Bagaimana Tegaknya Syari'at Islam?

SHARE:

Fenonemena yang semakin mengemuka dan semakin gencar diteriakan, menuntut republik ini menerapkan "syariat islam". Ketika di...

bagaimana-tegaknya-syariat-islam

Fenonemena yang semakin mengemuka dan semakin gencar diteriakan, menuntut republik ini menerapkan "syariat islam". Ketika didengar ada pihak yang merespon secara antagonis terhadap teriakan tadi, mereka semakin geram, lalu muncul pernyataan "haram hukumnya memilih capres yang partai pungusungnya punya agenda melarang Perda Syariah".

Sungguh sulit mengatakannya. Apakah ini fenomena yang mengherankan? menyedihkan? Menakutkan? atau memalukan?

Karena jika dianalisa dengan "logika perasaan" saja dulu, (mungkin semacam "kecerdasan emosi"), begini logikanya:

Islam itu ajaran yang suci dan mulia, disyariatkan oleh Allah yang Maha Tinggi, Maha Agung dan Maha Sempurna. Maka pantaskah jika nasibnya ditentukan oleh tandatangan seorang bupati dan persetujuan DPR dalam bentuk Perda?

Harus dengan itukah syariat dari Yang Maha Agung itu bisa berlaku? Harus ada restu dari manusia yang penguasa? Kemudian untuk itu, ummatnya berteriak menjerit-jerit meminta itu? Inikah "'Izzul Islam"? Inikah Islam yang jaya?

Maha Suci Allah, dan Maha Tinggi, dari apa yang mereka sifatkan.

Inilah yang sebenarnya "penistaan Islam". Memposisikan Dienullah pada posisi hina. Merintih-rintih, berteriak-teriak, menuntut belas kasihan dan keridhoan penguasa thoghut.

سُبۡحَـٰنَهُ ۥ وَتَعَـٰلَىٰ عَمَّا يَصِفُونَ

MAHA SUCI ALLAH DARI APA YANG MEREKA SIFATKAN

Kemudian jika dianalisa dengan logika keilmuan (saint). Logikanya begini:

Islam itu Agama Allah, Agama Samawi yang suci dan menuntut kesucian, karena dita'yid dengan "Ar Ruuh min Amrillah" tidak mungkin compatible, untuk diaplikasikan pada perangkat hardware buatan manusia yang kotor. Allah tidak akan Ridho "Karya Intelektual"-Nya yang suci dan agung itu, diaplikasikan pada "device" murahan dan kotor buatan manusia.

Negara itu insitusi ardhi, buatan manusia. Allah tidak akan pernah butuh akan apapun yang dibuat oleh manusia itu. Allah mampu menciptakan apa saja. Allah hanya akan menggunakan dan mengoperasikan apa yang diciptakan dan dihidupkan-Nya sendiri, dengan energi Ruuhiyyah yang hanya ada pada Urusan-Nya.

Mengapa harus bergantung kepada apa yang dibuat makhluk-Nya. Biarkan saja manusia membuat apapun dan digunakan untuk apapun, dengan cara apapun. Allah yang akan membalas semua yang dilakukan oleh setiap orang, kelak di Akhirat.

Maka sangatlah tidak pantas, jika ada sekelompok orang begitu ngiri atas apa yang dibuat orang lain (berupa negara atau lembaga apapun).

Satu-satunya alasan yang mereka dengungkan adalah: "Syariat Islam itu harus ditegakkan secara kaaffah. Bagaimana mungkin itu bisa dilakukan jika Ummat Islam ini tidak punya kekuasaan?"

Untuk menjawabnya, coba kita buat analogi begini:

"Bagaimana mungkin suatu keluarga bisa menjalani semua aktivitas kehidupan keluarga tersebut, jika mereka tidak punya rumah?"

Memang betul begitu. Tapi, apakah lantas harus merebut rumah orang ...???

Sering kali didengar sanggahan terhadap konsep pemikiran seperti diatas, dan selalu berbunyi begini:

"Memahami Islam itu jangan hanya menggunakan akal dan logika. Itu adalah cara-cara sekuler, yang bisa merusak akidah dan menyesatkan".

Padahal akal manusia itu, Allahlah yang menciptakannya. Juga "aplikasi" yang mengatur cara kerja akal tersebut (yang disebut logika) karya cipta Allah juga. Lebih dari itu, alam semesta dan segala hukum dan tabiat alam yang mengatur perilaku dan fenomenanya, dimana akal dioperasikan dan dieksplorasikan, Allah juga yang menciptakannya.

Maka jika benar hanya akal murni ciptaan Allah, aplikasi kinerjanyapun hanya yang original ciptaan Allah (inilah yang disebut Albaab), dioperasikan pada fenomena alam ciptaan Allah, pasti akan terkonfirm oleh Kalamullah (Al Quran).

Sebaliknya elemen-elemen informasi berupa apapun yang menyalahi (kontradiktif) dengan segala yang Allah ciptakan itu, atau kontradiksi dengan Kalamullah, pastilah itu suatu kebohongan (fiksi) yang diada-adakan orang.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلۡقُرۡءَانَ‌ۚ وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِندِ غَيۡرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُواْ فِيهِ ٱخۡتِلَـٰفً۬ا ڪَثِيرً۬ا

Maka apakah mereka tidak "mentadabbur" (mengunduh dan mengimplementasikan) Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati banyak kontradiksi di dalamnya. (An Nisa : 82)

Allah telah mengonsep dan mengatur segala sesuatu terkait Dienullah ini dengan lengkap dan SEMPURNA. Kita manusia tidak dibenarkan ikut campur tangan mereka-reka mengatur Dien milikNya ini dengan mengada-ada atau menyalahi petunjuk-Nya.

أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ يَزۡعُمُونَ أَنَّهُمۡ ءَامَنُواْ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ وَمَآ أُنزِلَ مِن قَبۡلِكَ يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُوٓاْ إِلَى ٱلطَّـٰغُوتِ وَقَدۡ أُمِرُوٓاْ أَن يَكۡفُرُواْ بِهِۦ وَيُرِيدُ ٱلشَّيۡطَـٰنُ أَن يُضِلَّهُمۡ ضَلَـٰلاَۢ بَعِيدً۬ا

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengklaim dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (An Nisa : 60)

Ketika Allah menurunkan dan menggelar urusan-Nya, maka Allah sendiri yang akan memunculkan institusi yang mewadahinya, bermula dengan dimunculkan-Nya pemimpin-pemimpin untuk itu, sebagai cikal bakal "Ummatan Wahidah" untuk suatu penggalan tertentu dari ruang dan waktu.

وَجَعَلۡنَا مِنۡہُمۡ أَٮِٕمَّةً۬ يَہۡدُونَ بِأَمۡرِنَا لَمَّا صَبَرُواْ‌ۖ وَڪَانُواْ بِـَٔايَـٰتِنَا يُوقِنُونَ

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memimpin (mereka) dengan Urusan Kami, ketika mereka sabar. Dan adalah mereka benar-benar yakin akan ayat-ayat Kami. (As Sajdah : 24)

Pemimpin-pemimpin tersebut di atas itulah yang kemudian tumbuh berkembang melembaga (institusi) seperti (ibarat) pohon yang hidup bertunas, berkembang, tanpa mengganggu siapapun di sekelilingnya.

Disitulah digelarnya semua urusan Dienullah secara kaaffah. Di rumah sendiri, karunia Allah. Tentunya hanya bagi orang-orang yang mengakui kedaulatan Allah melalui pemimpin yang Allah munculkan (bangkitkan) untuk mereka, secara benar (haq) dan legal (sah) dalam pandangan Allah.

Memang benar bahwa pemimpin-pemimpin yang menggelar Urusan Allah itupun, harus ditunjang dengan wewenang dan kekuasaan. Tetapi yang harus mereka kuasai itu bukan suatu "wilayah" atau sekavling tertentu dari bumi ini, melainkan HATI-HATI MANUSIA yang siap tunduk sujud sepenuhnya kepada Allah.

Selain mengatur dan menunjuki mereka tentang bagaimana mereka membangun dan menjalani kehidupan ini agar jiwa-jiwa mereka tumbuh dengan baik, (suci dan shaleh), Allah juga menuntun dan menunjuki mereka itu, dalam upaya mencari penghidupan (mencari karunia Allah) untuk memenuhi kebutuhan jasmani mereka dalam hidup di dunia ini.

Untuk memperoleh segala yang mereka butuhkan untuk kehidupan di dunia ini (karunia Allah), Allah mendorong orang-orang mukmin untuk menyebar di muka bumi, kemana saja, tanpa terhalang batas-batas teritorial maupun institusional, dengan selalu mengingat Allah, yaitu mengingat segala arahan, petunjuk dan ketentuan-ketentuan dari Allah.

فَإِذَا قُضِيَتِ ٱلصَّلَوٰةُ فَٱنتَشِرُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَٱبۡتَغُواْ مِن فَضۡلِ ٱللَّهِ وَٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ كَثِيرً۬ا لَّعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ

Apabila shalat telah ditunaikan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah. Dan senantiasalah mengingat Allah mudah-mudahan kalian berhasil sukses. (Al Jumu'ah : 10)

Dalam mencari karunia Allah di berbagai titik di muka bumi ini, pasti kita akan berinteraksi dengan berbagai kalangan manusia. Dan akan banyak bertemu dengan kondisi-kondisi dan situasi yang menuntut kita berkomitmen dengan berbagai pihak dalam berbagai urusan. Inilah hablum minannas yang Allah ingatkan bahwa kita harus menjaga komitmen hablum minannas ini.

Terkait keberadaan kita di sebuah negeri, petunjuk dan arahan Allah sebagai berikut:

وَإِذۡ قُلۡنَا ٱدۡخُلُواْ هَـٰذِهِ ٱلۡقَرۡيَةَ فَڪُلُواْ مِنۡهَا حَيۡثُ شِئۡتُمۡ رَغَدً۬ا وَٱدۡخُلُواْ ٱلۡبَابَ سُجَّدً۬ا وَقُولُواْ حِطَّةٌ۬ نَّغۡفِرۡ لَكُمۡ خَطَـٰيَـٰكُمۡ‌ۚ وَسَنَزِيدُ ٱلۡمُحۡسِنِينَ

Dan (ingatlah), ketika Kami katakan: "Masuklah kamu ke negeri ini, dan makanlah dari situ, yang begitu melimpah seberapa kamu mau, dan masuklah lewat pintunya dengan bersujud, dan katakanlah (berpeganglah pada sebuah prinsip) "TANPA BEBAN", Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu, dan Kami akan memberi nilai tambah (benefit) kepada orang-orang yang melakukan yang terbaik". (Al Baqoroh : 58)

Terkait keberadaan kita di sebuah negeri (dimanapun) ada beberapa ketentuan/perintah/petunjuk dari Allah, pada ayat diatas, yaitu:
  1. Keberadaan kita di situ, adalah untuk mencari karunia Allah ("makan") semaksimal kita bisa (haetsu syiktum)
  2. Keberadaan kita di situ harus legal (masuk lewat pintu, bukan "loncat pagar" atau lewat "jalan tikus"
  3. Tunduk dan menghormati segala ketentuan dan norma-norma yang berlaku setempat (sujjadan, dengan bersujud)
  4. Allah tidak membebankan apapun (terkait Urusan-Nya). Segala yang terkait Urusan Dienullah, digelar pada komunitas/institusi yang Allah munculkan kepemimpinannya untuk itu (inilah makna dari: "tanpa beban")
  5. Kita dituntut untuk berprestasi (muhsinin) untuk bisa meraih sukses (benefit/ziyadah)
Begitu sempurnanya petunjuk Allah terkait keberadaan kita di suatu negeri. Kurang bagaimana lagi.

Bahkan ditambah dengan peringatan Allah di ayat lain:

... ضُرِبَتۡ عَلَيۡہِمُ ٱلذِّلَّةُ أَيۡنَ مَا ثُقِفُوٓاْ إِلَّا بِحَبۡلٍ۬ مِّنَ ٱللَّهِ وَحَبۡلٍ۬ مِّنَ ٱلنَّاسِ

Disandangkan atas mereka kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (rambu-rambu) Allah dan tali (komitmen) dengan manusia, ... (Ali Imron : 112)

Tapi apa yang dilakukan segolongan Muslimin di negeri ini. Hampir kelima butir petunjuk di atas, diabaikan dan dilanggar. Mereka banyak membuat onar dan kegaduhan. Menuntut itu, memprotes ini, ikut berebut kekuasaan atas nama agama, merusak dan melanggar hak milik orang lain, menghembus-hembuskan angin permusuhan, mengganggu kenyamanan orang banyak, dan macam-macam lagi.

Lebih parahnya lagi, semua itu dilakukan dengan mencatut nama Allah, agama Allah, urusan Allah, amar ma'ruf nahi munkar. Padahal petunjuk dan ketentuan dari Allah pada ayat di atas, begitu lengkap terang dan jelas.

SUBHANALLAHI 'AMMAA YASHIFUUN ...

Pantas sekali jika Allah murka dan menimpakan kutukan, sebagaimana Kalamullah berikutnya:

فَبَدَّلَ ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ قَوۡلاً غَيۡرَ ٱلَّذِى قِيلَ لَهُمۡ فَأَنزَلۡنَا عَلَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُواْ رِجۡزً۬ا مِّنَ ٱلسَّمَآءِ بِمَا كَانُواْ يَفۡسُقُونَ

Lalu orang-orang yang dholim mengganti perintah dengan apa yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang dholim itu kutukan dari langit, disebabkan penyimpangan yang mereka lakukan. (Al Baqoroh : 59)

Coba kita perhatikan, apa yang dilakukan dan bagaimana perilaku sebagian golongan kaum Muslimin di muka bumi. Dan apa yang mereka alami dan mereka derita sepanjang masa.

Maka berhentilah, stop! Mencatut nama Allah, memalsukan Agamanya dalam berkehidupan dunia.

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يُعۡجِبُكَ قَوۡلُهُ ۥ فِى ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَيُشۡهِدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا فِى قَلۡبِهِۦ وَهُوَ أَلَدُّ ٱلۡخِصَامِ

Dan di antara manusia ada orang yang perkataannya dalam kehidupan dunia (sosial) begitu menakjubkan dan dipersaksikan pula (nama) Allah atas apa yang ada dalam hatinya, padahal ia adalah penentang yang paling radikal. (Al Baqoroh : 204)

وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِى ٱلۡأَرۡضِ لِيُفۡسِدَ فِيهَا وَيُهۡلِكَ ٱلۡحَرۡثَ وَٱلنَّسۡلَ‌ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلۡفَسَادَ

Dan apabila ia berpaling, ia bergerak di muka bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak sawah-ladang dan binatang ternak (lahan penghidupan), padahal Allah tidak menyukai pengrusakan (Al Baqoroh : 205)

قُلۡ سِيرُواْ فِى ٱلۡأَرۡضِ ثُمَّ ٱنظُرُواْ ڪَيۡفَ كَانَ عَـٰقِبَةُ ٱلۡمُكَذِّبِينَ

Katakanlah: "Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana akibat yang diderita para pembuat kebohongan/kepalsuan itu. (Al An'am : 11)

MAHA BENAR ALLAH YANG MAHA TINGGI DAN MAHA AGUNG.
Name

Dakwah Ilallah,12,Jalan Keselamatan,7,Jurnal Roqim,1,Kajian Lepas,42,Manhaj Risalah,12,
ltr
item
Ini Islam: Bagaimana Tegaknya Syari'at Islam?
Bagaimana Tegaknya Syari'at Islam?
https://2.bp.blogspot.com/-JrnrDHLM7fs/WNDZSt3o7xI/AAAAAAAAAGg/GyDE_Lc2zRouwMbt2PLLdHzwDtow2mfNgCLcB/s640/bagaimana-tegaknya-syariat-islam.png
https://2.bp.blogspot.com/-JrnrDHLM7fs/WNDZSt3o7xI/AAAAAAAAAGg/GyDE_Lc2zRouwMbt2PLLdHzwDtow2mfNgCLcB/s72-c/bagaimana-tegaknya-syariat-islam.png
Ini Islam
http://www.iniislam.net/2017/03/bagaimana-tegaknya-syariat-islam.html
http://www.iniislam.net/
http://www.iniislam.net/
http://www.iniislam.net/2017/03/bagaimana-tegaknya-syariat-islam.html
true
7017169815549685310
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy