Pengertian Sunnah Rosul

SHARE:

Salah satu tudingan sebagian orang kepada kami adalah “tidak mengakui Sunnah Rosul” atau “Inkarus Sunnah”. Mereka yang demikian itu su...

pengertian-sunnah-rosul

Salah satu tudingan sebagian orang kepada kami adalah “tidak mengakui Sunnah Rosul” atau “Inkarus Sunnah”. Mereka yang demikian itu sungguh tidak menyadari, bahwa jika pengertian Sunnah Rosul itu tidak dipalingkan, dipahami secara benar dan lurus, maka tudingan seperti itu ibarat “maling teriak maling”. Merekalah yang sebenarnya mengingkari Sunnah Rosul itu.

Secara etimologis “Sunnah” itu artinya: jalan atau cara/ proses/prosedur melakukan sesuatu. Maka dalam hal ini, Sunnah Rosul itu adalah:
  • Jalan yang ditempuh Rosul, atau
  • Proses (dinamika kehidupan) yang dijalani Rosul, atau
  • Jalan atau cara yang dipilih Rosul, diantara beberapa jalan/cara yang mungkin ada
Terkait pengertian yang pertama dan kedua di atas, Sunnah Rosul itu merupakan ketetapan dari Allah yang mau tidak mau harus dijalani oleh setiap Rosul, sebagaimana dijelaskan dalam Kalam-Nya berikut ini:

سُنَّةَ مَن قَدۡ أَرۡسَلۡنَا قَبۡلَكَ مِن رُّسُلِنَا‌ۖ وَلَا تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحۡوِيلاً

Suatu sunnah (ketetapan Allah) bagi Rasul-rasul Kami yang Kami andalkan sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perubahan bagi ketetapan Kami itu. (Al Isro : 77)

Adapun yang terkait dengan pengertian yang ketiga di atas, sebagai diberitakan pada hadits Rosulullah berikut:

النكاح سنتي فمـن رغـب عـن سنتي فليس مني

Nikah itu sunnahku, maka barangsiapa yang enggan (tidak suka) dengan sunnahku, dia itu bukan golonganku.

Dalam memenuhi hasrat biologis (seksual), selain dengan istri, Allah membolehkan juga dengan sahaya perempuan yang dimiliki. Sedangkan zina merupkan cara (jalan) yang keji dan buruk maka dilarang.

وَلَا تَقۡرَبُواْ ٱلزِّنَىٰٓ‌ۖ إِنَّهُ ۥ كَانَ فَـٰحِشَةً۬ وَسَآءَ سَبِيلاً۬

Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (Al Isro : 32)

Meskipun dibolehkan, dalam hal ini Rosul tidak memilih cara dengan sahaya perempuan, nikah itulah jalan yang dipilih Rosul.

Dipandang dari sisi lain, Sunnah Rosul itu merupakan sesuatu yang harus “diikuti”, bukan sesuatu yang harus “ditiru”. Maka dengan demikian, Ummat Muslimin itu harus “mengikuti” jalan atau arah yang ditempuh Rosul, bukan “meniru” dan melakukan segala yang diperbuat Rosul. Tidak ada cara yang benar dan sah untuk dapat mengetahui apa saja yang dilakukan Rosul selama hidupnya, kecuali sebatas dhonnu (persangkaan) yang tidak sah dijadikan dasar kebenaran.

وَمَا يَتَّبِعُ أَكۡثَرُهُمۡ إِلَّا ظَنًّا‌ۚ إِنَّ ٱلظَّنَّ لَا يُغۡنِى مِنَ ٱلۡحَقِّ شَيۡـًٔا‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمُۢ بِمَا يَفۡعَلُونَ

Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan. (Yunus : 36)

Telusur pengertian yang lebih lanjut, MENGIKUTI seseorang (Ittiba’) itu artinya: “berjalan di belakangnya” atau “berjalan menelusuri jejaknya”. Bukan MENIRU segala yang dilakukannya.

Jika seseorang yang harus diikuti itu sudah tidak tampak lagi, dan jejaknyapun sudah tidak ditemukan (ditelan waktu), maka upaya yang harus dilakukan agar tetap bisa mengikutinya adalah mencari tahu, kemanakah tujuan orang yang diikuti itu? Maka para pengikut itupun berjalan menuju ke tujuan yang sama.

Allah telah menegaskan bahwa segala yang terjadi di masa lampau, termasuk segala yang terjadi dan dialami atau dilakukan para Nabi dan Rosul (bahkan siapapan) di masa lampau, itu adalah perkara yang ghaib, yang tidak ada seorangpun di langit maupun di bumi yang bisa mengetahuinya, kecuali Allah. Berikut keterangan dari Allah dalam Al Quran terkait hal tersebut.

قُل لَّا يَعۡلَمُ مَن فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلۡغَيۡبَ إِلَّا ٱللَّهُ‌ۚ وَمَا يَشۡعُرُونَ أَيَّانَ يُبۡعَثُونَ

Katakanlah: "tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (An Naml : 65)

تِلۡكَ مِنۡ أَنۢبَآءِ ٱلۡغَيۡبِ نُوحِيہَآ إِلَيۡكَ‌ۖ مَا كُنتَ تَعۡلَمُهَآ أَنتَ وَلَا قَوۡمُكَ مِن قَبۡلِ هَـٰذَا‌ۖ

Itulah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad); tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum (Kami beritakan) ini ... (Hud : 49)

Berita yang dimaksud pada Hud : 49 di atas adalah rangkaian peristiwa yang dialami Nabi Nuh, sebagaimana diungkapkan pada gugusan ayat-ayat sebelumnya. Dan banyak lagi ayat-ayat lainnya yang menegaskan bahwa segala yang terjadi di masa lampau, segala yang dialami dan dijalani oleh orang-orang di masa lampau adalah perkara ghaib yang hanya Allah saja yang mengetahuinya. Maka pengetahuan tentang hal tersebut hanya dianggap benar dan sah bila didasarkan pada berita dari Allah saja.

Dari arah lain, Allah menegaskan pula bahwa segala fenomena yang telah sirna berlalu atau terhapus dari ingatan manusia, pasti Allah menggantikannya dengan yang lebih baik, atau paling tidak, yang setara dengannya.

مَا نَنسَخۡ مِنۡ ءَايَةٍ أَوۡ نُنسِهَا نَأۡتِ بِخَيۡرٍ۬ مِّنۡہَآ أَوۡ مِثۡلِهَآ‌ۗ أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَىۡءٍ۬ قَدِيرٌ

Tidak satupun ayat (fenomena) yang Kami hapuskan, atau Kami jadikan (manusia) melupakannya, pasti Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang setara dengannya. Tidakkah kamu ketahui bahwa sesungguhnya Allah itu maha menentukan takaran atas segala sesuatu? (Al Baqoroh : 106)

أَمۡ تُرِيدُونَ أَن تَسۡـَٔلُواْ رَسُولَكُمۡ كَمَا سُٮِٕلَ مُوسَىٰ مِن قَبۡلُ‌ۗ وَمَن يَتَبَدَّلِ ٱلۡڪُفۡرَ بِٱلۡإِيمَـٰنِ فَقَدۡ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ

Ataukah kamu hendak bertanya/menuntut Rasulmu seperti ditanya/dituntutnya Musa dahulu? Barangsiapa yang menukar kekufuran dengan iman, maka sungguh tersesat dari jalan yang lurus. (Al Baqoroh : 108)

Mengingat petunjuk Allah tersebut di atas, maka orang-orang Mukmin tidak perlu risau tentang fenomena kehidupan (ayat-ayat Allah) yang sudah tidak eksis lagi, atau sudah “terlupakan” dari memori kehidupan manusia masa kini, dan tidak perlu mencari-cari dari sumber yang tidak diterima Allah sebagai kebenaran, karena Allah telah menjamin bahwa Allah pasti menggantinya dengan yang lebih baik lagi, atau paling tidak, yang setara dengannya, yang tentunya lebih “terkini”.

تِلۡكَ أُمَّةٌ۬ قَدۡ خَلَتۡ‌ۖ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَلَكُم مَّا كَسَبۡتُمۡ‌ۖ وَلَا تُسۡـَٔلُونَ عَمَّا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

Itu adalah umat yang telah berlalu; baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan ditanya tentang apa yang telah mereka kerjakan. (Al Baqoroh : 141)

Dengan demikian, segala fenomena kehidupan manusia di masa lalu, yang kalaupun dicari tahu, pengetahuannya itu hanya sebatas derajat DHONNU, tidak bisa selamanya dijadikan dasar dari syari’at Dienullah, melainkan sebagai khasanah pengetahuan manusia, yang dalam menjalani kehidupanya, sangat harus memahami korelasi fenomena masa lalu, masa kini dan masa depan.

Tapi anehnya yang dicari tahu oleh Para Ulama justru hal-hal yang sudah nyata tidak diterima Allah sebagai kebenaran, karena termasuk perkara ghaib yang dicari tahu dari sumber-sumber selain Allah, dan hanya berderajat “dhonnu”.

Mereka mencari tahu tentang segala yang pernah diucapkan dan atau dilakukan Rosulullah di masa hidupnya. Selain bertentangan dengan Kalamullah tersebut di atas, secara logika keilmuan pun merupakan sesuatu yang tidak mungkin memiliki validitas dan akuntabilitas kebenaran. Apalagi untuk diklaim sebagai dasar dari Agama Allah yang derajat kebenarannya mutlak.

Dengan cara yang diberlakukan selama ini, sangat terbuka peluang bagi siapapun utuk mengatakan itu dan ini, mengajarkan itu dan ini, lalu dengan leluasa dan seenaknya mengklaim: “Rosulullah itu begini-begitu ...”, “ini ajaran Rosulullah ...”, “ini dari Rosul ...” dan sebagainya, dan seterusnya, tanpa bisa dibuktikan dan dipertanggungjawabkan kebenarannya, sementara para audien hanya bisa manggut-manggut mengiyakan.

Selain itu pula, apa yang diucapkan dan dilakukan Rosulullah itu, kalaupun bisa diketahui dengan benar, itu tidak sedikitpun memberi petunjuk akan Sunnah Rosul dalam arti yang sebenarnya. Dengan cara demikian itu, yang bisa dilakukan bukannya mengikuti jalan yang ditempuh menuju tujuan yang sama, melainkan “meniru apa yang dilakukan”.

Selain tidak ada hubungannya dengan “jalan yang ditempuh” dan “arah yang dituju”, juga berlawanan (antagonis) dengan Sunnatullah atau “kebijakan” Allah. Karena modus perbuatan atau perilaku manusia itupun adalah perkara yang “diciptakan” Allah menurut Qodar-Nya. Sesuatu yang tumbuh berkembang dan berubah-ubah dalam berbagai ruang dan waktu, sehingga menampilkan dinamika dan keragaman (pluralisme) budaya, yang Allah menyebutnya “Syu’ub” dan “Qobaa`il”.

Arah tujuan dan jalan yang ditempuh para Rosul sepanjang zaman adalah sama, atau satu jalan yang disebut “Shirothol Mustaqiem”, maka Allah mewajibkan orang-orang Mukmin untuk mengimani semua Rosul Allah tanpa membeda-bedakan satupun di antara mereka.

قُلۡ ءَامَنَّا بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ عَلَيۡنَا وَمَآ أُنزِلَ عَلَىٰٓ إِبۡرَٲهِيمَ وَإِسۡمَـٰعِيلَ وَإِسۡحَـٰقَ وَيَعۡقُوبَ وَٱلۡأَسۡبَاطِ وَمَآ أُوتِىَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَٱلنَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمۡ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٍ۬ مِّنۡهُمۡ وَنَحۡنُ لَهُ ۥ مُسۡلِمُونَ

Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub, dan anak-cucunya dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri". (Ali 'Imran : 84)

Tujuan perjuangan merekapun sama, yaitu membimbing manusia untuk bisa mencapai dan mewujudkan kehidupan di dunia yang baik, “Hayatun Thoyyibah” atau “Fi`d Dunya Hasanah” yang berefek pada kehidupan Akhirat yang baik pula, “Masakina Thoyyibah” atau “Fi`l Akhiroti Hasanah”.

Sudah barang tentu bahwa pengalaman hidup atau fenomena kehidupan yang mereka (Para Rosul) jumpai, tentunya satu sama lain akan berbeda-beda dalam berbagai ruang dan waktu. Demikian pula modus tindakan yang mereka lakukan, tentunya sesuai dengan budaya, tata nilai dan tingkat peradaban mereka pada zamannya.

Namun bagaimanapun, alur dan arah pergerakan dan perjuangan mereka semua itu sama, sejalan harmonis dan selaras dengan Urusan Allah dalam penyelenggaraan alam semesta yang universal (“Alamien”), jalan hidup yang Allah sebut “Shirothol Mustaqiem”.

Hal yang mesti selalu diingat bahwa apapun yang harus ditempuh dan dicapai manusia, hal itu bukan sedikitpun merupakan kepentingan atau keperluan Allah. Allah tidak membutuhkan apapun dan tidak berkepentingan sedikitpun akan apa yang dilakukan dan diperbuat manusia. Apapun yang mereka lakukan, kalaupun mereka kafir dan durhaka semua, Allah tetap “Al Quddus”, Yang Bersih (terbebas) dari masalah apapun, Allah tetap “As Salaam” (Yang Sejahtera) tidak kekurangan apapun.

Hanya saja, manusia harus mengetahui bahwa Allah itu menggelar suatu “Urusan” di alam semesta ini, dimana manusia dijadikan “komponen utama” dalam Urusan-Nya tersebut, yang harus tunduk sepenuhnya kepada segala “kebijakan” Allah dalam mengelar Urusan-Nya itu. Jika langkah perilaku dan perbuatan manusia itu antagonis atau bertabrakan dengan urusan Allah tersebut, manusia itulah yang akan rugi sendiri, dan mereka akan celaka dan menderita karenanya.

Secara general/global, manusia sebagai satu species dari makhluk Allah, disadari atau tidak, dengan kerelaan atau terpaksa, pasti tunduk sepenuhnya kepada qodrat/Sunnatullah yang Allah tetapkan. Eksistensi dan dinamika kehidupan manusia tidak akan lepas dari “program” dan “macro system” Allah. Tetapi secara parsial, baik yang tampil sebagai perilaku komunal (Qaum) ataupun perilaku individual, sangat berpotensi untuk melakukan perilaku antagonis/menyimpang (fasik).

Oleh sebab itu, manusia itu benar-benar memerlukan petunjuk dan bimbingan agar setiap langkah perilaku mereka senantiasa selaras dan sejalan dengan mekanisme dan dinamika Urusan Allah tersebut (Sunnatullah). Suatu petunjuk yang pada dasarnya sama dari zaman ke zaman karena merupakan petunjuk manual dari satu kesatuan Sistem Robbani yang sejak awal (ajali) sudah sempurna, benar dan adil, tidak perlu perubahan atau penggantian. Hanya saja aplikasi dan ekspresi kulturalnya dalam kehidupan manusia, tentunya akan tumbuh berangsur-angsur seiring pertumbuhan dan kematangan budaya dan peradaban manusia itu sendiri, dan selaras pula dengan dinamika dan romantika kehidupan manusia di berbagai ruang dan waktu.

Sungguh akan terjadi penyempitan dan pengecilan yang sangat luar biasa terhadap Konsep Dienullah, jika Sunnah Rosul yang berdaya liput universal (‘alamien) itu, kemudian dipahami sebagai perbuatan dan perkataan Rosulullah Muhammad, yang hanya dieksplorasi dari hadits-hadits Nabi yang semuanya berderajat dhonnu, yang liputannya hanya mencakup kehidupan satu generasi, dalam penggalan ruang dan waktu yang sangat terbatas.

Padahal yang dinyatakan oleh Rosulullah Muhammad sebagai pedoman hidup yang harus selalu dipegangi itu berbunyi: “Kitabullah dan Sunnah Rosul-Nya” Bukan berbunyi: “Kitabullah dan Sunnahku”, bukan “Kitabullah dan Sunnah Muhammad”, bahkan bukan pula “Al Quran dan Hadits”.

Hadits Nabi tentang Sunnah Rosul itu menunjukkan bahwa sebenarnya yang dinyatakan Rosulullah itu adalah suatu keterangan yang bersifat universal. Karena “Kitabullah” itu bukan hanya Al Quran. Di zaman Rosul-rosul dahulu pun ada Kitabullah. Bahkan menurut pengertian yang lebih hakiki, yakni Kitabullah yang sebenar-benarnya menurut “versi Allah”, adalah:

“Suatu bacaan yang mulia yang berada di Lauh Mahfudz, yang hanya mereka yang berstatus “Al Muthohharun” saja yang bisa mendapat akses kepadanya”.

Bukan yang ditulis atau dicetak dan ada pada semua orang, sehingga siapapun bisa melakukan apa saja terhadapnya.

Kemudian pada keterangan dari Rosulullah itu berbunyi: “Rosul-Nya”, bukan “aku” atau “Muhammad”. Kita semua tahu bahwa Rosul-Nya (Rosulullah) itu begitu banyak yang telah berlalu, dan orang-orang Mukmin wajib mengimani semuanya tanpa membeda-bedakan satu sama lainnya.

Demikian pula hadits tentang ulama. Rosulullah tidak mengatakan bahwa para ulama itu “pewarisku” atau “pewaris Nabi Muhammad”, melainkan pewaris Para Nabi. Berarti Para Ulama itu mesti mewarisi Misi Para Nabi secara keseluruan tanpa membeda-bedakan satu sama lainnya.

Memang tidak lantas menjadi salah jika “Sunnah Rosul” itu disebutkan dengan “Sunnah Muhammad”, kerena Muhammad itupun benar-benar Rosulullah. Akan tetapi pengertian “Sunnahnya” itu harus dijaga tetap benar dan lurus yakni “arah yang dituju” atau “jalan yang ditempuhnya”. Bukan bentuk-bentuk perbuatan yang dilakukannya.

Tentang hal ini Allah telah memberi petunjuk yang begitu jelas, gamblang dan terperinci, kemana Rosulullah menuju? Jelas sekali bahwa Rosululah diperintah Allah untuk mengikuti MILLAH IBRAHIM.

ثُمَّ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ أَنِ ٱتَّبِعۡ مِلَّةَ إِبۡرَٲهِيمَ حَنِيفً۬ا‌ۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِڪِينَ

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah Millah Ibrahim secara lurus dan konsekuen (hanif), dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. ( An-Nahl : 123)

Maka sungguh mustahil bahwa seseorang akan mengikuti Sunnah Rosul tanpa memahami apa itu MILLAH IBRAHIM.

Insyaallah pada posting berikutnya, kita bahas pengertian yang benar tentang MILLAH IBRAHIM.
Name

Dakwah Ilallah,12,Jalan Keselamatan,7,Jurnal Roqim,1,Kajian Lepas,42,Manhaj Risalah,12,
ltr
item
Ini Islam: Pengertian Sunnah Rosul
Pengertian Sunnah Rosul
https://1.bp.blogspot.com/-v8UiFTkOdZw/WNDffoJrQkI/AAAAAAAAAHY/ZLzPjGyzIV0A-FCLPRvc137JnsMttAX1gCLcB/s640/pengertian-sunnah-rosul.png
https://1.bp.blogspot.com/-v8UiFTkOdZw/WNDffoJrQkI/AAAAAAAAAHY/ZLzPjGyzIV0A-FCLPRvc137JnsMttAX1gCLcB/s72-c/pengertian-sunnah-rosul.png
Ini Islam
http://www.iniislam.net/2017/03/pengertian-sunnah-rosul.html
http://www.iniislam.net/
http://www.iniislam.net/
http://www.iniislam.net/2017/03/pengertian-sunnah-rosul.html
true
7017169815549685310
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy