Konsep Kenabian Dan Kerosulan

SHARE:

Jika orang-orang berani menyingkap keterangan-keterangan Al Quran yang disembunyikan atau diplintar-plintir dengan dalih “tafsir”, a...


Jika orang-orang berani menyingkap keterangan-keterangan Al Quran yang disembunyikan atau diplintar-plintir dengan dalih “tafsir”, akan terbukti bahwa dalam Al Quran itu tidak dikenal adanya Ummat Muslimin tanpa keberadaan dan peranan para Nabi dan Rosul. Peranan mereka harus benar-benar ada, nyata dan konkrit. Bukan hanya berupa kisah atau kepercayaan bahwa di masa lampau pernah ada Para Nabi dan Rosul yang menyampaikan Agama Allah (Agama Samawi), sedangkan sekarang ini era Para Ulama, bukan lagi era Nabi dan Rosul. Tidak demikian. Tidak ada bukti dari Allah yang bisa membenarkan anggapan seperti itu.

Memang yang demikian itulah kenyataan faktualnya. Tetapi ini semua terjadi karena adanya “aksi pembunuhan para Nabi” (Allah menyebutnya begitu dalam Al Quran). Tetapi bukannya “membunuh” secara fisik/personal. Terbunuh atau wafatnya seorang Nabi atau Rosul tidak akan berpengaruh atau mengakibatkan berubahnya Konsep Kalimatullah/Dinullah.

Yang terjadi adalah “membunuh” para Nabi secara konseptual/massal. Keberadaan dan peranan Nabi dan Rosul dicabut (dieliminasi) dari konsep dasar Dienul Islam. Inilah yang akibatnya fatal. Nabi dan Rosul boleh saja wafat dan tidak muncul lagi penggantinya. Tetapi tidak boleh lantas konsep dasar (statuta) Dienullah itu diubah-ubah hanya karena adanya ambisi kepemimpinan yang terganjal. Ketika yang dirasa mengganjal itu dieliminasi, maka bobollah ambisi (baghyan) itu tak terkendali lagi. Maka perpecahan dan kekacauanpun melanda tanpa bisa dibendung atau dihentikan.

Al Quran itu Kitabullah yang sempurna dan seluruh bacaannya (kalimah-kalimahnya) sudah tamat diturunkan kepada Rosulullah Muhammad. Tidak akan pernah ada tambahan lagi. Apakah itu (misalnya) “Al Qur'an Jilid II”, ataupun “surat ke-115”.

Tetapi “Cahaya terang” dari Al Quran itu diperuntukkan Allah untuk menerangi kehidupan manusia sepanjang zaman, maka harus terus terpancarkan. Sedangkan yang Allah jadikan (yang ditetapkan dalam sistem Robbani) sebagai “lampu” yang memancarkan cahaya-Nya itu (“Syirojan Muniero”) hanyalah seorang Rosul. Dalam arti bahwa pada penuturan, pengajaran dan perilaku kehidupan Rosul itulah terpancarkannya cahaya Al Quran. Dalam arti kata, semua yang diterangkan, diajarkan dan dilakukan oleh seorang Rosul, manusia bisa melihat bukti-buktinya secara nyata bahwa itulah yang diajarkan Allah melalui Al Kitab dan Al Hikmah.

Ketika Rosul wafat, cahaya itupun tentunya tidak terpancarkan lagi. Cahaya Al Quran itu terpancarkan dengan “Energi Ruhiyyah” yang Suci dan Credible (“Ruhul Qudus”, “Ruhul Amien”), maka tidak bisa digantikan oleh sembarang manusia. Ibarat sebuah lampu listrik (bohlam) yang sudah mati, tidak bisa hanya diganti dengan sebuah botol saja ataupun benda lainnya.

Ataukah akan dianggap bahwa “lampu” tersebut tidak diperlukan lagi? Maka kalau begitu, cahaya itupun tidak akan ada lagi, maka segala petunjuk Allah itu hanya diperoleh dengan mendengar keterangan dari mulut ke mulut, dari buku ke buku, wacana dan rethorika. Tanpa bisa menunjukkan bukti-bukti bahwa itu dari Allah, melalui Ayat-ayat-Nya.

Inilah fenomena yang ada selama ini. Dan ini menunjukkan bahwa tidak ada lagi cahaya terang itu. Islam hanya bisa diketahui orang berdasarkan apa yang didengar dari apa yang dikatakan orang. Ketika seseorang hanya bisa mengetahui segala sesuatu dari apa yang didengar dari orang ke orang, tanpa bisa “melihat” bukti-buktinya berupa ayat-ayat Allah, itu artinya orang tersebut berada dalam kegelapan.

Kalau hanya untuk bisa “mendengar” saja, sama sekali tidak dibutuhkan cahaya. Dalam keadaan gelap gulita sekalipun, orang-orang tetap bisa mendengar. Cahaya itu diperlukan ketika mereka ingin melihat bukti kebenaran dari apa yang mereka dengar itu, dengan penglihatan dan pendengaran (sam’a wal abshor) atau dengan hati dan pikiran (af`idah). Terkait hal tersebut di atas, Allah mengarahkan Rosul untuk tetap menjaga prinsip kejelasan bukti ayat-ayat Allah itu tersebut dengan Kalam-Nya sebagai berikut:

قُلۡ هَـٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدۡعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ‌ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۟ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى‌ۖ وَسُبۡحَـٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۟ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

Katakanlah: "Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) ke pihak Allah atas dasar bashieroh (bukti yang nyata), Maha suci Allah, dan aku tidaklah termasuk penyekutu Allah". (Yusuf : 108)

Maka dengan demikian, yang dimaksud dengan “mengeluarkan manusia dari kegelapan” itu tidak lain adalah, mengajak mereka untuk berhenti membenarkan begitu saja apa yang mereka dengar, melainkan harus terbuktikan dengan jelas, melalui ayat-ayat-Nya, bahwa itu kebenaran dari Allah.

أَفَمَن يَعۡلَمُ أَنَّمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَ ٱلۡحَقُّ كَمَنۡ هُوَ أَعۡمَىٰٓ‌ۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ

Apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu adalah kebenaran, seperti halnya orang yang buta? Hanyalah Ulul Albab saja yang dapat mengambil pelajaran. (Ar Ro’du : 19)

Ayat di atas menegaskan bahwa mengetahui kebenaran dari Allah itu tidak boleh hanya dengan cara mendengar saja seperti caranya orang yang buta atau dalam kegelapan. Hanya saja ditegaskan bahwa kebenaran dari Allah itu hanya bisa dipahami dengan cara “Ulul Albab”, yaitu dengan menggunakan akal murni secara sehat, tidak terbelenggu oleh pandapat-pendapat atau ajaran yang tidak terbuktikan kebenarannya bahwa itu dari Allah, seberapapun banyaknya manusia yang menyepakati pendapat tersebut.

Namun anehnya, ketika ada orang yang menggunakan akal sehat mengikuti ketentuan dari Allah, mereka yang sudah terbiasa dalam kegelapan, malah menudingnya sebagai: “mempertuhan akal”. Barangkali mereka lebih merasa tenang dan tentram (istaghna) dengan mempertuhan kebiasaan leluhur daripada tunduk mengikuti petunjuk Allah.

Dari paparan di atas tentang keberadaan dan peranan seorang Rosul, terkesan adanya suatu kontradiksi. Di satu sisi Rosulullah Muhammad adalah Nabi Penutup (Khotaman Nabiyyin). Sampai Hari Kiamat tidak akan ada seorangpun yang ditunjuk atau diangkat oleh Allah sebagai Nabi, sedangkan Rosul itu hanya muncul atau tampil dari salah seorang di antara nabi-nabi itu. Sementara di sisi lain, yang diakui dan diizinkan Allah untuk mengkonversi Al Quran menjadi cahaya terang, hanyalah seorang Rosul, tidak ada seorangpun selain Rosul yang mendapat mandat atau izin Allah untuk itu.

Dengan kata lain, hanya para Nabi dan Rosul sajalah, sepanjang sejarah keberadaan Dienulah, yang memiliki domain untuk menyampaikan, mendakwahkan, mengajarkan dan mensyari‘atkan Al Quran dan Agama Allah itu. Pihak-pihak lain yang mensyari’atkan agama Allah tanpa izin-Nya, secara tegas Allah menyatakan bahwa mereka yang demikian itu adalah penyekutu (yang menyekutui) Allah.

أَمۡ لَهُمۡ شُرَڪَـٰٓؤُاْ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُ‌ۚ وَلَوۡلَا ڪَلِمَةُ ٱلۡفَصۡلِ لَقُضِىَ بَيۡنَہُمۡ‌ۗ وَإِنَّ ٱلظَّـٰلِمِينَ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ۬

Apakah mereka mempunyai (mengakui) penyekutu-penyekutu Allah yang mensyariatkan bagi mereka dari Agama ini, sesuatu yang tidak diizinkan Allah? Kalau bukan karena telah adanya kalimah (konsep) yang terperinci, tentulah telah diputuskan (dijatuhkan vonis) diantara mereka. Dan sesungguhnya orang-orang yang dholim itu bagi mereka azab yang amat pedih. (Asy Syuro – 21)

Ide atau gagasan apapun yang lahir di bumi, dalam kehidupan manusia, untuk digelar sebagai sebuah “gerakan” atau misi, pasti akan ada pihak atau kalangan tertentu yang mewujudkan, menggelar dan menyelengarakan ide atau gagasan tersebut. Sebut saja misalnya LSM, Ormas, Partai atau bahkan Negara. Dan pasti ada apek-aspek legalitas dan kompetensi (kewenangan) yang harus dipenuhi dalam menyelenggarakan konsep atau gagasan tersebut.

Apalagi tentang sebuah misi dari Yang Maha Suci dan Maha Tinggi, yang hanya Dia sendiri yang menjadi Pemiliknya, bagaimana mungkin jika kemudian semua orang merasa punya hak tampil sebagai itu sebagai ini dalam penyelenggaraan Dienullah, tanpa peduli aspek-aspek kebenaran dan legalitas. Siapa yang memberi izin dan mandat untuk itu? Agama Allah ini ada Yang Punya!

Demikianlah, pantas dan tepat benar jika Allah menyebut mereka para “Penyekutu Allah” (Syurokaa`), dan para pengikut yang mengakui mereka, dan mereka itu bergolong-golongan, Allah menyebut mereka “Musyrikin” (yang menyekutukan Allah). Mereka telah mengabaikan posisi (Maqom) Allah sebagai Pemilik Tunggal Dienul Islam, lalu mengambil alih milik-Nya itu menjadi lahan berlomba membangun karir duniawi.

Maka dalam kaitan legalitas inilah, pada surat Yusuf : 108 di atas, Rosul disuruh menegaskan dengan pernyataan “Aku bukan termasuk Penyekutu Allah”. Dalam arti bahwa peran Rosul sebagai penyeru manusia ke Jalan Allah, telah mengantongi mandat dan izin Allah, tidak dengan mengabaikan hak, otoritas dan izin Allah untuk itu.

Banyak sekali ayat-ayat lain yang terhubung dengan ayat di atas, bahwa domain atas segala aspek dari penyelenggaraan Agama Allah itu hanya ada pada seorang Rosul. Tidak ada satupun ayat yang mengindikasikan bahwa domain atas Dienullah itu bisa “pindah” ke pihak lain.

Akan membutuhkan ruang dan halaman yang lebih banyak lagi jika ayat-ayat tersebut kami kutip, maka berikut ini kami sebutkan saja ayat-ayat dimaksud, yang semua pasti bisa membacanya dalam Al Quran.
  1. Pada Asy Syuro : 13 ditegaskan bahwa yang diberi washiyat (mandat) untuk mensyariatkan dan menegakkan Dienullah itu hanya Para Rosul. Maka sebagaimana pada ayat 21 di atas, yang tidak ada izin Allah untuk itu, dinyatakan sebagai “penyekutu” (yang mengintervensi) wewenang Allah.
  2. Pada Al Baqoroh : 129 dan 151, Ali Imron : 164, dan Al Jumu-’ah: 2-3, ditegaskan bahwa Para Rosullah (bukan yang lain) yang diandalkan Allah untuk mewacanakan Ayat-ayat Allah, mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada orang-orang yang beriman serta mensucikan mereka.
  3. Pada Al Maidah : 67, An Nahl : 125, Al Ankabut : 45, perintah menyampaikan Risalah, mengajak orang ke jalan Allah dan membina Ummat dalam Jaringan Rahmat (Sholat), disampaikan Allah kepada mukhothob (lawan bicara) “anta” (kamu/orang kedua tunggal). Ini menunjukkan bahwa yang diperintah Allah untuk itu semua, hanya seorang individu, yang tidak lain adalah Rosul. Dan tidak seorangpun yang berhak atau dibenarkan mengubah dlomir “anta” pada ayat-ayat tersebut menjadi “antum” (kalian semua), sehingga semua orang merasa mendapat perintah Allah dengan ayat-ayat tersebut.
  4. Pada Al An’am : 83-88 dan Asy Syuro : 51-52 ditegaskan bahwa Allah menyampaikan petunjuk-Nya itu hanya kepada Rosul yang kemudian Rosul itulah yang menyampaikan petunjuk Allah kepada manusia dan membimbing mereka di Jalan Allah (Shirotol Mustaqiem). Jangankan menyampaikan perintah, larangan, petunjuk dan bimbingan, “berbicara” atau menyampaikan Kalam saja kepada manusia tidak pernah Allah lakukan kecuali dengan tiga cara yakni: Secara wahyu atau kontak langsung dari balik hijab atau mengandalkan (menyampaikan pesan melalui) seorang Rosul.
  5. Pada Al Hajj : 78, Ali Imron : 52-53, An Nisa : 41, An Nahl : 89, Al Maidah : 117, dan Al An’am : 130 Allah menegaskan bahwa Rosul itu ditetapkan sebagai saksi atas ke-Musliman seseorang dan sebagai pengikutnya. Sementara itu, Rosul hanya bisa menjadi saksi atas orang-orang yang hidup bersamanya, dan kesaksian tersebut akan dipertanyakan Allah kepada setiap orang pada Hari Kiamat nanti.
  6. Pada An Nisa : 64-65, Al Ahzab : 66-67, ditegaskan lagi bahwa dalam Urusan Allah, yang berhak ditaati atas izin Allah hanya seorang Rosul, ketaatan manusia kepada yang bukan Rosul akan menyesatkan dan berakibat adzab neraka.
Silahkan baca materi Kontradiksi Multi Kompleks dalam Doktrin Kerosulan untuk pembahasan lebih detail mengenai doktrin kerosulan.


Salah satu dari sekian banyak ayat-ayat tersebut di atas, yakni yang disebut paling akhir, saya kutip berikut ini:

يَوۡمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمۡ فِى ٱلنَّارِ يَقُولُونَ يَـٰلَيۡتَنَآ أَطَعۡنَا ٱللَّهَ وَأَطَعۡنَا ٱلرَّسُولَا۟ (٦٦) وَقَالُواْ رَبَّنَآ إِنَّآ أَطَعۡنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَآءَنَا فَأَضَلُّونَا ٱلسَّبِيلَا۟

Pada hari ketika muka mereka dibontang-banting dalam neraka, mereka berkata: "Aduhai! Kalau saja kami ini taat kepada Allah dan taat kepada Rasul". Dan mereka berkata : "Ya Tuhan Kami, sesungguhnya yang kami taati itu pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, ternyata mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). (Al Ahzab : 66-67)

Faktanya, dalam kehidupan keagamaan sekarang ini, diikutinya seseorang itu bukan karena Risalah yang dibawanya, dan Risalahnya itu telah teruji dan terbukti bahwa itu dari Allah. Melainkan karena posisi struktural yang didudukinya (pemimpin), atau kebesaran nama yang disandangnya (pembesar). Jika ada seseorang yang membawa Risalah Allah, mereka malah mendustakan dan memusuhinya. Fenomena inilah yang akan menjadi rintihan penyesalan ketika mereka dibontang banting dalam neraka, seperti yang ditegaskan pada ayat di atas.

Namun demikian, sejauh manapun dan sampai kapanpun tidak akan ada lagi seseorang yang ditunjuk atau diangkat Allah sebagai Nabi. Berulang kali kami mengatakan, bahwa jika ada seseorang yang mengaku bahwa dirinya seorang Nabi apalagi menyatakan bahwa ia menerima wahyu Nubuwwah (kenabian) dari Allah, maka kami siap berdiri paling depan untuk menolak dan menyatakan bahwa itu sebuah kebohongan. Petunjuk Allah itu sudah tuntas dan sempurna, maka dalam kaitan petunjuk-Nya itu tidak akan ada lagi penambahan, perubahan atau sesuatu yang baru lagi dari Allah.

Itulah fenomena yang tampak sebagai kontradiksi. Di satu sisi Allah tidak akan lagi mengangkat Nabi maupun Rosul, tetapi di sisi lain, yang memiliki domain berdasarkan mandat atau izin Allah untuk menyelengarakan Dienullah ini hanya Rosul-Nya saja. Lalu apa yang harus dilakukan (?!@#!?)

Bagaimanapun “bingungnya” yang dirasakan manusia, yang pasti, petunjuk Allah itu tuntas dan sempurna. Tidak akan pernah menyisakan kebingungan, kebengkokan, apalagi yang namanya kegelapan atau kebuntuan. Maka tidak boleh ada penyimpangan atau melenceng sedikitpun, apalagi mengotak-atik atau mengubah-ubah Kalimatullah.

Pada ayat di atas (Asy Syuro : 21) dinyatakan bahwa telah ada “Kalimah” (konsep/petujuk) yang terperinci (kalimatul fasl). Maka terkait dengan hal tersebut, terdapat beberapa gugus ayat-ayat Al Quran yang secara rinci dan runtun memberi tuntunan solusi dari bayangan kontradiksi dan kebingungan seperti tersebut di atas, agar langkah-langkah orang-orang Mukmin tidak melenceng sedikitpun dari alur Shirothol Mustaqiem, dan tidak tergoda untuk mengubah-ubah Statuta Dienul Islam.

Tetapi memang tidak mudah menelusuri runtunan alur petunjuk tersebut di atas, yang sifatnya mengkonversi Kalamullah menjadi cahaya petunjuk, bukan dengan menafsirkan ataupun bedah tafsir, dan tidak mungkin bisa dilakukan, kecuali dengan menggunakan metode (pendekatan) Ulul Albab dan memposisikan diri sebagai Ummiyyi.
Name

Dakwah Ilallah,12,Jalan Keselamatan,7,Jurnal Roqim,1,Kajian Lepas,42,Manhaj Risalah,12,
ltr
item
Ini Islam: Konsep Kenabian Dan Kerosulan
Konsep Kenabian Dan Kerosulan
https://4.bp.blogspot.com/-Tq3jRJDJnDU/WM-ulbPBwpI/AAAAAAAAADM/y5J4z9SbfT4BURx59XlvskbYivnqNTAWgCLcB/s640/konsep-kenabian-dan-kerosulan.png
https://4.bp.blogspot.com/-Tq3jRJDJnDU/WM-ulbPBwpI/AAAAAAAAADM/y5J4z9SbfT4BURx59XlvskbYivnqNTAWgCLcB/s72-c/konsep-kenabian-dan-kerosulan.png
Ini Islam
http://www.iniislam.net/2017/03/konsep-kenabian-dan-kerosulan.html
http://www.iniislam.net/
http://www.iniislam.net/
http://www.iniislam.net/2017/03/konsep-kenabian-dan-kerosulan.html
true
7017169815549685310
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy