang yang selama ini diikuti orang lain, yaitu yang dijadikan rujukan pengetahuan, dibenarkan keterangan dan ajarannya, jika kelak di hari akhir mereka salah, maka mereka sama sekali tidak akan dan tidak bisa bertanggung jawab. Sementara pengikutnya hanya bisa menyesali, tanpa ada cara yang bisa mengeluarkan mereka dari neraka.

Dengan istilah “mencari pesanan Allah”, pemikiran yang terkemas dalam tiga pertanyaan di atas pasti akan terbentuk, dan mendorong hati dan pikiran kita untuk selalu aktif, hidup serta selalu membaca dan mengingat ayat-ayat-Nya, antuk memperoleh jawaban yang pasti dan meyakinkan berdasarkan bukti-bukti yang nyata. Karena jika gagal memenuhi pesanan Allah, berarti gagal mengemban amanah-Nya, maka gagal dan sirna pula harapan untuk mendapat ridho Allah dan surga-Nya. Karena jika amal perbuatan manausia yang dilakukan sebagai bekal itu ternyata menyalahi konsep pesanan, tak ada nasib lain kecuali terafkir ke neraka.

 لَقَدۡ ذَرَأۡنَا لِجَهَنَّمَ ڪَثِيرً۬ا مِّنَ ٱلۡجِنِّ وَٱلۡإِنسِ‌ۖ لَهُمۡ قُلُوبٌ۬ لَّا يَفۡقَهُونَ بِہَا وَلَهُمۡ أَعۡيُنٌ۬ لَّا يُبۡصِرُونَ بِہَا وَلَهُمۡ ءَاذَانٌ۬ لَّا يَسۡمَعُونَ بِہَآ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ كَٱلۡأَنۡعَـٰمِ بَلۡ هُمۡ أَضَلُّ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلۡغَـٰفِلُونَ

“Dan sungguh kami tolak (afkir) agar menjadi pengisi jahannam, kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka punya hati tapi tidak mau memahami dengan hatinya itu. Mereka punya mata, tapi tidak mau mewawas dengan matanya itu, dan mereka punya telinga tapi tak mau mendengar. Mereka itu seperti ternak (kerbau) bahkan mereka lebih sesat. Itulah mereka yang lalai (lengah)”.  (Al A’rof : 179)

Pikiran yang terbentuk dengan istilah “mengumpulkan bekal” sama sekali tidak terhubungkan dengan adanya pesanan tertentu dan adanya Sang Pemesan (adanya “amanah” dan “pemberi amanah”).

Maka pikiran itupun tidak akan terarahkan kepada pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas. Padahal amanah Allah itu urusan yang amat dan maha penting, sesuatu yang menyangkut kesucian dan keagungan Asma-Nya. Maka pastilah akan menjadi perkara yang amat besar dan bencana yang amat dahsyat apabila amanah tersebut disia-siakan, apalagi dikhianati.

Sesuatu yang menyangkut nama baik seseorang saja, orang sudah menganggapnya perkara besar, dan orang yang bersangkutan akan memperkarakannya ke pengadilan. Maka tak terbayangkan betapa besarnya perkara yang menyangkut kesucian dan kebesaran Asma Allah.

Manusia yang berharap ridho Allah dan takut “diperkarakan” pada hari akhir, tidak akan pernah berani menghindari apalagi menyia-nyiakan dan mengkhianatinya. Bahkan dengan mempertaruhkan segala yang Allah berikan kepada dirinya, akan berusaha keras untuk bisa berhasil mengemban amanah tersebut.

Memang amanah Allah amat berat, tapi hanya berlaku selama kita hidup di dunia. Yang jauh lebih berat lagi adalah bencana dan adzab di hari akhir yang akan berlangsung abadi selama-lamanya, jika manusia menyia-nyiakan dan mengkhianati Amanah-Nya itu.

Allah menggambarkan betapa berat dan penting amanah-Nya ini dengan Kalam-Nya sebagai berikut :

لَوۡ أَنزَلۡنَا هَـٰذَا ٱلۡقُرۡءَانَ عَلَىٰ جَبَلٍ۬ لَّرَأَيۡتَهُ ۥ خَـٰشِعً۬ا مُّتَصَدِّعً۬ا مِّنۡ خَشۡيَةِ ٱللَّهِ‌ۚ وَتِلۡكَ ٱلۡأَمۡثَـٰلُ نَضۡرِبُہَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ

“Kalau seandainya Al Quran ini Kami turunkan pada sebuah gunung, pasti kamu lihat gunung itu tunduk ambruk karena takutnya kepada Allah. Dan itulah perumpamaan (gambaran) bagi manusia agar mereka berpikir”. (Al Hasyr : 21)

Beban seberat apa yang bisa membuat gunung jadi ambruk? Itulah gambaran beratnya amanah Allah. Tapi karena pentingnya amanah dan takut akan murka Allah, gunung itu tunduk dan lebih memilih ambruk daripada menghindar atau menyia-nyiakannya, karena gagal meraih keselamatan dan ridho Allah, berarti adzab yang amat pedih akan diderita sepanjang masa, abadi selamanya.

Itu adalah gambaran atau perumpamaan bagi manusia, yang pada kenyataannya merekalah yang mengemban amanah Allah itu,  dan kepada manusialah Al Quran diturunkan. Maka seberat apapun itu, dan apapun resikonya, bagi mereka yang mengharapkan ridho Allah dan keselamatan di akhirat, tak ada pilihan lain kecuali menjalankan dan menepati amanah tersebut.

Pertanyaannya sekarang, apa Amanah Allah yang diembankan kepada manusia dan harus dipertanggungjawabkan di Hari Akhir itu?

Banyak orang yang memberi jawaban begitu mudah. Amanah itu sudah sangat jelas, yaitu manusia harus beriman dengan memenuhi keenam rukun Iman itu, kemudian menjalankan rukun Islam yang lima, terutama sholat lima waktu, sambil terus berusaha memperbanyak amal kebajikan atau amal sholeh dan membina akhlaqul Karimah.

Dengan rangkaian amal-amalan dalam rumusan sesederhana itu, cukupkah menjadi jaminan bahwa amanah telah ditunaikan dan terjamin pula keselamatan di Hari Akhir?

Coba kita perhatikan dan kita ingat ayat berikut ini.

وَمَا خَلَقۡنَا ٱلسَّمَآءَ وَٱلۡأَرۡضَ وَمَا بَيۡنَہُمَا لَـٰعِبِينَ

“Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya, sebagai main-main”. (Al Anbiya : 16)

Main-main adalah kegiatan yang hanya dimaksudkan untuk keasyikan selagi melakukannya, atau asyik dan senang melihat (menonton) orang lain melakukannya.

Seperti anak kecil membuat gunung-gunungan dari pasir, sekedar asyik melakukanya. Setelah selesai dan bosan ia tidak peduli lagi akan nasib mainan buatannya itu. Atau seperti orang yang asyik menonton permainan yang dipertunjukkan orang.

Sungguh tidak demikian Allah dengan alam dan makhluk ciptaan-Nya. Berarti Allah punya program dan tujuan tertentu dengan semua itu. Dalam konteks inilah manusia ditugasi Allah, dengan menempatkan mereka pada posisi tertentu (sebagai Kholifah di bumi), agar dari generasi ke generasi mereka mampu mewujudkan peradaban di bumi yang layak sebagai pancaran (manifestasi) Asma Allah. Allah bukan sekedar ingin melihat (“menonton”) kegiatan manusia yang “menyenangkan”-Nya.

Memang tidak salah, bahwa secara dhohirnya berbagai amal sholeh seperti tersebut diatas itulah yang harus dilakukan/ditampilkan oleh orang yang mengharap ridho Allah. Akan tetapi mesti diingat bahwa semua itu harus dalam bingkai (berdasarkan konsep) amanah/ risalah (misi Robbani) yang jelas kebenaran dan keabsahannya disisi Allah.

Sebagai gambaran atau analog, jika kita lihat apa yang dikerjakan sekelompok perkerja bangunan, yang nampak jelas adalah berbagai jenis pekejaan mereka yang pada dasarnya sama, apapun jenis bangunan yang mereka kerjakan. Yang menggali tanah, membuat adukan, memasang batu bata, merakit besi dan lain-lain sebagainya. Namun tentunya semua itu harus dilakukan berdasarkan dan menepati konsep, proposal atau rancangan tertentu dari pihak yang menyewa dan akan membayar mereka pada waktunya.

Konsep atau rancangan dimaksud, bukanlah sesuatu yang dhohir, atau nampak terbuka diketahui setiap orang, bahkan pekerjanya sendiri kebanyakan tidak mengetahuinya. Mereka hanya mengikuti arahan dan perintah mandor atau pimpinan proyek.

Walaupun mereka bekerja dengan kerja yang bermutu dan etos kerja yang tinggi, sehingga orang banyak yang melihat kerja mereka akan sangat respek dibuatnya, akan tetapi jika sama sekali tidak memenuhi atau menyalahi rancangan/konsep dari pihak yang mempekerjakan mereka, apalagi jika tidak ada pula pimpinan/mandor yang mengarahkan kerja mereka, maka semakin banyak yang mereka kerjakan, akan semakin besar kerugian yang diderita.

Seperti demikianlah “kerja untuk Allah” (amalan ibadah) yang dilakukan banyak orang selama ini. Yang mereka tahu hanya sebatas apa yang wajib dilakukan, apa yang dilarang dan sebagainya. Kemudian mereka berusaha melakukan segala yang (sepengetahuan mereka) wajib dikerjakan dan menghindari apa yang (sepengetahuan mereka) dilarang. Sedikitpun mereka tidak mengenal dan mengetahui misi/risalah apa sebenarnya yang Allah amanahkan kepada mereka dengan amalan-amalan itu. Bahkan mereka tidak sadar dalam misi siapa (pihak mana) sebenarnya yang selama ini mereka menjadi bagiannya.

Bagi pekerja bangunan yang dicontohkan di atas, bukan masalah jika mereka tidak mengenal konsep atau rancangan proyek dimana ia bekerja. Yang penting ia bekerja mengikuti arahan pimpinannya di proyek tersebut. Dan kalaupun pimpinannya itu menyalahi konsepnya, itu bukan urusannya, yang penting ia mendapat bayaran upah pada waktunya.

Lain halnya dengan mengabdi kepada Allah (ibadah). Bayaran yang dimaksud adalah Ridho Allah dan surga yang hanya akan ditunaikan pada Hari Akhir, dimana tidak sesuatu halpun yang dapat diperbuat lagi. Benarkah yang kita jalankan dengan berbagai kerja/amalan selama ini adalah misi risalah (program Allah). Karena siapa orangnya yang mau membayar pekerja yang mengerjakan proyek orang lain yang tidak ada sangkut paut dengannya?

قُلۡ هَلۡ نُنَبِّئُكُم بِٱلۡأَخۡسَرِينَ أَعۡمَـٰلاً (١٠٣) ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعۡيُہُمۡ فِى ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ يَحۡسَبُونَ أَنَّہُمۡ يُحۡسِنُونَ صُنۡعًا (١٠٤) أُوْلَـٰٓٮِٕكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ بِـَٔايَـٰتِ رَبِّهِمۡ وَلِقَآٮِٕهِۦ فَحَبِطَتۡ أَعۡمَـٰلُهُمۡ فَلَا نُقِيمُ لَهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ وَزۡنً۬ا

“Katakanlah: Maukah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi amal-amalnya? Yaitu orang-orang yang tersesat dalam kehidupaya di dunia, sedangkan mereka merasa (mengira) telah melakukan yang sebaik-baiknya. Itulah mereka yang mengingkari (tak peduli) dengan ayat-ayat (petunjuk) Robb mereka, dan (tak peduli) akan pertemuan dengan-Nya. Maka hapuslah amal-amal mereka, lalu pada hari Qiyamat Kami tidak akan mengadakan perhitungan (Mizan) bagi mereka”. (Al Kahfi : 103-105)

Yang dipakai pedoman/ikutan (oleh hampir semua orang) dalam melakukan amal ibadah, hanyalah apa yang menjadi kebiasaan orang banyak sejak dahulu (para leluhur). Atau paling juga, dengan mengikuti (dan percaya kepada) seseorang atau sekelompok orang yang dianggap lebih mengetahui, dan mengatakan bahwa yang diajarkan atau diserukannya itulah misi/risalah dari Allah.

Mengenai hal tersebut Allah mengingatkan kita dengan beberapa ayat-Nya, antara lain:

 وَإِن تُطِعۡ أَڪۡثَرَ مَن فِى ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ‌ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنۡ هُمۡ إِلَّا يَخۡرُصُونَ

“Jika kamu mengikuti kebanyakan orang di muka bumi, pasti mereka menyesatkanmu dari Jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, dan mereka tidak lain hanyalah mengada-ada”. (Al An’am : 116)

 وَإِنَّ مِنۡهُمۡ لَفَرِيقً۬ا يَلۡوُ ۥنَ أَلۡسِنَتَهُم بِٱلۡكِتَـٰبِ لِتَحۡسَبُوهُ مِنَ ٱلۡڪِتَـٰبِ وَمَا هُوَ مِنَ ٱلۡكِتَـٰبِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَمَا هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ

“Dan sesungguhnya di antara mereka terdapat segolongan yang piawai bertutur tentang Al Kitab, agar kamu mengira bahwa itu dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab. Dan mereka mengatakan: “Ini dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka mengatakan kebohongan atas Allah padahal mereka mengetahui (bahwa itu bukan dari Allah)”.  (Ali Imron :78)

Dan satu lagi, silakan baca kembali Al Baqoroh : 166-167 yang terkutip di atas.

Jelas sekali bahwa mengabdi kepada Allah yang tiada lain mengemban amanah-Nya, suatu perkara besar, mana mungkin bisa dijalankan secara spekulatif dengan hanya berdasar kepada kebiasaan banyak orang sejak dahulu, dan keterangan dari segolongan orang yang diduga lebih tahu.

Bagaimanapun sebenarnya kondisi objektif mereka, yang jelas, cara seperti demikian, tidak mendapat pengakuan (legitimasi) dan legalitas di sisi Allah. Karena jelas-jelas menyalahi petunjuk dan peringatan-Nya.

Mengemban Amanah Allah adalah suatu kerja kolektif yang sistemik dan konseptual, dimana setiap elemen di dalamnya merupakan bagian dari satu kesatuan yang utuh dan mandiri. Adapun penilaian dan balasan dari Allah atas prestasi para pelakunya, itu bersifat individual.

Sebagaimana halnya para pekerja di sebuah proyek atau perusahaan, mereka semua bekerja kolektif di bawah satu sistem dan satu kendali. Adapun upah bagi mereka adalah murni individual. Kemanfaatan, kecukupan, keberlebihan atau kekurangan upah tersebut  bagi mereka adalah urusan  masing-masing.

Dengan konsep “mencari pesanan Allah”, langkah dan pemikiran dalam beribadah akan terarah lebih dahulu kepada upaya pencarian “proyek Allah”, yakni misi/amanah atau Risalah-Nya yang hadir dan eksis di bumi saat ini, dengan kriteria dasar: original, legal dan aktual. Itulah dia yang sebutan baku lainnya : “Jalan Allah Yang Lurus” (Shirothol Mustaqiem), yang setiap waktu kita memohon kepada Allah untuk dapat menemukannya.

ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٲطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ

Di situlah selanjutnya, setiap individu Mukmin, harus berjuang untuk meraih berbagai hal yang merupakan “pesanan Allah” yang harus berhasil “terbawa pulang” menghadap ke Hadirat-Nya”.
Name

Dakwah Ilallah,12,Jalan Keselamatan,7,Jurnal Roqim,1,Kajian Lepas,42,Manhaj Risalah,12,
ltr
item
Ini Islam: Mencari “Pesanan” Allah
Mencari “Pesanan” Allah
https://2.bp.blogspot.com/-1CwHuI0ZhUM/WNDq9F8pywI/AAAAAAAAAJQ/NVp-uPdLVlIeXdPTYoa6le-x1PyLqLAmACLcB/s640/mencari-pesanan-allah.png
https://2.bp.blogspot.com/-1CwHuI0ZhUM/WNDq9F8pywI/AAAAAAAAAJQ/NVp-uPdLVlIeXdPTYoa6le-x1PyLqLAmACLcB/s72-c/mencari-pesanan-allah.png
Ini Islam
http://www.iniislam.net/2017/01/mencari-pesanan-allah.html
http://www.iniislam.net/
http://www.iniislam.net/
http://www.iniislam.net/2017/01/mencari-pesanan-allah.html
true
7017169815549685310
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy