Menutup Jalur-Jalur Syetan

SHARE:

Dengan menelusuri petunjuk Allah, yakni dengan membaca ayat-ayat-Nya baik berupa fakta-fakta kauniyah maupun berupa nash-nash Kalamu...

menutup-jalur-jalur-syetan

Dengan menelusuri petunjuk Allah, yakni dengan membaca ayat-ayat-Nya baik berupa fakta-fakta kauniyah maupun berupa nash-nash Kalamullah, maka dapatlah diketahui dengan jelas apa sebenarnya syetan itu, dan bagaimana mereka berkembang biak dan beroperasi merusak jiwa-jiwa manusia melalui hawa nafsu mereka, yakni perasaan (emosi), hasrat, obsesi dan ambisi, kemudian pola pikir dan akhirnya hati.

Setelah memahami keberadaan, peranan dan mobilitas syetan seperti pada uraian (serial) terdahulu, maka sangat mudah dipahami bahwa syetan itu tidak mungkin diberantas apalagi dimusnahkan, tanpa harus merujuk kepada berbagai macam dugaan dan khayalan orang serta cerita-cerita fiktif dan bohong.

Tidak ada petunjuk dan perintah Allah untuk memberantas atau membasmi syetan, karena itu hal yang tak mungkin. Yang ada hanya perintah untuk memperlindungi diri dari bahaya syetan, dan peringatan untuk tidak terjebak mengikuti jalur-jalur syetan.

Sistem perlindungan (proteksi) yang paling ampuh dan efektif terhadap infiltrasi dan invasi syayathin terhadap jiwa manusia, bukan sekedar agar Allah selalu “hadir“ atau “terinstal” dalam hati kita, melainkan hanya Dialah Allah satu-satunya. Tidak ada sesuatupun yang menandingi atau menyekutui-Nya pada tiga posisi tertinggi yang merupakan hak Allah saja satu-satunya.

Dialah Allah satu-satunya “Robb” (Tuan), yakni Pemilik, Penguasa, Pemegang kedaulatan atas semesta alam dengan segala isinya. Dari Allah sebagai Robb segalanya berasal dan bersumber. Kehendak, rencana, program (misi), ilmu, hukum dan lain-lain segalanya, dari Allah.

Dialah Allah satu-satunya “Malik” (Raja) atas kerajaan langit dan bumi, Dia sendirilah yang menggelar segala urusan/pemerintahan-Nya, (“eksekutif”), tidak ada yang akan bisa menyimpangkan dari kehendak dan rencananya. Dengan undang-undang yang ditetapkan-Nya, dan aparat di langit dan di bumi yang dimiliki-Nya, segalanya digelar, oleh Allah.

Dialah Allah satu-satunya ”Ilah”, kepada Allah kembali dan tertujunya setiap output dari segala proses yang belangsung. Kepada-Nya pula ditujukannya segala bentuk pengabdian. Hanya Dia satu yang diharapkan keridhoannya. Bukan keridhoan atau kepuasaan siapapun selain Dia. Segalanya untuk Allah.

Pendek kata, Dialah Allah satu-satunya Ash Shomad, dari Allah, oleh Allah dan untuk Allah.

Tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Tidak “menjelma” atau “menitis” pada sesuatupun dan bukan pula “jelmaan” atau “titisan” sesutau yang lain. Tidak pula memungut atau mengangkat anak. Berarti tidak ada siapapun yang menempati posisi seperti anak-Nya (“Tuan Muda”) yang bisa ikut menuntut sesuatu atau memerintah dari keinginannya sendiri. Dan tidak boleh ada yang disikapi atau diperlakukan setara dengan-Nya, apalagi melebihinya. Karena selain diri-Nya, semua adalah hamba-Nya.

وَمَا يَنۢبَغِى لِلرَّحۡمَـٰنِ أَن يَتَّخِذَ وَلَدًا (٩٢) إِن ڪُلُّ مَن فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ إِلَّآ ءَاتِى ٱلرَّحۡمَـٰنِ عَبۡدً۬ا

“Dan tidak layak bagi Allah Yang Maha Pemurah untuk mengambil (mengangkat) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, melainkan akan datang menghadap Allah Ar Rohman selaku seorang hamba”. (Maryam : 92-93)

Demikianlah sekedar rangkuman ringkas dari kandungan Surat Al Ikhlas. Dan inilah “sistem kekebalan” (imunitas) jiwa manusia, dari pengaruh virus-virus syayathin. Manakala sistem kekebalan ini rusak atau cacat (fasad), yakni mempersandingkan Allah dengan yang lain, baik dalam posisi Robb, Malik maupun Ilah, dengan kata lain, menyekutui Allah atau mempersekutukan sesuatu dengan-Nya, pastilah kesesatan tidak terelakkan lagi, kesesatan yang jauh dan semakin jauh.

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٲلِكَ لِمَن يَشَآءُ‌ۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَـٰلاَۢ بَعِيدًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni (mentolerir) untuk dipersekutukan (sesuatu) dengan-Nya, dan mengampuni yang selain itu, bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa mempersekutukan Allah, maka ia sungguh tersesat sejauh-jauhnya”. (An Nisa : 116)

Tampaknya sistem kekebalan inilah yang paling dulu diserang virus syayathin. Manusia banyak menempati, menempatkan atau mengakui yang lain pada posisi (maqom) yang sebenarnya hanya hak Allah.

Allah sebagai Robb (pemilik, pemegang kedaulatan, sumber dari segala yang ada, sumber ilmu dan kebenaran) dipersekutukan dengan yang lain. Fir’aun menda’wakan diri sebagai Penguasa (Pemegang Kedaulatan) tertinggi.

فَقَالَ أَنَا۟ رَبُّكُمُ ٱلۡأَعۡلَىٰ

“Lalu ia (Fir’aun) berkata: “Aku ini Tuan (penguasa) kamu tertinggi” (An Nazi’at : 24)

وَنَادَىٰ فِرۡعَوۡنُ فِى قَوۡمِهِۦ قَالَ يَـٰقَوۡمِ أَلَيۡسَ لِى مُلۡكُ مِصۡرَ وَهَـٰذِهِ ٱلۡأَنۡهَـٰرُ تَجۡرِى مِن تَحۡتِىٓ‌ۖ أَفَلَا تُبۡصِرُونَ

“Dan Fir’aun berseru di tengah kaumnya: “Bukankah Kerajaan Mesir ini kepunyaanku, dan sungai-sungai ini mengalir di bawahku? Apakah kalian tidak melihat ?” (Az Zukhruf : 51)

Zaman sekarang sudah tidak ada yang berani secara sendirian seperti Fir’aun. Tetapi secara beramai-ramai (komunal), produk syayathin dari Fir’aun itu diikuti dan diakui juga. Tetap hidup dan berkembang biak.

Pada tataran lain, Bani Israil menjadikan para Pendeta dan Rahib mereka, serta Al Masih Ibn Maryam sebagai Rob-rob (Arbaab), sebagai sumber kebenaran.

ٱتَّخَذُوٓاْ أَحۡبَارَهُمۡ وَرُهۡبَـٰنَهُمۡ أَرۡبَابً۬ا مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَٱلۡمَسِيحَ ٱبۡنَ مَرۡيَمَ

“Mereka menjadikan (memperlakuakn) para Pendeta dan Rahib mereka serta Al Masih Ibn Maryam sebagai Rob-rob (rujukan kebenaran) selain Allah”. (At Taubah : 31)

Jika Allah mengingatkan kita tentang sikap Bani Israil, tentunya agar kita jangan sampai seperti mereka, menjadikan para Kyai dan Ulama dan juga Muhammad Rosulullah sebagai sumber kebenaran, sebagai rujukan yang dianggap final.

Mereka (termasuk Rosul) hanya bisa mengingatkan manusia akan kebenaran yang kebanyakan orang sering lengah atau kurang awas. Kemudian orang-orang yang diingatkan itu harus bisa melihat sendiri kebenaran tersebut pada ayat-ayat Allah.

فَذَكِّرۡ إِنَّمَآ أَنتَ مُذَڪِّرٌ۬

“Maka ingatkanlah ! Sesungguhnya kamu hanyalah yang mengingatkan”. (Al Ghosyiyah : 21)

Rosul dan para ulama itu manusia juga seperti yang lainnya. Mereka hanya bisa melihat apa yang bisa dilihat manusia. Maka semua orang pun bisa melihat apa yang mereka lihat, kecuali mereka yang tuna netra. Tidak ada kebenaran yang tidak bisa dibuktikan (dengan fakta, logika atau Kitabullah). Maka siapapun yang mengatakan kebenaran, harus bisa menunjukkan buktinya dari Allah. Tidak hanya menuntut orang untuk percaya saja, atau bukti yang ada hanya “kata orang” lagi.

أَفَمَن يَعۡلَمُ أَنَّمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَ ٱلۡحَقُّ كَمَنۡ هُوَ أَعۡمَىٰٓ‌ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ

“Apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Robbmu itu kebenaran, seperti halnya orang yang buta? Sesungguhnya yang mengambil palajaran hanyalah Ulul Albaab”. (Ar Ro’du : 19)

Telah berkali-kali diingatkan bahwa untuk suatu langkah atau tindakan yang hasil dan akibatnya bersifat mutlak, tidak bisa diulangi atau diperbaiki, tidak bisa ditanggung atau dibela oleh siapapun, jangan sekali-kali menggantungkan atau mempercayakan kepada selain Allah. Berpuluh kali Allah mengingatkan hal ini. Dan bukan hanya mengingatkan atau melarang, tetapi juga Allah telah menyediakan petunjuk yang jelas dan tuntas. Yang dituntut dari manusia hanya kebersihan hati, keawasan indera dan penalaran, untuk tunduk dan pasrah menyerah hanya kepada Allah satu-satunya. Ahad!

وَلَا يَأۡتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئۡنَـٰكَ بِٱلۡحَقِّ وَأَحۡسَنَ تَفۡسِيرًا

“Dan tidak satu kasus pun yang mereka sodorkan kepadamu, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu penjelasan (tafsir) yang benar dan terbaik”. (Al Furqon : 33)

Ternyata pihak Allah jugalah yang berhak dan pasti mendatangkan “tafsir” yang benar dan terbaik.

Orang-orang yang pada jiwanya telah “terpasang” dengan baik konsep “Al Ikhlash”, yaitu mereka yang berkualifikasi Al Mukhlashin, akan tumbuh sikap mental yang tegar dan konsisten pada prinsip“Hasbuna`llah”. Kecukupan bagi kami hanyalah Allah.

ٱلَّذِينَ قَالَ لَهُمُ ٱلنَّاسُ إِنَّ ٱلنَّاسَ قَدۡ جَمَعُواْ لَكُمۡ فَٱخۡشَوۡهُمۡ فَزَادَهُمۡ إِيمَـٰنً۬ا وَقَالُواْ حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ ٱلۡوَڪِيلُ

“Orang-orang yang orang banyak mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya semua orang telah bersatu padu untuk menghadapimu (melawanmu)”. Malah iman mereka semakin bertambah, dan mereka katakan: “Kecukupan kami hanyalah Allah, sebaik-baiknya “Al Wakiel” (yang dipercaya dan diserahi segala urusan)”. (Ali Imron : 173)

فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَقُلۡ حَسۡبِىَ ٱللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ‌ۖ عَلَيۡهِ تَوَڪَّلۡتُ‌ۖ وَهُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ

“Lalu jika mereka berpaling, maka katakanlah: “Kecukupanku hanyalah Allah. Tiada “Ilah” (yang diharap keridhoan-Nya) kecuali Dia. Kepada-Nya saja aku percayakan segala urusan. Karena Dialah Pemilik dan Penguasa Tahta Yang Agung”. (At Taubah : 129)

Prinsip “Hasbunallah” akan merefleksikan sikap begini. Sebanyak apapun dan dari siapapun keterangan yang diperoleh tentang sesuatu, belum dipandang cukup sebagai kebenaran yang meyakinkan, sebelum diperoleh keterangan penjelasan dari Allah, yang terbaca dari ayat-ayat-Nya.

Sebaliknya, jika telah diperoleh keterangan yang jelas dari Allah, maka ia tidak membutuhkan keterangan dari siapapun lagi. Yang ia butukan hanyalah bantuan atau bimbingan untuk menemukan keterangan dari Allah itu.

ذَٲلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلۡبَـٰطِلُ

“Demikian itu karena sesungguhnya Allah itu Dialah kebenaran, dan apa saja yang mereka seru dari selain Allah, dialah kebatilan”. (Al Hajj : 62)

وَمَا يَتَّبِعُ أَكۡثَرُهُمۡ إِلَّا ظَنًّا‌ۚ إِنَّ ٱلظَّنَّ لَا يُغۡنِى مِنَ ٱلۡحَقِّ شَيۡـًٔا‌ۚ

“Dan kebanyakan mereka tidaklah mengikuti kecuali persangkaan saja. Sedangkan sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk (mencukupi) kebenaran”. (Yunus : 36)

تِلۡكَ ءَايَـٰتُ ٱللَّهِ نَتۡلُوهَا عَلَيۡكَ بِٱلۡحَقِّ‌ۖ فَبِأَىِّ حَدِيثِۭ بَعۡدَ ٱللَّهِ وَءَايَـٰتِهِۦ يُؤۡمِنُونَ

“Itulah ayat-ayat Allah (fakta-fakta kauniyah) yang Kami bacakan kepadamu dengan (sebagai) kebenaran. Lalu mereka akan percaya kepada keterangan (“hadits”) yang mana lagi selain Allah dan ayat-ayat-Nya?”. (Al Jatsiyah : 6)

Begitu jelas dan tegasnya prinsip, pijakan dan pegangan Al Mukhlashin. Hanya dengan Allah dan ayat-ayat-Nya saja, tanpa terkontaminasi dengan yang selain-Nya, itulah sistem proteksi atau imunitas yang terbangun kokoh dalam jiwanya. Dan itupun (atas bimibingan dan “tangan-tangan” Allah) masih akan menumbuhkan terus sistem proteksi tersebut berupa “Sistem Kendali Robbani” yang terstruktur berlapis-lapis. Syayathin terblokir habis, jalur-jalur yang mungkin dilaluinya pun tertutup rapat. Syayathin tidak berdaya terhadap mereka, atau dengan kata lain mereka akan senantiasa terjaga dan terkontrol dari pikiran gagasan dan tindakan yang rancu, salah dan menyesatkan.

Sangat lain sekali dengan mereka yang telah menukar atau memodifikasi sistem perlindungan yang Allah Konsepkan (Al Ikhlash), mereka selalu berpijak dan berpegangan pada prinsip “Hasbuna Abaana” produk syayathin yang justru akan semakin memproduksi kesalahan semakin banyak dan semakin besar lagi.

Dengan prinsip tersebut, sikap mental yang tampil benar-benar berlawanan (paradoks) dengan prinsip Hasbunallah. Jika mereka telah mendapat keterangan dari “Abaana”, yakni tokoh-tokoh yang dipandang “’alim”, cukuplah sudah. Mereka tidak lagi merasa perlu konfirmasi dari Allah, bahkan tidak peduli lagi dengan ayat-ayat-Nya.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ تَعَالَوۡاْ إِلَىٰ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ وَإِلَى ٱلرَّسُولِ قَالُواْ حَسۡبُنَا مَا وَجَدۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآ‌ۚ أَوَلَوۡ كَانَ ءَابَآؤُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ شَيۡـًٔ۬ا وَلَا يَہۡتَدُونَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rosul”, mereka menjawab: “Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati atasnya (yang dilakukan) bapak-bapak kami”. Walaupun bapak-bapak mereka itu tidak mengetahui sesuatupun dan tidak mengikuti petunjuk?” (Al Maidah : 104)

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُواْ بَلۡ نَتَّبِعُ مَآ أَلۡفَيۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآ‌ۗ أَوَلَوۡ كَانَ ءَابَآؤُهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ شَيۡـًٔ۬ا وَلَا يَهۡتَدُونَ 

“Dan apabila dikatakan kepada mereka : “Ikutilah apa yang diturunkan Allah”, mereka menjawab : “Tapi kami mengikuti apa yang kami dapat dari bapak-bapak kami”. Walaupun bapak-bapak mereka itu tidak mengunakan akal (logika) sedikitpun dan tidak pula mengikuti petunjuk ?” (Al Baqoroh : 170)

Sebaliknya, seberapapun jelasnya ayat-ayat Allah yang mereka dengan atau mereka baca, mereka tidak akan membenarkan dan mengikuti sebelum mendapat pembenaran dari “Abaana” itu.

وَإِذَا تُتۡلَىٰ عَلَيۡہِمۡ ءَايَـٰتُنَا بَيِّنَـٰتٍ۬ مَّا كَانَ حُجَّتَہُمۡ إِلَّآ أَن قَالُواْ ٱئۡتُواْ بِـَٔابَآٮِٕنَآ إِن كُنتُمۡ صَـٰدِقِينَ

“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, tidak ada hujjah (argumentasi) mereka, selain mengatakan: “Datangkan dulu Bapak-bapak kami, jika memang kalian benar”. (Al Jatsiyah : 25).

Fenomena seperti itukah yang terjadi pada kaum kita selama ini? Mungkin saja mereka akan mengelak dari anggapan seperti pada ayat-ayat di atas. Bisa jadi menurut mereka, yang dimaksud di situ kan orang-orang yang memeluk agama nenek moyang, dan yang dimaksud dengan “Abaana” itu adalah nenek moyang mereka itulah. Sedangkan kita ini pemeluk “agama samawi”. Yang bersumber dari Allah dan diajarkan oleh Rosulullah, bukan ajaran nenek moyang.

Tapi apakah akan dilupakan saja, atau pura-pura lupa, bahwa kaum kita inipun memeluk agama Islam hanya berdasarkan warisan nenek moyang turun temurun sejak belasan abad yang silam, tanpa pernah merujuk kepada Allah sebagai sumbernya? Sehingga tanpa pernah disadari, yang tersisa sebenarnya tingggal label dan aksesoris yang hampa tanpa hakikat. Dan telah Allah peringatkan juga berbagai perilaku “orang pinter” yang harus diwaspadai, diantaranya:

وَإِنَّ مِنۡهُمۡ لَفَرِيقً۬ا يَلۡوُ ۥنَ أَلۡسِنَتَهُم بِٱلۡكِتَـٰبِ لِتَحۡسَبُوهُ مِنَ ٱلۡڪِتَـٰبِ وَمَا هُوَ مِنَ ٱلۡكِتَـٰبِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَمَا هُوَ مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ وَهُمۡ يَعۡلَمُونَ

“Dan sesungguhnya diantara mereka benar-benar ada segolongan yang demikian vokal lidahnya dengan Al Kitab, agar kalian mengira (bahwa itu bersumber) dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab. Dan mereka katakan: “Ini dari sisi Allah”. Padahal itu bukan dari sisi Allah. Mereka mengatakan kebohongan atas Allah padahal mereka mengetahui (bahwa itu bukan dari Allah)”. (Ali Imrom : 78)

Tapi tentang ayat di ataspun mungkin mereka akan mengatakan bahwa yang ditunjuk Allah pada ayat di atas itu “Ahli Kitab”, yaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani. Pokoknya segala tudingan Allah dalam Al Quran itu, alamatnya adalah penyembah berhala, Yahudi, Nasrani dan orang-orang kafir yang menolak untuk mengikuti Rosulullah dan Al Quran. Sedangkan kita ini orang-orang yang mengimaninya, menjadi ummat pengikutnya dan mencintainya, tidak mungkin menjadi sasaran tudingan tadi.

Jika celoteh di atas itu benar, maka berarti berbagai teguran dan peringatan dalam Al Quran itu sekarang sudah bukan peringatan lagi, melainkan sekedar “catatan sejarah” atau “kisah lama” bahwa dulu Allah pernah menegur atau memperingatkan orang Yahudi dan lain-lain. Al Quran sudah berubah fungsi yang jauh sekali. Subahanallah. Jika benar ada orang yang berpikiran begitu, benar-benar virus syayathin telah bersarang akut dalam otak dan hatinya.

Tapi Allah Yang Maha Pemurah itu tak bosan-bosan mengingatkan bahwa yang mengelak dari ayat-ayat Allah, ia akan terjebak mengikuti jalur syayathin yang menyesatkan.

وَٱتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَأَ ٱلَّذِىٓ ءَاتَيۡنَـٰهُ ءَايَـٰتِنَا فَٱنسَلَخَ مِنۡهَا فَأَتۡبَعَهُ ٱلشَّيۡطَـٰنُ فَكَانَ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ

“Dan bacakanlah kepada mereka berita tentang orang yang didatangkan kepadanya ayat-ayat Kami, lalu mereka melepaskan diri (mengelak) darinya, lalu syetanpun menjadikan ia pengikutnya, maka jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat”. (Al A’rof : 175)

Masih sangat banyak lagi alur pandangan dan pemikiran yang rancu dalam memahami konsep Kalimatullah ini, sebagai akibat virus-virus syayathin yang terus berkembang biak turun temurun. Namun semua itu pangkal penyebabnya adalah kelengahan manusia akan ayat-ayat Allah yang tergelar nyata di hadapannya (“Baina adiihim”). Dan ini terjadi karena pandangan mereka terhalang pekat oleh produk orang-orang dahulu yang dianggap abadi dan disakralkan. Lalu penalarannyapun terbelenggu dan terkacaukan oleh produk-produk tersebut dan berbagai hal lainnya yang diada-adakan orang.

Tentang apa yang disebut “Ilmu” atau “pengetahuan”, harus dapat dibedakan antara dua segmen yang ada, yaitu:
  • Penemuan dan pengungkapan fenomena Sunnatullah (fenomena alam) yang merupakan perwujudan “kalimatullah”, yang dalam bahasa filsafat, orang banyak menyebutnya “Hukum Alam”. Dan ..
  • “Hasil olahan” dari pikiran, perasan, ide atau gagasan manusia (pendapat atau ro’yu dan budaya).
Yang pertama itu bisa bersifat abadi dan universal, karena memang Sunnatullah itu universal dan tak pernah berubah. Tapi mesti diingat bahwa fenomena perubahan itu sendiri adalah Sunnatullah. Kita akan selalu menyaksikan fenomena perubahan itu dari waktu ke waktu, tanpa bisa menghentikan atau membendungnya.

Pengetahuan segmen inilah yang disebut orang sebagai “sains”, yang di dalamnya pun tidak tertutup kemungkinan adanya kekeliruan manusia (human eror).

Adapun yang kedua, yaitu “produk olahan” manusia, kemungkinan kelirunya lebih besar, kemungkinan adanya unsur subjektivitas perorangan atau kelompok, dan yang pasti, bersifat terbatas dalam ruang dan waktu. Bisa saja produk tersebut tidak sesuai untuk tempat atau waktu tertentu, tidak mampu mengimbangi perubahan yang terjadi, yang tidak mungkin dibendung karena memang telah merupakan bagian dari Sunnatullah. Karena sifatnya yang demikian itulah, ilmu pengetahuan segmen ini, berpotensi memunculkan polarisasi sosial, bahkan mungkin konflik sosial.

Diperlukan jiwa besar dan kelapangan dada yang dirasa amat berat, untuk menyadari bahwa hampir keseluruhan dari apa yang disebut “Ilmu Pengetahun Agama”, adalah hasil olah pikir manusia dengan segala karakteristik dan implikasinya seperti diutarakan di atas. Dan lebih parahnya lagi, produk manusia tersebut diberi label dan diyakini sebagai “prodak samawi” yang sakral, sehingga dianut dengan fanatisme dan sensitivitas yang sangat tinggi sehingga sangat resistan terhadap koreksi dan inovasi.

Kecuali Al Quran itu saja yang merupakan Kalamullah, dan tidak bisa disegolongkan sebagai “Ilmu Pengetahuan” karena bukan hasil temuan apalagi olah pikir manusia.

Allah telah menjamin untuk menjaga dan melesatarikan “Adz Dzikr”, yaitu:
  • Al Quran itu sendiri sebagai suatu bacaan, dan Adz Dzikr dalam bentuk lainnya yang Allah tetapkan dalam Al Quran juga, yaitu ....
  • Baitullah (Ka`bah) sebagi sebuah artefak, simbol kesatuan yang monumentaldan
  • Manasik (nusuk), suatu bentuk ritual seremonial, terutama Sholat Maktubah sebuah miniatur amanah yang sarat dengan nilai-nilai universal. Allah telah mengaturnya dan menjamin untuk tetap mentradisi dan lestari.
Pada dasarnya semua manusia mempunyai pandangan yang sama (sesuai “benih” yang ditanam Allah dalam “kromosom” jiwanya) bahwa dibalik alam semesta ini ada Sang Maha Pencipta-nya yang mereka sebut Tuhan, God, Dewa, Sang Hyang Widi, Gusti Nu Maha Suci, Debata Mulajadi Na Bolon, atau apa saja menurut bahasa mereka masing-masing. Yang jelas, berbagai macam nama atau sebutan itu, semua mengacu kepada satu dzat yang sama yaitu Sang Maha Pencipta.

Tetapi kemudian ketika mereka mencari tahu lebih lanjut tentang Sang Maha Pencipta itu, yang mereka jadikan rujukan atau nara sumbernya itu, apa yang merupakan hasil “olah rasa, karsa dan cipta” mereka sendiri, dengan segala karakteristik dan implikasinya tadi.

Dasar manusia, mana mungkin makhluk yang berkualifikasi “dholuuman jahuula” itu akan mampu menjangkau Dzat Yang Maha Suci dan Maha Tinggi. Maka pastilah terjadi kesalahan (terlahirlah produk syayathin) yang akan menyesatkan, dan terjadilah polarisasi dan pengelompokan sosial yang disebut “Ummat Beragama”, sekali gus dengan fanatisme dan sensitifitas emosionalnya.

 وَمَا كَانَ ٱلنَّاسُ إِلَّآ أُمَّةً۬ وَٲحِدَةً۬ فَٱخۡتَلَفُواْ‌ۚ وَلَوۡلَا ڪَلِمَةٌ۬ سَبَقَتۡ مِن رَّبِّكَ لَقُضِىَ بَيۡنَهُمۡ فِيمَا فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ

“Pada mulanya manusia itu tidak lain adalah ummat yang satu, lalu mereka berselisih. Kalau tidak karena konsep yang mendasarinya dari Robbmu, tentu telah diputuskan diantara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan itu”. (Yunus : 19)

Semestinya (menurut logisnya) hanya keterangan langsung dari Sang Maha Pencipta itu sendirilah satu-satunya jalan yang menjamin kebenaran pengetahuan manusia tentang Dia Sang Maha Pencipta dengan segala hal yang terkait dengan keberadaan, posisi (maqom), dan segala urusan-Nya

Di sinilah munculnya pertanyaan, adakah keterangan langsung dari Sang Maha Pencipta itu yang bisa didapat manusia? Kalau memang ada, yang manakah itu? Dan apa jaminannya bahwa itu benar-benar “Sabda Sang Maha Pencipta”, atau sekedar sesuatu yang diyakini sebagian orang sebagai itu.

Lalu siapa yang mengatakan bahwa Al Quran itu Kalamulah? Apa bukti yang mereka punya untuk mengatakan dan meyakininya?

Allah tidak menuntut, apalagi memaksa manusia untuk percaya saja kepada sesuatu yang tidak bisa mereka lihat buktinya, dan akal sehatnya pun tidak bisa menerima. Itu tidak adil. Maha Suci Allah dari sifat dan sikap tidak adil.

Allah hanya menuntut manusia untuk membuka dan mengunakan panca inderanya dengan baik dan cermat, kemudian gunakan pula akal sehatnya dengan baik. Dan Allah sebagai penciptanya sangat maha tahu bahwa manusia bisa melakukan itu. Kemudian mereka dituntut kejujurannya untuk membenarkan bukti yang mereka lihat dan keterangan yang mereka dengar, yang akal sehat mereka tidak bisa membantahnya. Ini benar-benar adil.

Dalam kaitan ini Allah menantang manusia untuk menguji Al Quran dengan cara yang benar dan logis, maka jika mereka awas dan jujur, manusia akan melihat bukan berdasarkan keterangan atau pengakuan siapapun, tetapi Al Quran itu sendiri menampilkan bukti bahwa dirinya itu Kalamulah.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ‌ۚ وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِندِ غَيۡرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ ٱخۡتِلَـٰفً۬ا ڪَثِيرً۬ا

“Lalu apakah mereka tidak “mentadabbur” (mengimplementasikan dan menggelar) Al Quran? Kalau Al Quran itu berasal dari selain Allah, pastilah mereka akan mendapati di dalamnya, banyak perselisihan (kontradiksi)”. (An Nisa : 82)

Bukan sekedar “uji klinis”, “uji laboratorium” atau “uji sidang”, tapi langsung bawa ke lapangan kehidupan, jabarkan, implementasikan dan aplikasikan, jalankan petunjuknya secara bersih tanpa terkontaminasi. Maka tidak akan mereka dapati satupun kontradiksi atau “ketidak-nyambungan” dengan fakta-fakta kebenaran dan logika akal sehat. Di belahan bumi manapun dan di zaman manapun Al Quran dipasang.

Maka tidak bisa disangkal bahwa Al Quran dengan alam semesta ini benar-benar “sepabrik”, berasal dari satu sumber yang sama. Dengan demikian, mereka yang mengingkari Al Quran, pantas sekali untuk disebut kafir dan bersiaplah untuk menanggung akibatnya. Dan ini benar-benar adil.

وَإِن ڪُنتُمۡ فِى رَيۡبٍ۬ مِّمَّا نَزَّلۡنَا عَلَىٰ عَبۡدِنَا فَأۡتُواْ بِسُورَةٍ۬ مِّن مِّثۡلِهِۦ وَٱدۡعُواْ شُهَدَآءَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ إِن كُنتُمۡ صَـٰدِقِينَ (٢٣) فَإِن لَّمۡ تَفۡعَلُواْ وَلَن تَفۡعَلُواْ فَٱتَّقُواْ ٱلنَّارَ ٱلَّتِى وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ‌ۖ أُعِدَّتۡ لِلۡكَـٰفِرِينَ

“Dan jika kalian dalam keraguan tentang apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami, datangkanlah satu surat saja yang menyamainya, dan kerahkan pendukung-pendukungmu dari selain Allah, jika memang kalian benar. Dan jika kalian tidak mampu, dan pasti kalian tidak akan mampu melakukannya, maka hati-hatilah dengan neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu-batu, disediakan bagi orang-orang kafir”. (Al Baqoroh : 23-24)

Maka dari itu, yang dituntut dari manusia oleh Pencipta, Pemilik dan Penguasa Alam ini, adalah agar manusia terus menggali ilmu tentang hal ihwal penciptaan alam ini, kemudian dalam memproduk Ilmu Pengetahuan dan budaya dari olah rasa, karsa dan cipta mereka, senantiasa dipandu dengan petunjuk dari Dia Yang Maha Mengetahui, yang bisa dibaca dari Kitab-Nya (Al Quran), tanpa dicemari oleh campur tangan siapapun.

Jika itu yang dilakukan manusia, maka peradaban yang mereka bangun akan terhindar dari berbagai implikasi negatif yang membuatnya tercacat (fasad). Syayathin akan benar-benar terblokir, jalur-jalur operasinya pun akan tersumbat. Maka pada peradaban manusia akan terpancar nyata pesona kesucian, kemuliaan dan keagungan Asma Allah.

SUBHANALLAH....ALHAMDU LILLAH..... ALLAHU AKBAR....!
Name

Dakwah Ilallah,12,Jalan Keselamatan,7,Jurnal Roqim,1,Kajian Lepas,42,Manhaj Risalah,12,
ltr
item
Ini Islam: Menutup Jalur-Jalur Syetan
Menutup Jalur-Jalur Syetan
https://2.bp.blogspot.com/-Yvo27Ao8bGU/WND2ngBk1lI/AAAAAAAAAKo/pyHiI-paA7kqRI3idbd2Gankdv8uCTUyQCLcB/s640/menutup-jalur-syetan.png
https://2.bp.blogspot.com/-Yvo27Ao8bGU/WND2ngBk1lI/AAAAAAAAAKo/pyHiI-paA7kqRI3idbd2Gankdv8uCTUyQCLcB/s72-c/menutup-jalur-syetan.png
Ini Islam
http://www.iniislam.net/2017/01/menutup-jalur-jalur-syetan.html
http://www.iniislam.net/
http://www.iniislam.net/
http://www.iniislam.net/2017/01/menutup-jalur-jalur-syetan.html
true
7017169815549685310
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy