Menyingkap Ihwal Perkara Gaib

SHARE:

Secara etimologis (lughowi) "gaib" adalah lawan kata dari "hadir" atau lawan kata dari "syahadah" (nyata tersaksikan). Maka dengan demikian, gaib itu artinya tidak hadir atau tidak nyata tersaksikan.

menyingkap-ihwal-perkara-gaib

Kesalahan pengertian disusul kesalahan sikap orang-orang Islam terkait PERKARA GAIB, telah menjadikan pikiran dan angan-angan mereka hidup dan berkiprah di kegelapan "alam gaib". Ibadah dan perjuangan mereka tak tentu arah, berseliweran saling silang tabrak antar kelompok (golongan).

Sementara golongan di luar Islam yang mereka sebut kafir itu, justru semakin melesat maju membangun peradaban di bumi. Merekalah yang lebih nyata dan efektif "digunakan" Allah mewujudkan agenda-Nya di muka bumi, mengejawantahkan "Kalimah Thoyyibah" (mereka sadari atau tidak) mendhohirkan betapa Maha Besar, Maha Kaya dan Maha Canggih-Nya Allah itu. Betapa dahsyat dan menakjubkan bumi ciptaan-Nya ini dengan segala yang terkandung di dalamnya, padahal bumi ini hanya sebagian amat kecil dari kedahsyatan alam semesta ciptaan Allah.

Selama ini orang mengartikan "alam gaib" itu sebagai alam metafisik. "Dunia lain" yang kedap mata, tak terjamah panca indera manusia. Alam dimana para malaikat berada, juga jin dan syetan, bahkan hantu demit genderuwo. Termasuk kategori alam gaib itu antara lain, "alam kubur", "alam barzakh", "alam akhir" dengan pengertian dan persepsi yang tak jelas, sehingga lebih mirip dongengan.

Untuk keluar dari kegelapan alam gaib tersebut, coba kita telusuri pengertian menurut Allah, yang menggunakan kosakata "gaib" tersebut dalam Al Quran.

Secara etimologis (lughowi) "gaib" adalah lawan kata dari "hadir" atau lawan kata dari "syahadah" (nyata tersaksikan). Maka dengan demikian, gaib itu artinya tidak hadir atau tidak nyata tersaksikan.

Tetapi yang lebih dijadikan pegangan adalah bagaimana Allah menggunakan kata gaib itu dalam Al Quran.

Ternyata arti kata GAIB itu lebih kepada (mencakup juga) segala sesuatu yang terjadi di masa lampau dan di masa yang akan datang, sebagaimana bisa dijumpai pada beberapa Kalam-Nya sebagai berikut.

ذَٲلِكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡغَيۡبِ نُوحِيهِ إِلَيۡكَ‌ۚ وَمَا كُنتَ لَدَيۡهِمۡ إِذۡ يُلۡقُونَ أَقۡلَـٰمَهُمۡ أَيُّهُمۡ يَكۡفُلُ مَرۡيَمَ وَمَا ڪُنتَ لَدَيۡهِمۡ إِذۡ يَخۡتَصِمُونَ

Itulah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepada kamu (Muhammad); kamu tidak hadir bersama mereka, ketika mereka menggunakan pena-pena mereka (melakukan voting) siapa di antara mereka yang mendapat hak asuh atas Maryam. Dan kamu tidak hadir bersama mereka ketika mereka berselisih. (Ali Imron : 44)

Mungkin ada yang memahami bahwa yang dimaksud dengan "berita gaib" itu adalah berita yang bersifat gaib, yaitu yang disampaikan "secara gaib". Tetapi susunan kata (frase) yang digunakan adalah berupa "mudhof-mudhof ilaih" bukan "na't-man'ut" yang merupakan penyifatan. Jadi artinya bukan "berita yang bersifat gaib", melainkan "berita tentang hal yang gaib".

Sedangkan yang Allah sebut dengan "itulah sebagian dari berita-berita gaib" adalah apa yang Allah kisahkan pada ayat-ayat sebelumnya, yaitu Ali Imron : 35-44, kisah yang melibatkan istri Imron, Maryam, dan Zakariya dengan kaumnya.

Mereka semua adalah manusia-manusia seperti kita yang berada di "alam nyata". Tetapi bagi Rosulullah (Muhammad) Allah menyebutnya sebagi hal yang gaib, karena itu adalah kisah masa lalu dimana beliau tidak hadir bersama mereka.

Demikian pula dengan Kalamullah berikut ini:

ذَٲلِكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡغَيۡبِ نُوحِيهِ إِلَيۡكَ‌ۖ وَمَا كُنتَ لَدَيۡہِمۡ إِذۡ أَجۡمَعُوٓاْ أَمۡرَهُمۡ وَهُمۡ يَمۡكُرُونَ

Itulah diantara berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); dan kamu tidak berada bersama mereka, ketika mereka menyepakati urusan mereka dan mereka sedang mengatur tipu daya. (Yusuf :102)

Hampir keseluruhan isi Surat Yusuf sampai ayat di atas, berisi kisah Nabi Yusuf dengan berbagai dinamikanya, dan semua itu Allah sebut PERKARA GAIB karena terjadi di masa lampau.

Demikian pula dengan kisah Nabi Nuh, yang dijelaskan dengan ayat berikut:

تِلۡكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡغَيۡبِ نُوحِيہَآ إِلَيۡكَ‌ۖ مَا كُنتَ تَعۡلَمُهَآ أَنتَ وَلَا قَوۡمُكَ مِن قَبۡلِ هَـٰذَا‌ۖ فَٱصۡبِرۡ‌ۖ إِنَّ ٱلۡعَـٰقِبَةَ لِلۡمُتَّقِينَ

Itulah sebagian dari berita-berita tentang yang gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum (Allah beritakan) ini. Maka BERSABARLAH sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (Hud : 49)

Pada ayat di atas Allah menegaskan bahwa tidaklah Rosulullah dan tidak pula seorangpun diantara kaumnya yang pernah mengetahui perkara yang gaib itu, sebelum Allah memberitakannya. Maka Rosul disuruh bersabar dan takwa (konsisten dann berdisiplin) tentunya untuk tidak mencari tahu dari sumber selain Allah.

Terkait hal tersebut, ada lagi penegasan dari Allah sebagai berikut:

قُل لَّا يَعۡلَمُ مَن فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلۡغَيۡبَ إِلَّا ٱللَّهُ‌ۚ وَمَا يَشۡعُرُونَ أَيَّانَ يُبۡعَثُونَ

Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila dan dimana mereka akan dibangkitkan. (An Naml : 65)

Kalamullah itu mutlak. Jika Allah bilang tidak ada, ya benar-benar tidak ada. Tidak ada yang mengetahui hal yang gaib kecuali Allah, tidak terkecuali siapapun selain Allah.

Mungkin juga ada orang yang mengatakan sesuatu atau beberapa hal terkait wilayah yang gaib itu (masa lampau atau masa yang akan datang), tapi itu hanya persangkaan atau dugaan (dhonnu). Dan kalaupun (kebetulan) benar, Allah menyebut hal demikian sebagai "tebakan" terhadap hal yang gaib.

سَيَقُولُونَ ثَلَـٰثَةٌ۬ رَّابِعُهُمۡ كَلۡبُهُمۡ وَيَقُولُونَ خَمۡسَةٌ۬ سَادِسُہُمۡ كَلۡبُہُمۡ رَجۡمَۢا بِٱلۡغَيۡبِ‌ۖ وَيَقُولُونَ سَبۡعَةٌ۬ وَثَامِنُہُمۡ ڪَلۡبُہُمۡ‌ۚ قُل رَّبِّىٓ أَعۡلَمُ بِعِدَّتِہِم مَّا يَعۡلَمُهُمۡ إِلَّا قَلِيلٌ۬‌ۗ فَلَا تُمَارِ فِيہِمۡ إِلَّا مِرَآءً۬ ظَـٰهِرً۬ا وَلَا تَسۡتَفۡتِ فِيهِم مِّنۡهُمۡ أَحَدً۬ا

Nanti akan ada yang mengatakan bahwa mereka (beberapa pemuda yang berdiam di gua/Ashhabul Kahfi) itu bertiga keempat anjingnya, dan ada pula yang mengatakan mereka itu berlima keenam anjingnya, sebagai TEBAKAN atas hal yang gaib; dan ada lagi yang mengatakan mereka itu bertujuh, ke delapan anjingnya. Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui jumlah mereka kecuali sedikit". Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran yang dhohir, dan janganlah kamu minta pendapat (fatwa) tentang mereka kepada seorangpun. (Al Kahfi : 22)

Ibaratnya ketika akan atau sedang berlangsung suatu pertandingan sepak bola, tidak seorangpun tahu berapa skor akhir dari pertandingan tersebut. Tetapi bisa saja beberapa orang menyebutkan beberapa angka skor, mungkin sekali jika kemudian salah satu angka yang disebut itu ternyata benar. Itulah tebakan. Sama sekali bukan bukti bahwa yang menyebut angka tersebut, sudah mengetahui sebelumnya.

Apalagi terkait hari esok atau masa yang akan datang, hanya Allah saja yang tahu.

إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُ ۥ عِلۡمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلۡغَيۡثَ وَيَعۡلَمُ مَا فِى ٱلۡأَرۡحَامِ‌ۖ وَمَا تَدۡرِى نَفۡسٌ۬ مَّاذَا تَڪۡسِبُ غَدً۬ا‌ۖ وَمَا تَدۡرِى نَفۡسُۢ بِأَىِّ أَرۡضٍ۬ تَمُوتُ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرُۢ

Sesungguhnya Allah, hanya pada-Nyalah pengetahuan tentang "saat yang tertentu" (kapan); dan Dia menurunkan hujan, dan Dia mengetahui apa yang ada dalam rahim-rahim (kandungan). Dan tidak seorangpun mengetahui (secara pasti) apa yang akan dia usahakan besok. Dan tidak seorangpun yang mengetahui akan di bumi (tempat) mana dia mati. Sesungguhnya Allah Maha Memiliki Ilmu dan Informasi. (Luqman : 34).

Itulah perkara gaib yang terkait dengan keimanan (perasaan cinta dan takut kepada Allah) dan kepahaman akan Dienullah yang wajib kita pahami dengan benar berdasarkan keterangan dari Yang Menciptakan Segalanya. Bukan seperti yang banyak diwacanakan orang yaitu "makhluk gaib" atau "alam gaib/metafisik"

Memang banyak hal (sesuatu/thing/makhluk) yang tidak bisa ditangkap panca indera manusia (metafisik), tetapi itu bukan hal yang gaib, melainkan makhluk (sesuatu yang) halus (soft thing) yang ada dan hadir bersama kehidupan kita. Seperti Ruh, energi, malaikat, sinyal, data, dll.

Dari petunjuk Kalamullah terpapar di atas, ringkasnya sebagai berikut:
  1. Segala yang telah terjadi di masa lampau dan yang akan terjadi di hari esok, adalah PERKARA GHAIB (Ali Imron : 44, Yusuf : 102, Hud : 49)
  2. Tidak ada seorangpun di langit maupun di bumi yang mengetahui perkara ghaib selain Allah (An Naml : 65)
  3. Orang hanya bisa punya pengetahuan yang benar tentang hal yang gaib, berdasarkan keterangan/berita dari Allah, yakni Al Quran Kalamullah (Hud : 49)
  4. Allah melarang kita (adalah hal yang tak berguna) memperdebatkan perkara gaib, dan minta pendapat siapapun tentang itu (Al Kahfi : 22)
  5. Segala wacana dan opini terkait perkara gaib diluar Kalamullah, hanyalah tebakan/persangkaan/dugaan, kadar kebenarannya nisbi (Al Kahfi : 22)
Begitu jelasnya dan begitu terperincinya petunjuk Allah tentang hal yang gaib itu. Mulai dari pengertian/maknanya sampai ke petunjuk menyikapinya. Dan katanya (paling tidak) semua orang Islam meyakini bahwa petunjuk Allah itu akan membawa manusia pada kemaslahatan, keberkahan, kedamaian, kemajuan, kemudahan ... pokoknya segala kebaikan (hasanah) di dunia, dan akhirnya, keselamatan dan kebahagiaan (hasanah) di akhirat.

Tetapi faktanya yang ada, hampir seluruh pemahaman tentang ajaran Islam dari hampir semua orang Islam, justru didasarkan pada apa yang terjadi dan dilakukan orang-orang dahulu yang termasuk perkara gaib itu. Sumber beritanya pun hanya dari orang ke orang melalui beraneka ragam media, BUKAN DARI ALLAH. Bahkan bertentangan dengan petunjuk Allah.

Padahal Allah telah menegaskan kepada RosulNya, bahwa "kamu dan siapapun diantara kaummu, tidak ada yang bisa mengetahuinya sebelum Allah memberitakannya".

Mungkin juga ada yang mengklaim bahwa sumber berita ini dapat dilacak dan terbukti musalsal (nyambung bertautan), tapi tetap saja derajatnya maksimal, dhonnu (dugaan/persangkaan). Lupa dan keliru itu sifat universal manusia. Penuturan seseorang tentang apa yang dia dengar, tidak dijamin sama dengan yang sebenarnya ia dengar. Bahkan mungkin juga bahwa pendengarannya atas penuturan seseorang, beda dengan yang sebenanya orang tersebut tuturkan.

Sebenarnya semua sepakat bahwa berita dari orang ke orang, lewat media apapun, derajatnya itu dhonnu (praduga). Baru setelah tetbuktikan dengan faktanya yang tersaksikan (bukan berita yang disebut fakta) atau pembenaran dari Allah lewat Kalam-Nya (Al Quran) maka dhonnu tersebut berganti status menjadi Ayat-ayat Allah (fakta kauniyah atau Ayat-ayat Al Quran) yang mutlak benarnya.

Maka wajar sekali jika Allah menolak dhonnu itu dijadikan dasar kebenaran seberapapun banyaknya manusia yang menganutnya.

وَمَا يَتَّبِعُ أَكۡثَرُهُمۡ إِلَّا ظَنًّا‌ۚ إِنَّ ٱلظَّنَّ لَا يُغۡنِى مِنَ ٱلۡحَقِّ شَيۡـًٔا‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِمَا يَفۡعَلُونَ

Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan (praduga) saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (Yunus : 36)

Bahkan lebih dari itu, mengikuti persangkaan dan hal yang diada-adakan orang, pasti menyesatkan. Ini penegasan dari Allah

وَإِن تُطِعۡ أَڪۡثَرَ مَن فِى ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ‌ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنۡ هُمۡ إِلَّا يَخۡرُصُونَ

Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang di bumi ini, pasti mereka menyesatkanmu dari jalan Allah. (mengapa?) Mereka hanya mengikuti persangkaan, dan mereka hanyalah mengada-ada. (Al An'am : 116)

Penegasan dari Allah tidak hanya itu, terkait apa yang terjadi dan apa yang dilakukan orang-orang di masa lalu, antara lain:

تِلۡكَ أُمَّةٌ۬ قَدۡ خَلَتۡ‌ۖ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَلَكُم مَّا كَسَبۡتُمۡ‌ۖ وَلَا تُسۡـَٔلُونَ عَمَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

Itulah umat yang telah berlalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagi kamu pun apa yang kamu usahakan, dan kamu tidak akan ditanya (dituntut) terkait apa yang mereka lakukan. (Al Baqoroh : 134 dan 141)

مَا نَنسَخۡ مِنۡ ءَايَةٍ أَوۡ نُنسِهَا نَأۡتِ بِخَيۡرٍ۬ مِّنۡہَآ أَوۡ مِثۡلِهَآ‌ۗ أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ

Apapun ayat yang Kami hapus (lenyapkan), atau Kami jadikan (manusia) melupakannnya, pasti Kami datangkan yang lebih baik atau yang setara dengannya. Tidakkah kamu tahu bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengatur Takaran atas segala sesuatu? (Al Baqoroh : 106)

Segala fenomena (ayat-ayat kauniyah) yang telah berlalu dan tidak eksis lagi atau yang manusia telah lupa tentangnya, tidak semestinya menjadi kerisauan manusia, sehingga mereka mengada-ada atau menduga-duga, karena Allah pasti menggantinya dengan yang lebih baik atau paling tidak, yang setara. Karena segala sesuatu itu telah Allah tetapkan ukuran atau takarannya (qadar) pada segala aspeknya.

Keterpakuan pada apa yang dilakukan dan diajarkan oleh orang-orang terdahulu yang telah berlalu, itulah yang berakibat diabaikan bahkan diingkarinya Al Quran. Ini konstatasi dari Allah.

وَإِن كَانُواْ لَيَقُولُونَ (١٦٧) لَوۡ أَنَّ عِندَنَا ذِكۡرً۬ا مِّنَ ٱلۡأَوَّلِينَ (١٦٨) لَكُنَّا عِبَادَ ٱللَّهِ ٱلۡمُخۡلَصِينَ (١٦٩) فَكَفَرُواْ بِهِۦ‌ۖ فَسَوۡفَ يَعۡلَمُونَ

Dan pasti mereka mengatakan: "Kalau saja kami punya (pada kami ada) ajaran dari orang-orang dahulu, pastilah kami jadi hamba-hamba Allah yang Mukhlashien". Maka kufurlah mereka pada Al Quran. Maka kelak mereka akan mengetahui. (Ash Shoffat : 167-170)

Berulang kali Allah menyatakan bahwa satu-satunya segmen manusia yang selamat dari ketersesatan karena tipuan syetan adalah "Ibadallahil Mukhlashen" artinya hamba Allah yang dimurnikan (dioriginalisir).

Kemudian Allah mengkonstatir bahwa mereka yang tersesat itu akan beranggapan bahwa kualifikasi IBADALLAHIL MUKHLASHIN itu bisa mereka capai dengan berpegang pada ajaran orang-orang dahulu ("dzikron minal awwaliin"). Inilah yang menyebabkan mereka mengkufuri (mengingkari) Al Quran.

Demikianlah faktanya yang terjadi dan berlangsung berabad-abad, ummat Islam terperangkap pada hal ihwal orang-orang dahulu, yang sebenarnya itu adalah perkara gaib.

Sangat tidak logis jika ajaran Islam dieksplor dari sumber, yang menurut Allah, tidak ada yang mengetahunya di langit dan di bumi kecuali Allah.

Maha Benar Allah Yang Maha Agung dengan segala FirmanNya.
Name

Dakwah Ilallah,12,Jalan Keselamatan,7,Jurnal Roqim,1,Kajian Lepas,42,Manhaj Risalah,12,
ltr
item
Ini Islam: Menyingkap Ihwal Perkara Gaib
Menyingkap Ihwal Perkara Gaib
Secara etimologis (lughowi) "gaib" adalah lawan kata dari "hadir" atau lawan kata dari "syahadah" (nyata tersaksikan). Maka dengan demikian, gaib itu artinya tidak hadir atau tidak nyata tersaksikan.
https://2.bp.blogspot.com/-N-7IUGO8Kq0/WNDR3M0Yp2I/AAAAAAAAAGA/D2D-8n5UKDIN6gQNAEQyOPEKeoe-fFZ8gCLcB/s640/menyingkap-ihwal-perkara-gaib.png
https://2.bp.blogspot.com/-N-7IUGO8Kq0/WNDR3M0Yp2I/AAAAAAAAAGA/D2D-8n5UKDIN6gQNAEQyOPEKeoe-fFZ8gCLcB/s72-c/menyingkap-ihwal-perkara-gaib.png
Ini Islam
http://www.iniislam.net/2017/03/menyingkap-ihwal-perkara-gaib.html
http://www.iniislam.net/
http://www.iniislam.net/
http://www.iniislam.net/2017/03/menyingkap-ihwal-perkara-gaib.html
true
7017169815549685310
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy